De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon – 99

Episode 99
Fragmen Kedua
Perempuan-Perempuan Berani  Di Medan Pertempuran  Aceh


Pagi, ketika Nazila, Khadijah Zakia dan Belinda van Valkenburg yang kemudian berganti nama menjadi Aisyah Valkenburg dan pejuang-pejuang perempuan lainnya tengah memasak di dapur umum. Dapur itu tersuruk di sebuah gua agar tak menimbulkan kecurigaan kaphe-kaphe Belanda yang melihat asap mengepul dari tengah hutan, CutNyak Dhien memberi perbekalan kepada seluruh mujahidin dan mujahidah yang akan selalu siap bertempur.          

“Wahei prajurit mujahidin dan mujahidah Aceh yang kucintai, laki-laki itu adalah ibrat laying-layang dan perempuan adalah benang yang menjadi tumpuan dari layang-layang (laki-laki) itu terbang. Setinggi apapun laki-laki itu terbang, ia tak bisa tanpa ada benang yang menopangnya. Karena itulah, ketika kalian berperang dengan marsose kaphe-kaphe Belanda yang kesemuanya adalah laki-laki kaphe dari Ambon, lelaki kaphe dari Jawa, lelaki kaphe dari Manado dan sebagian dari nusantara lainnya, mereka itu adalah ibarat layang-layang yang dikendalikan oleh perempuan-perempuan yang ikut berjuang di seluruh Tanoh Aceh ini. Pejuang perempuan seperti  Cut Fakinah, Pocut Baren, Cut Meutia semuanya telah mempermainkan marsose-marsose kaphe-kaphe Belanda di medan peperangan. Mereka mampu bertahan demikian lama, karena memang perempuan memiliki kekuatan yang lebih diibanding laki-laki, apalagi jika diajak bertempur di medan perang, perempuan akan lebih tangguh dari pejuang laki-laki mananpun.” Ujar Cut Nyak Dhien memberikan semangat kepada anak buahnya.                      

“Tetapi pejuang laki-laki dalam pasukanku ini, juga memiliki kekuatan yang lebih karena kalian bekerjasama dengan perempuan Aceh yang terkenal tak kenal menyerah melawan kaphe-kaphe penjajah. Prajurit lelaki Aceh di bawah Teungku Cut Fakinah, di belakang Pocut Baren, di dalam kendali Cut Meutia adalah lelaki-lelaki yang lebih mampu menghabiskan tentara-tentara kaphe-kaphe Belanda dengan cepat, sigap dan tangkas. Karena mereka didukung oleh moralitas perempuan pejuang yang selalu bersama mereka (laki-laki Aceh) di medan tempur. Karena itu, perempuan pejuang di dalam kesatuan lasykar Cut Nyak Dhien ini selalulah kalian menjadi benang terbaik, kendalikan, permainkan dan hempaskan laying-layang yang telah kalian lepaskan terbang tinggi. Dan pejuang laki-laki akan membabat laying-layang yang terhempas itu dengan sekejap mata!” Tambah Cut Nyak Dhien.                      

“Pergilah kalian pagi ini berjuang, menyisiri hutan-hutan lebat di gunung Leuser yang terserak di banyak kampung. Ada Blangkejeren,  Bener Meriah, Penosan, Kedah di daerah Blang Jerango, Blang Lopah dan masih banyak lagi kampung-kampung di daerah Aceh Gayo dan Alas di kaki gunung Leuser ini. Jika jumpa marsose-marsose kaphe-kaphe Belanda, jangan kalian bernafsu ingin menghabisi mereka. Pertama kali berdoalah kepada Allah Swt, agar kalian mampu melacaknya, mengadakan strategi, mengepungnya dan kemudian menghabisinya seperti segerombolan hewan buruan yang hendak kalian kejar dan taklukkan!” Itulah ucapan Cut Nyak Dhien sebelum acara berakhir. Tak lama kemudian datang perempuan-perempuan dengan jilbab yang sangat rapid an ada yang bercadar menghidangkan sarapan pagi. Tak lupa pula mereka menyediakan kopi Aceh dalam gelas yang panas di udara pagi yang sangat dingin. Usai acara itu mereka pun menyebar dan mulai menyisiri hutan-hutan besar di kaki gunung Leuser, mengadakan perhitungan dan perlawanan terhadap kaum penjajah yang dilaknat Allah dari zaman dahulu sampai sekarang.                         

Cut Nyak Dhien pun ikut bergerilya menyisiri hutan-hutan lebat itu. Dan Cut Nyak berpesan, “Jika jarak satu pasukan kecil dekat dengan Cut Nyak, beri tahu kalau ada musuh yang hendak kita habisi!” Ujar Cut Nyak Dhien.  Tak berapa lama Cut Nyak Dhien sampai di sebuah lembah yang bernama Blang Bike Uken. Di atas pohon terdapat seekor siamang sedang bergelayutan bersama dua ekor anaknya. Mereka tak tahu bahwa di Aceh tengah terjadi peperangan hebat melawan kaphe-kaphe Belanda. Cut Nyak Dhien dan pasukan melewati lembah Blang Bike Uken dan tiga ekor siamang itu.

Cut Nyak kemudian turun ke arah selatan, menuruni ketinggian lereng Leuser menuju dataran yang agak rendah. Biasanya marsose-marsose itu hanya berada di hutan-hutan yang tak terlalu tinggi. Dan Cut Nyak Dhien dan pasukannya melihat  tiga orang marsose sedang menyelinap di sebuah rerimbun hutan. Cut Nyak Dhien meletakkan telunjuknya di depan bibirnya, tanda memerintahkan agar jangan berisik. “Ayo, kita kejar mereka, tapi hati-hati. Siapkan senapan dan kelewang sekalian!” maka berlari kecillah mereka menuruni lereng bukit. Tetapi mereka berusaha agar lari mereka terlalu kencang dan terdengar langkah-langkah mereka yang mencurigakan.  Cut Nyak Dhien melihat tiga marsose kaphe-kaphe Belanda itu semakin masuk dalam jarak tembak. Para marsose itu berpakaian seragam biru tua dengan tubuh tegap dan bersenjata bedil yang terselip di bagian pinggang di belakangnya.                              

Pasukan Cut Nyak Dhien makin mendekat, mereka juga memasang kuping kecurigaan kepada apa yang terjadi di sekitarnya. Tapi Cut Nyak DHien dan pasukannya bergerak lebih cepat, halus dan terukur. Beberapa penembak jitu menaiki pohon agak tinggi. Walaupun pohon itu ada yang dihuni oleh semut galak seperti semut Karanggo, atau semut angkrang yang cukup mengganggu, tetapi Abu Lam Gugop tak peduli, bagi Gugop semut besar yang berjumlah 3 orang itu lebih berbahaya dari semut pohon yang dipanjatnya. Agam Barô Na memanjat pohon yang lebih dekat dengan musuh, tapi dengan kehati-hatian yang tinggi, sehingga mereka tak melihat Agam Barô Na memanjat pohon durian yang cukup tinggi dan bersembunyi di balik cabang pohon yang cukup besar. Di bawah sudah siap sepasukan mujahidin dan mujahidah menyergap mereka dengan serangan-serangan kelewang dan rencong yang mematikan. Cut Nyak Dhien memerintahkan menembak jitu dulu dari atas pohon, setelah sasaran kena, maka pasukan serbu harus segera melakukan serbuan yang mematikan.                              

Maka terdengarlah letusan pertama dari Agam Barô Na dan seorang marsose tertembak di kepala dan ia tumbang. Dua orang lagi berlindung di balik pohon, namun satu orang kena tembak di bahunya. Tembakan itu dilakukan oleh Abu Lam Gugop. Usai menembak, mereka pun turun pohon dan ikut menjadi pasukan penyerbu. Pasukan penyerbu tak menyerang secara membabi buta, mereka melangkah pelan dan mengintip posisi dua marsose yang tengah bersembunyi. Terdengar tembakan dari marsose ke arah mujahidin, tapi desingan peluru hanya mengenai ruang kosong, dedaun yang dikenal peluru berlobang yang tergantung di udara dari ranting pohon. Lima mujahidin menyerbu serentak satu marsoise yang belum terluka. Ia membalas dengan tembakan pula. Seorang mujahidin tertembak di perutnya. Tapi marsose itu langsung terkulai layu terkena tembakan serentak mujahidin Aceh. Dan satu kelompok lagi mengejar marsose yang terluka di bahu. Marsose yang terluka itu tertangkap hitup-hidup, karena ia tak mampu melawan langsung dicincang habis oleh Agam Barô Na , Abu Gugop, Apa Gabuk, Apa Lambak dan Banta. 

Cut Nyak Dhien menyaksikan ketiga mayat marsose yang telah tewas. Dalam keadaan sehat dan tegap, Cut Nyak Dhien meneruskan gerilyanya di hutan daerah Gayo di kaki gunung Leuser itu. Ketika hari sore, mereka pun pulang ke markas terdekat dan bersembunyi di gua yang mereka jadikan sebagai rumah tinggal. (Bersambung)  

 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...