De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon – 46

Episode 46

Fragmen Pertama

Pemikir Kaphe Snouck Hurgronje Dibantu Ulama Pribumi     

Rakyat Banten begitu gembira menerima hadiah dari Sultan Banten, yaitu Sawah Ganjaran, atau lebih dikenal lagi sebagai “Pusaka Laden”. Dengan diperolehnya hadiah “pusaka Laden”, maka rakyat Banten yang sebelumnya tidak memiliki tanah, kini menjadi pemilik tanah. Tanah yang dihadiahi sebagai Pusakat Laden bisa berbeda-beda luasnya. Tanah-tanah itu diberikan kepada rakyat biasa masing-masing sebanyak 4 hektar, yang bisa disebut “Sawah Ganjaran atau Pusaka Laden itu.  Jika sultan memberikan kepada anak atau istri-istrinya yang sah, yang bernama “Kawargaan”, tanahnya  seluas 10 sampai 15 hektar. Bila sultan berkenan memberikan kepada anak-anak dan selir-selirnya, tanah yang berluas 10 hektar itu disebut “Kanauyakan. Dan jika sultan berkenan pula memberi hadiah tanah kepada para pejabat yang memerintah di masanya, sultan menganugerahkan tanah seluas 5 sampai 8 hektar, yang disebut “Pangawulaan.

Maka dengan tanah-tanah pembagian pusaka dari sultan Banten tersebut, maka rakyat Banten menjadi bahagian, kemakmuran segera tercipta karena kehidupan yang saling kasih-mengasihi antara rakyat, pejabat dan sultan sebagai penguasa tertinggi.

. Pada tahun 1808, Pulau Jawa berada di bawah kekuasaan Daendels, termasuk Banten, dikuasai oleh Daendels. Dalam sekejap, ketika Daendels mencengkeram pulau Jawa secara khusus dan Hindia Belanda secara de facto, Daendels memutuskan untuk membuat jalan raya dari Anyer (Banten) sampai Panarukan (Jawa Timur). Jalan itu adalah jalan terpanjang di seluruh Hindia Belanda, yaitu 1000 kilometer. Untuk membangun jalan raya yang dikenal sebagai Jalan Raya Pos (Grote Postweg), maka diberlakukan sistem wajib kerja (Sistem kerja Paksa). Daendels yang gila hormat, gila kuasa, orang yang bila mempunyai keinginan, bagai harus segera dilaksanakan menjadikan ia dijuluki rakyat sebagai “Tuan Besar Bledeg”. Dalam sekejap, kepemilikan tanah yang dianugerahi sultan kepada seluruh rakyatnya (baik istri, anak-anak, para pejabat dan rakyat jelata) dihapuskan. Terhadap kepemilikan Negara terhadap tanah rakyat Banten tersebut, terdapat ketidakpuasan rakyat yang tidak diketahui Daendels. Inilah yang akan menjadi bumerang bagi kekuasaan kaphe-kaphe Belanda hampir 100 tahun  ke depan. Yang dikenal dengan Pemberontakan Banten

Pada tahun 1811, Inggris datang ke Hindia Belanda, dan para raja dan sebagian rakyat menjadi simpati kepada Inggris. Dua tahun sebelumnya Daendels sudah ditarik dari Jawa dan digantikan oleh Jansen sebagai penguasa tertinggi Hindia Belanda. Inggris dengan cepat menguasai pulau Jawa dan di tahun itu juga terjadi perjanjian dan penyerahan kekuasaan Belanda kepada Inggris di Tuntang. Dekat Semarang, Jawa Tengah.

Pada masa Inggris yang dipimpin oleh Gubernur Jenderal Raffless,  rakyat agak merasa tenang dan senang. Karena kebijakan Raffles sangat jauh berbeda dengan kebijakan Gubernur Daendels dan Jansen. Namun kebijakan Inggris yang cukup melegakan itu hanya sementara, dan sementara itu Aceh pun meredakan tanpa diketahui apa yang tengah terjadi di pusat kekuasaan di Batavia. Namun hanya sebentar, kaphe-kapbe Belanda kembali masuk ke Batavia, karena terjadi perjanjian pertukaran antara Bengkulu yang dikuasai Inggris,  dengan Singapura yang dikuasa kaphe-kaphe Belanda. Setelah pertukaran itu, pertempuran di Aceh berkobar kembali.

Pemberontakan 1888 adalah pemberontakan yang dilakukan oleh para petani di daerah Banten. Pada abad 19 Banten merupakan pusat pemberontakan yang keras yang terjadi secara secara sporadis dan kecil-kecil. Cukup alasan untuk menamakannya sebagai persemaian kerusuhan yang terkenal pada 1888. Dalam pengamatan daerah Jawa khususnya - Banten adalah daerah yang paling rusuh sejak dulu, demikian catatan penjajah kaphe-kaphe Belanda terhadap daerah di bagian paling barat pulau Jawa itu. Banten susah sekali diatur, Banten sulit ditata menurut kemauan penjajah kaphe-kaphe Belanda. Pemberontakan terbesar 1888  tidaklah panjang, bahkan berlaku dalam waktu yang sangat singkat antara tanggal 9 Juli sampai 30 Juli. Namun pemberontakan ini memakai agama sebagai kedok. ujar seorang pejabat Belanda di Cilegon dan Rangkasabitung. Namun banyak pula pengamat yang mengatakan bahwa pergolakan di Banten adalah  akibat masuknya perekonomian barat yang tidak diinginkan para petani. Selain itu pengawasan politik yang sering  merongrong tatanan masyarakat tradisional sering meresahkan. Sehingga  bukan hanya para petani yang berada dikalangan bawah, akan tetapi juga para petani dikalangan atas yang gerah. Akan tetapi justru pergolakan itu lebih banyak disulut oleh para ahli agama daripada golongan petani, Pemberontakan memang dipimpin oleh para ulama, seperti Haji Abdul Karim, Haji Tubagus Ismail, Haji Wasid. Haji Abdu Karim yang merupakan seorang ulama yang besar dan terkenal karena seorang yang menonjol dalam hal keagamaan. Pemberontakan kebanyakan dipimpin oleh kalangan atas yang ada di pedesaan dan kaum elite agama serta kaum bangsawan, mereka para pemimpin pemberontakan sebagai sarana untuk mengungkapkan keinginan para petani dan untuk menyalurkan kekuatan kaum petani. Inilah yang dipandang kaphe-kaphe Belanda sebagai kedok.

Sementara itu di Tanah Aceh, tanah yang agaknya menginspirasi para petani dan ulama Banten mengadakan perlawanan pula, untuk pemberontakan 1888 (tetapi tidak untuk pemberontakan kecil-kecil yang sering terjadi sejak 1800) pertempuran baru belum lagi dimulai. Cik Ditunong lolos dari kepungan kaphe-kaphe Belanda, dan menyisakan beberapa pengikutnya yang luka-luka dan perlu amunisi baru berupa pemuda-pemuda yang kukuh pada perjuangan mempertahankan Aceh dan mengembangkan kemerdekaan yang berada di bawah kekuasaan bangsa sendiri. Tapi hari demi hari, kekuatan yang dimiliki bangsa ini, untuk menegakkan kekuasaan itu semakin lama swmakin berkurang. Namun cukup mengejutkan, kecemasan semacam itu tiba-tiba pupus dari harapan bangsa Aceh. Seakan kekuatan itu benar-benar pupus, tetapi tiba-tiba seseorang pemimpin baru yang membawa beratus-ratus bahkan beribu pengikut. Lalu menyerang pos-pos kaphe-kaphe Belanda dan menewaskan sebagian besar penjaga pos-pos itu.

Beberapa utusan selalu datang kepada Cik Ditunong dan istrinya, : mereka barangkali cuak-cuak (pengkhianat-pengkhianat) yang  memihak kaphe-kaphe Belanda. “Cik Ditunong, cobalah menyerah kepada Belanda, niscaya Tuanku akan dianugerahi jabatan dan uang jaminan hidup setiap bulan!” ujarnya.

Belum selesai ia berujar, kelewang Cik Ditunong keluar dari sarungnya dan orang yang disebut cuak (pengkhianat) itu lari terbrit-birit. “Berapa gulden kau dibayar untuk menghentikan perjuanganku!” Teriak cik Ditunong kepada orang yang telah menghilang dari pandangan matanya.  (Bersambung)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA