De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon – 54

Episode 54
Fragmen Pertama
Teuku Umar, Pejuang Bersiasat Kancil

             

Dimana-mana kaphe-kaphe Eropa itu menjejakkan kakinya selalu mendapat perlawanan sengit dan keras.  Di Afrika utara, kelompok teroris perampok harta kekayaan umat manusia terbesar di dunia ini mendapat perlawanan besar. Kaum Sanusiyyah maju ke depan dan menghadang mereka di Libya, di Aljazair, di Somalia sampai ke Maroko. Di Asia, mulai dari Afghanistan, India, Birma, Malaya sampai Hindia Belanda dan Filipina juga tak kurang keras dan hebatnya perlawanan rakyat di masing-masing Negara tersebut. Di Asia timur, mereka pun menjarah di negeri Cina, dan membuat koloni di Makao (Macau), di Hongkong dan di daerah-daerah yang dapat mereka kuasai. Orang-orang Barat itu benar –benar Setan yang menjelma ke dunia ini. Mereka mengumpulkan candu, minuman keras (alcohol), rokok, mariyuana untuk merusak generasi di setiap negeri yang akan mereka incar dan kuasai. Tak lepas dari Aceh juga demikian. Namun anak-anak muda Aceh sudah sangat lama mengenal barang-barang haram dan tak berguna bagi kehidupan manusia itu.

Si Kancil, juga dibujuk agar menyebarkan candu dan alkohol ke rakyat Aceh, namun Umar hanya tersenyum-senyum saja ketika ia bergabung dengan kaphe-kaphe Belanda. Teuku Umar tak terbujuk sedikitpun untuk menyebarkan barang-barang haram itu. Barang yang dipakai setan-setan Barat (Spanyol, Portugis, Inggris, Belanda, perancis dll) untuk menghancurkan dan menaklukkan suatu neheri dengan cepat.              

Tak kurang 2000 pasukan Teuku Umar, si Kancil yang cerdik dan berotak belut ini, melewati Teunom. Teuku Umar dan pasukan bergerak dari Teunom ke Meulaboh. Segala yang bergerak, segala yang dilewati, segala yang hidup seakan memberi hormat dan kagum kepada panglima perang Aceh Barat ini. Dalam waktu sekejap Meulaboh bergolak, karena mereka tiba-tiba disergap pasukan van Heutz yang bersembunyi di balik benteng Krueng Meureubo. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, pasukan Teukur Umar dalam jumlah dua ribu orang diserang tembakan yang menggelegar dan mencecar sebagian kecil pasukan Teukur Umar yang syahid karena tertembak.

Dengan serentak, seluruh pasukan tiarap dan sebagian melarikan diri ke tempat-tempat perlindungan di daerah rawa-rawa di Krueng Meureubo. Dan mulailah masing-masing pasukan memasang strategi, bertahan atau menyerang. Sebagian pasukan Teukur Umar yang membawa bedil, membidik prajurit-prajurit kaphe-kephe Belanda dan menjadikan beberapa orang tewas. Tembakan berbalas dari pasukan kaphe-kaphe Belanda, beberapa pejuang Aceh pun terkena dan luka-luka di bahu. Tak sabar melihat kaphe-kaphe belanda pengecut yang lama bersembunyi  di balik-balik batu-batul gunung yang besar di pantai meulaboh dan juga di balik semak-semak, 50 pasukan Teuku Umar menyerang dari belakang dan terjadi tembak-menembak yang begitu sengit.Puluhan manusia tumbang terkena tembakan, namun pasukan Teuku mendekatkan jarak dengan pasukan kaphe-kaphe Belanda keparat itu. Dan terjadilah pertempuran satu lawan satu. Popor senjata menari-menari dengan ujung rencong dan kelewang. Para mujahid Aceh pun menari-nari dengan gaya silat Aceh yang terkenal lentur dan gerakan-gerakannya cepat dan menipu pasukan kaphe-kaphe Belanda itu.Dalam waktu sekejap, pasukan-pasukan Kaphe-kaphe Belanda itu pun lumpuh.

Mendapat kemenangan yang gemilang, pasukan Teuku Umar yang lain pun mencari inisiatif menyerang dan menghancurkan kaphekaphe Belanda dari garis belakang. Semua pasukan kaphe-kaphe Belanda pun kocar-kacir dan sisanya melarikan diri yang dikejar-kejar pasukan mujahidin Aceh. Malang tak dapat ditolak, untuk tak mampu diraih, semua pelarian kaphe-kaphe Belanda itu dapat menyelamatkan diri, dan pasukan Teuku Umar hanya letih dan sia-sisa saja mereka mengejar.              

Almarhum Cik Ditiro pernah mengatakan: Cara-cara kaphe-kaphe Belanda mencari harta kekayaan ke seluruh dunia (termasuk kaphe Inggris, kaphe Perancis, kaphe Italia dlsb) adalah sesuatu yang aniaya, besar dosanya melakukan penjajahan dan pemerasan negeri-negeri lain yang bukan haknya.           

Di akhirat kelak akan dimintakan pertanggungjawaban yang keras dan adil terhadap perilaku itu. Dan kita sebagai bangsa Aceh dan umat Islam dimana pun berada, wajib menolak penjajahan dan perampokan seperti itu. Karena demikian hebatnya hak Allah atas anugerah-Nya terhadap tanah yang dimiliki masing-masing bangsa, sampai-sampai Cik Ditiro pun pernah mengatakan:          

”Walaupun Tanah Perlawanan ini tinggal sebesar nyiru (penampi beras), setiap bangsa Aceh wajib mempertahankannya!”. Dan itu bukan pendapat seorang pendeta Kristen, Katolik yang telah lumpuh kekuasaannya atas dunia, pendeta hanya berhak atas sekeping tanah di gereja. Di sanalah mereka berhak menegakkan hukum agama, di luar itu agama tidak berlaku. Tapi cik Ditiro bukanlah pendeta. Dia adalah ulama  yang dipandang sahih sebagai ulama akhirat. Ulama waratsatul anbiya. Cik Di Tiro adalah ulama pewaris nabi.              

Bila dalam Islam seorang ulama digelar sebagai ulama akhirat, maka hukum yang berlaku bukan akhirat yang menurut kekuasaan kaum sekuler di Barat, kekuasaan pendeta dan gereja dikanalisasi (Dibatasi hanya sebatas gereja dan halamannya). Dalam Islam kanalisasi agama adalah sesuatu yang mustahil, Cik Ditiro adalah ulama akhirat, maksudnya ulama yang jika telah disebut sebagai ulama akhirat, maka dunia yang menjadi hanya sekadar bayang-bayang akhirat ini adalah tanah wilayah kekuasaannya juga secara mutlak. Bukan dengan pengertian ulama akhirat, Cik Ditiro hanya berhak hidup di akhirat, di dunia tak ada bagiannya. Itu, tidak ada dalam agama Islam, sultan menguasai dunia, dan Tuhan menguasai akhirat. Begitulah motto apa yang telah berlaku di Eropa yang datang merusak bangsa-bangsa merdeka di seluruh dunia.

Dan ulama dunia dan akhirat seperti ini tidak takut siapapun, kepada bangsanya sendiri, apalagi kepada bangsa asing. Kata dan perbuatannya tidak berbeda sedikitpun. Ulama  akhirat adalah ulama yang sebenarnya ulama, jika akhirat telah menjadi tanggungjawabnya, maka dunia ini lebih lagi menjadi tanggungjawab ulama tersebut. Untuk mempertahankan tanggungjawabnya terhadap dunia ini, tiada harganya bagi ulama tersebut harta, anak, kekuasaan, bahkan nyawa sekalipun akan dipertaruhkannya untuk mempertahankan yang hak (benar) atas yang batil (salah). Namun di dunia Barat (eropa), pemuka agama banyak yang bekerjasama dengan penguasa dunia (umara), untuk berbuat kejahatan. Bahkan tanpa bergabung dengan umara (pemimpin dunia) pun, para pemuka agama pun sudah melakukan kejahatan, seperti yang pernah berlaku dalam Perang 30 tahun antara Perancis dan Jerman, serta perang 100 tahun antara Inggris dan Perancis. Semua perang itu bermotif agama dan pemimpin dan pemuka agama bahu-membahu dalam melanggeng kejahatan perang. (Bersambung)

 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA