19 June 2018

De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon – 14

Episode 14

Fragmen Pertama

PRAKTEK KONSENTRASI LINI KAPHE-KAPHE BELANDA

10

DI TENGAH semangat perang sabil yang begitu hebat, terjadi pertempuran di tengah keramaian di Banda Aceh. Konsentrasi linie sudah mulai ditinggalkan, karena tidak populer. Para pemuka adat dan ulama mengatakan bahwa kaphe-kaphe Belanda sudah kehabisan akal untuk melawan Aceh. Dalam setiap pertempuran kaphe-kaphe Belanda selalu kalah dan kalah. Semangat perlawanan mereka bagai sebuah tapai yang lembek tak bersemangat. Sedangkan para mujahidin Aceh bagai banteng yang mengamuk dan sulit dihindari amukannya yang tak diragukan lagi akan menghancurkan lawannya jika lawannya berani menghadapinya.

Sementara itu, Belanda mempunyai peraturan baru, yaitu untuk menghambat penyelundupan senjata, Belanda menutup pelabuhan Ulhe Lheu di pantai utara Aceh. Peraturannya begini, seluruh pantai utara wilayah Aceh, dilarang untuk kegiatan ekspor – impor, penangkapan ikan . beberapa pelabuhan terbuka untuk orang Aceh, yaitu Ulhe Lheu, Samalanga, Sigli dan pelabuhan Lhok Seumawe. Dan terakhir armada Belanda akan diperkuat oleh armada lain agar tak terjadi penyelundupan senjata bagi pejuang-pejuang Aceh. Dengan kata lain, kaphe-kaphe Belanda  mengadakan blokade terhadap pergerakan mujahidin-mujahidin Aceh. Tetapi bukan bangsa Aceh namanya, jika dihambat di satu pantai mereka akan kehilangan akal untuk bergerak di pantai lainnya. Bagi bangsa Aceh, seluruh permukaan bumi ini bukan milik kaphe-kaphe Belanda, tapi milik Allah yang dibebaskan bagi siapapun untuk memanfaatkannya untuk tujuan mereka.

Setiap ganti Gubernur Jenderal, berubah pula peraturan pemerintah kaphe-kaphe Belanda di Kutaraja. Tatkala Gubernur Jenderal Deykerhoff berkuasa di Kutaraja (1890), setelah usai perang gerilya yang sengit dan Konsentrasi Linie tak lagi laku dijual kepada pejuang-pejuang Tanah Perlawanan, Deijkerhoff  mendekati para uleebalang, kaum bangsawan, pedagang dan kaum adat untuk menarik perhatian agar bangsa Aceh tidak mengadakan perlawanan kepadanya.  

Tetapi hanya sedikit uleebalang, pedagang dan bangsawan yang tertarik dengan bujuk rayu pendekatan ala Deijkerhoff. Hanya pengkhianat-pengkhianat busuk (cuak-cuak busuk) saja yang mau terbujuk rayu manisnya Deijkerhoff. Selebihnya bersiap diri hendak menyerang pos-pos kaphe Belanda dimana pun berada.

Orang ini berotak cerdik dan licik, Deijkerhoff masuk Aceh selama ekspedisi kedua yang dipimpin oleh Jenderal tua Van Swieten. Riwayat Deijkerhoof sebagai seorang aktifis militer kaphe-kaphe Belanda dimulai ketika bergabung dengan tentara Hindia – Belanda (Nederlands Indie). Atas keputusan kerajaan Belanda pada 1874 tepatnya pada titimangsa 6 Oktober  Deijkerhoff diberi anugerah ”Knight” dari Bintang Militer William  atas prestasinya dalam kemiliteran tahun 1870 dan  selama berdinas dalam kemiliteran Hindia Belanda. Deijkerhoff kembali dihadiahi bintang “Knight Orde Nederlands Lion” karena prestasinya dalam masa-masa bencana Tsunami besar meletusnya gunung Krakatau tahun 1883  -1874.

Atas prestasi dan anugerah bintang-bintang jasa yang dia peroleh itulah ia menaiki kursi penguasa sebagai Gubernur Militer dan Sipil Aceh pada 1891. Politik lunaknya pada rakyat Aceh, terutama kerjasamanya dengan Teuku Umar dan sekalian Umar menghancurkan karirnya – karena pengkhianatan Umar kepada kaphe-kaphe Belanda yang telah menghadiahi banyak pucuk senjata serta uang berlimpah. Terkait prestasi yang sangat memalukan kerajaan Belanda ini tahun 1896 Deijkerhoff dipecat dari dinas Gubernur Militer dan Sipil Aceh.Akhirnya Deijkerhoff pulang kampung ke negeri Belanda dan menunggu uang pensiunan setiap bulan yang ia terima dari pemerintah kerajaan.

Begitulah bila seorang Gubernur Jenderal memerintah tak becus di Aceh, maka kritikan dan sumpah serapah meloncat dari banyak mulut baik teman maupun lawan. Apalagi pemerintah kaphe Belanda begitu kecewa kehilangan banyak senjata dan uang ketika membantu Teuku Umar yang dipercaya sebagai sahabat kaphe-kaphe Belanda yang selama ini dianggap serius bersekutu dengan  mereka. Kura-kura dalam perahu, e tahu-tahunya menipu, dengan licik dan penuh kelabu. Teuku Umar tertawa dan tersenyum-senyum menikmati banyak pemberian senjata dan uang yang dipakainya untuk bersenang-senang terutama untuk berkumpul di warung “kupi” (kopi) di pantai Meulaboh atau di Teunom.

Memang prestasi Deijkerhoff yang tak memberikan kemajuan sedikitpun pada tentara kaphe-kaphe Belanda di Tanoh Perlawanan, mereka hanya jadi sasaran empuk dan tak mampu melakukan gerakan ofensif dan bahkan melakukan perlawanan yang setimpal pun mereka masih kalah dengan pejuang mujahidin Aceh. Akhirnya Deijkerhoff yang sebelumnya dianugerahi bintang yang sedemikian banyak, di Aceh dia hanya jadi sasaran empuk dari banyak cercaaan para petinggi kaphe-kaphe Balanda baik di Batavia maupun di Nederland.

Memang Deijkerhoof berbeda dengan si gaek van Swieten yang merebut benteng dekat istana sultan Aceh dengan serangan yang penuh hati-hati. Walaupun Swieten hanya menemukan istanah kerajaan yang kosong dan semua barang-barang telah diangkuti, Van Swieten tetap mendapat pujian selangit dibanding Deijkerhoff.  Deijekerhoff terus menjadi sasaran tembak dan kambing hitam dari strategi politiknya yang salah dan lemah.

Melihat pengeluaran biaya perang selama Deijkerhoof memerintah yang luarbiasa mencengangkan, minus prestasi, tetapi plus biaya dan tetek-bengek administrasi, dimana setiap tahun menghabiskan  20 juta gulden. Itu karena ambisi menteri Peperangan seberang Lautan Hindia Belanda, yaitu Jenderal Weitzel yang memerintahkan membangun beneng-benteng Konsentrasi Linie dengan beton-beton benteng yang sangat tebal, demi keselamatan pasukan-pasukannya. Yang jauh-jauh hari sudah terlalu mudah dilihat.Weitzelpun dianggap menteri peperangan yang bodoh oleh pemimpin milier di Batavia. Sama bodohnya dengan Deijkerhoff yang tadinya sungguh pintar dan berprestasi, namun di Aceh semua mereka menjadi kambing ‘congek’ yang tak memberi kontribusi apa-apa bagi kemajuan kekuasaan kaphe-kaphe Belanda di Tanoh Perlawanan, Tanah Rencong yang tak gentar kepada penjajah berkulit apapun. Apakah berkulit putih, kulit merah, kulit hitam, coklat atau biru – semua warna kulit sudah masuk semua ke Tanoh Aceh – semua keok dan takluk di bawah keperkasaan tentara mujahidin-mujahidin fi sabilillah yang merindukan suruega Allah ‘Azza Wajalla.    

Padahal dengan penuh nafsu dan mulut berbusa-busa baik menteri peperangan Weitzel maupun Deijkerhoff mengatakan bahwa Aceh harus dikepung dengan 16 benteng, dan pelan-pelan harus dilumatkan di bawah tekanan militer yang gagah perkasa, menyerang dan menaklukkan kunyuk-kunyuk atau tikus-tikus Aceh yang sangat bandel itu di bawah telapak sepatu lars tentara-tentara kerajaan Nederlands Indie. Busa-busa mulut mereka justru ditelan sendiri dan tak berbuah apa pun di Tanoh Aceh. Akhirnya mereka mengakui sendiri, bahwa sistem konsentrasi Linie adalah kesalahan besar. Praktek konsentrasi Line yang telah menghabiskan dana sebegitu banyak akhirnya mereka tinggalkan.

Dengan rasa malu dan tubuh lesu, Jenderal Weitzel menutup muka, dan Deijkerhoff harus pulang kampung untuk melupakan semua kegagalan dan rasa malu yang mereka pikul dalam perasaan maupun wajah mereka yang tadinya penuh percaya diri akan menaklukkan Aceh dengan sistem Konsentrasi Line. Malu terhadap tenetara-tentara bawahannya di Kutaraja. Malu terhadap petinggi-petinggi Nerdelands Indie di Batavia maupun di Rotterdam, Nederland. Malu kepaa TeukuUmar yang menipunya mentah-mentah. Malu kepada pasukan-pasukan teuku Umar yang dibanggakannya, yang sebagian telah ia kenal dengan baik. Ada yang bernama Abu Zamharir, ada yang bernama Wan hamid, ada yang bernama Lukman dan banyak lagi yang dikenal Deijkerhoff dari nama-namanya yang mengesankan. Dengan pengakuan yang sangat menekan rasa malu dan kegagalan yang sungguh sangat tertekan di dada mereka yang tadinya membusung – dua pemimpin dan dibantu staf-stafnya mengatakan: Perang  atau Eksppedisi ketiga (Sistem Konsentrasi Line) adalah perang defensive. Perang yang berakhir dengan rasa malu dan kelelahan, serta penyesalan tiada akhir.(Bersambung)

Category: 
Loading...