16 August 2018

De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon – 77

Episode 77

Fragmen Kedua
Perempuan-Perempuan Berani  Di Medan Pertempuran  Aceh

Syekh Alfonso, sudah lama tak memberi taushiyah kepada para mujahid-mujahid Tanah Perlawanan. Dan kali ini Syekh al-Fonso memberi taushiyah kepada para mujahidin di bawah kepala suku perang, Teungku Fakinah. Langsung saja Syekh Al-Fonso malam itu memberi taushiyahnya dengan gamblang dan langsung serta bahasa yang lancar mengalir: “Pernah Ibn Mas’ud bertanya pada Rasulullah, “Ya Rasululullah, apakah datangnya hari kiamat disertai tanda-tanda ?” Rasulullah Saw menjawab: “Ya, betul Ibn Mas’ud.”

Apa saja tanda-tanda itu ya rasulullah?” Maka Rasulullah menjawab dengan panjang lebar. Di bawah ini, akan sayakutip tanda-tanda yan menurut saya (syekh Al-Fonso sesuai dengan kondisi kita di Aceh ini.

“Jadi kita sebagai Muslim harus mengetahui tanda-tandanya. Ada banyak tanda-tandanya.” Kata Syekh Al-Fonso. Di antaranya adalah:

1.Banyaknya pengkhianat dan banyak pula orang yang percaya kepada para pengkhianat. Orang yang dapat dipercaya dianggap sebagai pengkhianat. Orang yang benar akan dianggap sebagai pendusta dan seseorang yang menceritakan kebohongan dianggap sebagai orang yang benar.

2.Banyak orang yang memutuskan tali silaturahim. Banyak orang-orang yang tadinya berjuang di pihak yang benar, dipihak saudara-saudaranya sesama bangsa Aceh, tiba-tiba berbalik menjadi kaki tangan kaphe-kaphe Belanda..

3.Orang-orang munafik akan berkuasa.
Orang-orang munafik, yang tadinya berada di tengah bangsa Aceh, tiba-tiba diangkat kaphe-kaphe Belanda menjadi penguasa seperti kejruen (kepala Desa), Uleebalang,

4.Orang-orang yang berperangai buruk mengendalikan perdagangan. Banyak saat ini orang-orang tak berakhlak mengendalikan perdagangan di Tanah Aceh ini. Tadi para uleebalang, para ulama, para pedagang masuk Aceh dan berdagang dengan baik, penuh etika dan saling pengertian. Sejak kaphe-kaphe Belanda masuk ke sini, para pedagang seperti mau merampok saja, mereka lupa berdagang itu haruslah menjauhi sifat rakus dan mau menang dan untung sendiri.

Hanya empat itu tanda-tanda kiamat yang disebut oleh Sykeh Al-Fonso dan setelah itu, para mujahid dan mujahidah terlibat dzikir bersama dengan mengeraskan suara di tengah hutan sunyi dan sepi. Di antara hampir 500 orang penghadir di pengajian Syekh Al-Fonso, terdapat 134 prajurit di bawah pimpinan Cut Fakinah. Seperti biasa, prajurit-prajurit Perang Sabil di bawah pimpinan Teungku Cut Fakinah, pun membacakan syair-syair perang sabil dengan gagahnya, penuh semangat dan dengan gairah berapi-api dan bergetar.

Maka pagi-pagi sekali Teungku Cut Fakinah membawa para prajuritnya mengitari hutan-hutan di Cot Piring, Cot Raya, dan Cot Ukam. Bahkan Teungku Cut Fakinah mengitari hutan-hutan lain yang jauh dari tiga markas utamanya itu.

Di pagi yang dingin, mujahidin di bawah pimpinan Cut Fakinah bertemu dengan segerombolan pasukan marsose. Pertempuran tak bisa dihindarkan, empat orang marsose itu pun bertempur dengan 15 mujahidin pengikut Teungku Cut Fakinah. Kelewang lawan kelewang marsose, rencong beradu rencong dan bedil tak terpakai sekalipun. Karena marsose itu memang terlatih dan tangkas, pertempuran itu berlangsung lama, hingga seorang anak buah Teungku Cut Fakinah, melakukan azan di tengah hutan, di tengah pertempuran yang sengit dan kecut nyali melihat hebatnya perjuangan para mujahidin Tanah Perlawanan. Di saat azan berkumandang dengan getaran yang demikian khusyu’ dan menghimbau para mujahidin untuk bertahan dan melawan, seorang marsose jatuh karena tertusuk kelewang prajurit mujahidin Teungku Cut Fakinah. Ketika ucapan azan berakhirmdengan kalimat Laa-ilaaha Illallah, keempat prajurit marsose oitu tumbang, lima prajurit mujahidin Teungku Cut Fakinah pun syahid. Lima orang luka-luka dan selebihnya tak kurang suatu apa.

Teungku Cut Fakinah sendiri yang memimpin langsung pertempuran itu, hanya lecet-lecet ringan. Bagaimana pun dan sehebat apapun pasukan marsose bila berhadapan dengan perempuan cantik seperti Teungku Cut Fakinah, semangat juangnya akan sangat berkurang, disbanding mereka melawan pasukan mujahidin-mujahidin  Tanah Perlawanan yang terdiri dari laki-laki.

Rupanya pengajian dan taushiyah Syekh Al-Fonso xsemalam memberikan amunisi yang luarbiasa bagi mujahidin-mujahidin anak buah Teungku Cut Fakinah. Maka mereka kumandangkan azan, agar perlawana n kaphe-kaphe Belanda dari pasukan marsose itu hancur – lebur dan takluk di bawah ketangkasan pasukan fi sabilillah di bawah pimpinan Teungku Cut Fakinah.                

Siapa Tengku Cut  Fakinah?  Teungku Cut Fakinah adalah anak Teungku Datuk atau dengan nama lain Tengku Asahan. Teungku Cut Fakinah berasal dari kampung Lam Beunot (Lam Taleuk) mukim Lam Kerak VII mukim Bae’t, segi XII Aceh Besar. Pda titimangsa 1856  Teungku Cut Fakinah dilahirkan dengan selamat dan sehat. Tempat kelahirannya dikenal dengan kampung La Diran, berjarak sekitar 15 kilometer dari Kutaraja, atau Banda Aceh sebelum direbut kaphe-kaphe Belanda.  Sejak  kecil Teungku Cut Fakinah dididik dengan ilmu agama dan keterampilan seperti menjahit dan merajut kain sutera.

Marilah kita ikuti bagaimana  Teungku Cut Fakinah bertempur dengan sengit, gagah berani dan tak takut mati. Inilah Tengku Cut  Fakinah, perempuan yang ikut memanggul senjata bersama kaum lelaki demi menghancurkan penjajah. Perempuan Aceh bukanlah perempuan yang manja dan hanya mau di rumah. Mereka adalah seperti perempauan-perempuan yang berada di samping Rasulullah Saw seperti Fathimah Azzahra, Siti Khadijah, Siti Aisyah, Maria Al-Qibtiyah, Sirin, Haritsah Ibn al-Nu’manm , Hafsha dan banyak lagi. Demikianlah halnya perempuan-perempuan Aceh zaman itu, penuh semangat yang suci untuk lepas bebas dari belenggu kaphe-kaphe Belanda. Katanya mau memajukan Aceh, tapi nyatanya menipu. Yang mereka majukan dari Aceh hanya sedikit, tapi yang mereka keruk dari bumi Aceh di bawah penjajahan nantinya, (Jika Aceh takluk) , sangat banyak dan tak terhitung jumlahnya. Belum lagi kehormatan anak-anak perempuan Aceh yang akan mereka nodai dengan dalih menyebarkan kemajuan dan demokrasi.

Inilah sosok yang multi talenta, perempuan yang memiliki banyak peran, cerdas dan berhasil menggerakkan para pejuang di medan perang Fi Sabilillah dengan gagahnya. Bukan dengan cantiknya, karena kecantikan hanya perlu di depan kaca, di panggung dan di dalam peran pura-pura seperti sinetron dan sandiwara. Teungku Cut Fakinah adalah  seorang istri, tapi juga  seorang guru yang mendidik anak-anak masa depan di Dayah. Selain itu, Teungku Cut Fakinah juga kepala sekolah atau pemimpin Dayah dimana anak-anak menimba ilmu untuk belajar dan menata serta mendidik diri. Tetapi teungku Cut Fakinah juga seorang panglima perang, atau kepalasuku Perang Sabil di medan ganas pertempuran Aceh tanah Perlawanan. Dalam banyak pertempuran dan gejolak penaklukkan kaphe-kaphe Belanda  dan gejolak penolakan dan pembelaan diri dari penjajahan kaum kafir, Teungku Cut Fakinah sering berada di garis depan, memimpin langsung pertempuran demi pertempuran. Teungku Cut Fakinah yang akrab dengan Cut Nyak Dhien dan banyak pejuang perempuan Aceh ini, begitu hebatnya kekuatan tempurnya dan semangat perlawanannya, di tengah banyak para ulama yang disindir almarhum Cik Ditiro telah termakan  oleh dunia.
Begini salah syair almarhum Ulama Cik Di Tiro:

Ija puteh la puteh geusampoh darah
Ija mirah...ya Allah geusampoh gaki
Rupa geuh puteh la puteh sang sang buleuen trang di awan
Wat tapandang...ya Allah seunang lam hatee...

Darah nyang ha-nyi nyang ha-nyi gadoh di badan
Geuganto le tuhan...ya Allah deungan kasturi
Di kamoe Aceh la Aceh darah peujuang-peujuang
Neubi beu mayang...ya Allah Aceh mulia...(Bersambung)

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


loading...