4 April 2020

De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon – 86

Episode 86
Fragmen Kedua
Perempuan-Perempuan Berani  Di Medan Pertempuran  Aceh

Teuku Chik Bugis adalah raja di Samalanga dan ia mendapat kuasa penuh dari Sultan Aceh untuk menjalankan pemerintahan. Namun Teuku Cik  Bugis menjalankan kekuasaannya ibarat raja otonom pula dan kekuasaan dilaksanakan oleh seorang perdana menteri. Perdana menteri itu adalah Pocut Meuligoe. Dalam menjalankan pemerintahan sehari-hari Pocut Meuligoe menerapkan peraturan yang ketat dan keras serta penuh disiplin. Setiap yang berjenis kelamin laki-laki dan di batas umur 14 tahun ke atas, wajib militer dibebankan kepadanya. Laki-laki yang mangkir akan dihukum. Pocut Meuligoe (baca: Pocut Maligai) lah yang memimpin perang menentang serangan massif Van der Heijden, dimana nasib Jenderal itu bermata satu adalah serangan anak buah Pocut Maligai yang menyusupkan seorang penembak jitu di balik pohon tak jauh dari jenderal Van der Heijden.
Seorang kapten kaphe-kaphe Belanda, menulis bagaimana kebencian dan ketidaksukaan Pocut Maligai kepada kaphe-kaphe Belanda yang datang-datang ingin menjajah, akal cerdik dan busuk mereka ditolak oleh Pocut Maligai dengan garangnya. Segala akalbulus kaphe-kaphe Belanda dijalankan. Dengan mengadudomba antara raja dan perdana menteri,lewat. Membujuk Pocut Maligai agar mau berunding dengan kephe-kaphe Belanda, lewat. Diberi iming-iming akan diangkat sebagai raja selamanya di Samalanga, asal mengakui kedaulatan kaphe-kaphe Belanda, juga lewat. Semua lewat dan tak ada yang menyangkut di kerongkongan Pocut Maligai.

Pocut Mueligoe (Maligai) adalah perempuan pemimpin pemerintahan yang berkuasa di Samalanga, mewakili saudaranya  Teuku Chi Bugis sejak tahun 1857. Pocut Maligai saat itu  menggantikan posisi Kejuruan Tjhi'. Pada awalnya Samalanga terbagi dua. Samalanga Barat dan Samalangan Timur. Samalanga Timur kemudian dikuasai Kejuruan Chi’ yang akhirnya jatuh kekuasaan itu ketangan  Teuku Chik  Bugis. Namun kemudian Samalangan Barat dan Timur disatukan dan Teuku Chik Bugis didaulata sebagai presiden (raja) dan Pocut Maligai sebagai Perdanana Menteri yang menjalankan kekuasaan sehari-hari.              

Beberapa tahun setelah serangan ke pantai Ceuremin gagal dan JHR Kohler tewas , rupanya kaphe-kaphe Belanda npecah air liurnya melihat  begitu majunya dan kayanya alam daerah Samalanga, saat itu Perdana Menteri, Pocut Maligai berusia muda belia tetapi kecerdasannya melebihi Panglima Tibang dan Al Habib Abdurrahman Az Zahir yang telah menjual Aceh denan hanya dengan beberapa ribu ringgit masuk ke kantongnya serta jaminan selama hidup untuk Habib Abdurrahman Az Zahir alias Habib Itam yang pulang kampung ke negeri Yaman, tanah asalnya. Begitu busuk dan piciknya pikiran dan jiwa dua orang petinggi Aceh yang sangat disegani waktu itu.

Pocut Maligai, walaupun masih berusia muda dan mungkin saja masih dipandang anak-anak, tetapi inilah anak Aceh yang sangat bertanggungjawab, berpikir dewasa dan tak pernah tergiur iming-iming kaphe-kaphe Belanda untuk hidfup enak dan dengan jaminan materi dan keamanan. Pocut Maligai bukan tipe manusia seperti itu.              

Dengan  mewajibkan setiap pria turun  gelanggang Perang Sabil, Pocut Maligai sangat pantas menjadi ikon pahlawan nasional yang tak pernah gentar kepada pihak penjajah, dan Samalanga dapat bertahan sedemikian lama dan berdikari dalam kekuatan sendiri. Mungkin inilah yang ditiru mendiang Presiden Soekarno yang ingin mandiri di atas kaki sendiri, dan melewati semua kekuasaan presiden setelahnya, mulai presiden Soeharto sampai presiden Joko Widodo. Mereka-mereka yang mencanangkan hidup di atas telapak kaki bangsa lain, dan bermunculanlah “cuak-cuak” yang siap menjual Negara ini kepada asing. Mungkin di antara Soeharto sampai Joko Widodo, hanya dua presiden yang patut diacungkan jempol, yang mungkin sama dengan Pocut Maligai dalam ketegarannya, yaitu Presiden Habibi dan Abdurrahman Wahid.Selebihnya adalah kacung-kacung asing yang membiarkan negeri ini dimasuki maling-maling, baik maling bangsa sendiri apalagi maling luar negeri. Termasuk mantan presiden Megawati, yang anak kandung presiden Mandiri dan berdikari, Presiden Soekarno.               

Suatu hari pihak kaphe-kaphe  Belanda mengutus tim perunding .  Tim itu menemui raja Teuku Chik Bugis dan perdana menteri Pocut Malgai.
“Tuan raja Teuku Chik Bugis, kami tim perunding yang diutus oleh kerajaan Hindia Belanda yang berpusat di Batavia, untuk membicarakan hal-hal menyangkut kedaultan tuan dan kedaulatan kami.”                 

Belum  usai utusan itu berbicara, Teuku  Chik Bugis sudah  berkata:”Kalian pulang sajalah, saya tak suka dengan car-cara kalian yang penuh tipuan untuk menguasai negeri orang. Pada akhirnya perampokan, itulah yang kalian maui dan kalian tuju dengan apapun yang namanya perundingan, persetujuan, perjanjian  dan  persahabatan. Kalian adalah bangsa jahat, licik dan tak patut dipercaya. Jika kalian tak pergi dari sini, aku akan usir kalian dengan paksa.” Ujar Teuku Chik Bugis.                

“Oh, ampun tuanku, maaf, kami mengerti. Maafkan kami. Maatkan kami!” Ujar seorang utusan itu sambil terbirit-birit melangkahkan kaki dari  halaman istana raja Teuku Chik Bugis. Sepasukan kerajaan Samalanga sudah siap menyerang mereka, jika mereka membangkang dan menolak permintaan rajteuku Chik Bugis.                 

Tapi seminggu kemudian, sebuah tim perunding datang lagi ke istana perdana menteri, Pocut Maligai. Yang diutarakan mereka sama, tak lebih tak kurang  ucapan bibir sebagaimana mereka ungkap di istana Teuku  Chik Bugis sebelumnya. Dengan gagahnya Pocut Maligai berkata sambil mengusir tim perunding itu dengan menunjuk kea rah keluar dari istana:

“Silahkan tuan-tuan keluar dari sini. Kalau tuan mau menipu kami, lebih baik melawan kami dulu di medan perang. Silahkan datang dan kita saling berperang. Jika kami kalah, barulah kalian datang ke sini. Dan itu sangat pantas untuk dilakukan, berunding dan membuat perjanjian!” Ucap Pocut Maligai.”                 

Begitulah hasilnya, utusan kaphe-kaphe Belanda tak berkutik dan tak mampu mengadakan pendekatan seperti apapun. Samalanga adalah kedaulatan Samalanga, kedaulatan kaphe-kaphe Belanda tak pantas ditanamkan dan didudukkan di Samalanga.

Terpaksalah utusan tim perundingan itu menarik air liurnya  yang sudah menetes di bibir mereka. Sebuah air liur yang suka melihat yang haram-haram dan sebenarnya tak pantas dimiliki mereka, tetapi mereka dengan segala cara mencoba menaklukkannya. Seperti perampok yang berlaku bijak, tetapi pada akhirnya, sikap baik mereka hanyalah rumbai-rumbai, alias bunga-bunga yang akan lenyap dengan sendirinya. Rumbai-rumbai alias- bunga-bunga itu akan digantikan oileh sifat mereka yang sesungguhnya, yaitu sikap kasar, zalim dan langsung merampok dengan kekerasan.

Gagal dalam mengutus tim perunding, kaphe-kaphe Belanda mencoha menghasut  Teuku Muda sebagai ahli waris wilayah Samalanga, bahwa seharusnya Teuku Mudalah yang berkuasa dan menaiki tampuk kekuasaan di seluruh Samalanga. Tetapi apa jawaban Teuku Muda:”Udah pergilah kalian ke negeri kalian. Pulang kampung ke negeri kalian yang penuh lumpur, masyarakatnya berpandangan picik, suka mengadu-domba dan ditimpa kemiskinan lebih baik bagi kalian daripada  menjarah negeri orang yang sangat jauh seperti Samalanga. Bangunlah negeri kalian yang miskin itu dengan hasil kerja yang halal saja!” Ujar Teuku Muda kepada pengadudomba kaphe-kaphe Belanda busuk itu.Dan itu terjadi pada titimangsa 1874, setahun setelah kegagalan JHR Kohler mati konyoil di bawah pohon Gleumpang di Banda Aceh.        

Sebuah pekerjaan dan sifat-sifat yang mungkin akan terus mereka ulang di setiap negeri yang mereka datangi dan duduki, yang akhirnya di negeri yang diduduki itulah mereka memeras dan merampok dan hasilnya dibawa ke negeri mereka membangun masyarakat mereka yang terbelakang, harkat dan martabat mereka masih di bawah derajat kemanusiaan. Jauh berbeda dengan masyarakat di Aceh, dimana harga diri, mencari harta benda yang halal dengan berdagang dan bekerja keras sangat dihargai dengan [enghargaan yang  tinggi.                   

Pupuslah harapan kaphe-kaphe  Belanda  menguasai kerajaan Samalanga. Maka seperti diterangkan di atas, mereka adalah perampok-perampok yang sopan mencoba membujuk-rayu Teuku Chik Bugis dan Pocut Maligai. Jika dengan cara sopan mereka tak menemui jalan keluarnya, maka sifat aslinya akan muncul untuk memperoleh apa yang mereka inginkan.   Kaphe-kaphe Belanda akhirnya mengirim tiga kolone (tentara-tentara busuk yang haus darah)  ke Samalanga. Seperti  drakula-drakula Eropa yang bertaring tajam, tiga kolone itu  dipimpin oleh  Van der Heijden. Sebelumnya Van der Heijden bekerja sebagai bawahan gubernur  Kutaraja. Dan ia (Van der heijden) berkantor di Kuitaraja dan  Aceh Rayeuk  (Aceh Besar). (Bersambung)

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...