De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon – 100

Episode 100
Fragmen Kedua
Perempuan-Perempuan Berani  Di Medan Pertempuran  Aceh

Inilah kehidupan di  pelukan rimba belantara, Cut Nyak Dhien bersama seluruh pasukannya, mujahidin-mujahidah Aceh tanah Perlawanan, bersiap-siap memulai perang lagi. Suasana pagi begitu cerah, terlihat  awan yang kemaren sore menghitam lenyap seusai hujan tadi malam. Bau tanah bercampur  embun mengapung di udara dengan panorama kabut  pagi yang penuh mistis .  Inilah  keindahan di pegunungan Leuser dalam suasana perang sabil yang tak pernah padam sampai kapanpun. Selama kaphe-kaphe Belanda itu masih menggantungkan sebelah kakinya di Tanoh Aceh dan sebelah kakinya di Nederland, di pelosok dusun di Eropa sana. Ke sini mereka membawa senapan, bom dinamit, mesiu, kerakusan, kepailitan, kemerosotan moral, kesombongan, petantang-petenteng sok berkuasa di atas dunia milik Allah ‘Azza wajalla.  Abu Lam Gugop, komandan pasukan mujahidin di bawah Cut nyak Dhien diperintahkan menyapu tanah pegunungan di bagian selatan. Nazila, kepala pasukan mujahidah diperitahkan menyisir bagian timur dan melihat jika ada musuh yang haus menumpahkan darah di Tanah Perlawanan. Mereka harus pergi dari bumi Aceh, jika tidak, darah mereka akan tumpah menyuburkan tanah negeri kami yang kaya dan indah ini.

Begitu Nazila memasuki sebuah dasar lembah   Cuaca hari ini membuat mereka bersemangat memulai perjalanan menuju sasaran yang akan ditembak, dipancung dengan kdelewang atau ditusuk dengan rencong. Baru melangkahkan kaki kira-kira setengah kilometer dari markasnya, Nazilah dan kelompoknya menemui empat marsose. Tanpa menunggu waktu berpendar, Nazilah segera memerintahkan semua mujahidah menyerang empat marsose yang kemungkinan tadi malam tidur di sekitar daerah ini. ayunan kelewang pertama menguak kabut pekat pagi. Nazilah meneriakkan kata ‘Allahu Akbar!”. Zakia juga mengayunkan kelewang sambil membacakan syair perang sabil. Perempuan ini mengambil dua bait dari sebuah syair perang sabil yang panjang, yaitu 36 bait. Begini syair itu dibacakan, sambil mengayunkan pedang dan bunyi dentang besi beradu di tengah kabut udara pagi yang sepi:

Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillah khaliqul asyya', segala hal ciptaan Rabbi
Arasy kursi surga neraka, semua langit dunia dan bumi
Kemudian selawat salam hamba, kepada junjungan penghulu Nabi
Kepada waris bersama sahabat, termasuk sekalian Muhajir Anshari

Setelah selesai puji selawat, berilah hidayat hamba yang fakir
Insya Allah dengan tolong Tuhan, hamba berkabar hal perang sabil
Kabar kitab hamba kan karang, biarlah kukarang yang mana jadi
Hamba perbuat atas kebajikan, mudah-mudahan pahala diberi...

Tatkala Khadijah Zakia , alias Zakia membacakan baris terakhir dari 8 baris syair ini, dada marsose tembus oleh ujung kelewang Zakia. Darah membasahi seragam  militer biru tua yang dikenakan marsose itu. Zakia tak memberi waktu lagi untuk mengelak dan berkilah, tusukan kedua yang lebih cepat mengenai dagu marsose dan tembus ke lehernya. Darah makin deras mengucur membasahi seragam biru tua dengan asesori (perhiasan) militer yang menempel di baju seragam tentara kaphe-kaphe Belanda itu. Sementara Nazila terdesak ke sudut hutan besar di hutan besar itu. Zakia dan Aisyah  Valkenburg yang memenangkan pertempuran melawan marsose, mengejar marsose yang menyudutkan Nazilah. Sementara Balôt, Baren dan Inong mengeroyok satu marsose yang cukup tangguh. Tapi tiba-tiba Cahya,  Dara dan Indah datang dari markas terdekat dan membantu Zakia dan Aisyah   Valkenburg. Rupanya perempuan Belanda yang jadi mujahidah bersama Zakia dan Nazilah itu sudah mulai hafal syair perang sabil sedikit-sedikit. Walau terdengar agak cadel, dan lucu terdengarnya, Aisyah Valkenburg membacakan dua syair lanjutan yang dibacakan Zakia sebelumnya:

Jikalau kacau serta salah, janganlah marah pada fakir ini
Aku menulis di pihak Allah, semata-mata karena Illahi
Wahai tuan adik dan abang, jangan hindari berperang sabil
Jangan hitung para hulubalang, sudah dirasuki jin dan pari
Wahai tuan dunia akhir, agama tak lagi di segala negeri

Semua ulama berdiam diri, akan perang kafir tiada perduli
Lidah ulama semau lah kelu, tak lagi perduli kerja perang sabil
Melainkan yang ada dengan izin Allah, Tengku di Tiro mewakili Nabi
Ulama lain di setiap negeri, berdiam diri tiada perduli
Mereka sangka dapat lepas, ketika diperiksa di hari nanti

Hafsah dan Indah yang baru datang disentak tiba-tiba oleh marsose yang melawan Balôt, Baren dan Inong. Marsose yang satu ini benar-benar tangguh dan kuat sekali. Hingga Hafsah dan Indah terjatuh di tanah dengan luka-luka di bahu dan dadanya. Indah mengalami sesak nafas dan darah yang mengucur keluar dari lobang luka yang cukup dalam. Tak sempat sahabat seperjuangannya menolong, Inong terbatuk-batuk muntah darah dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Sementara Hafsah langsung memeluk Indah yang mendahuluinya, sementara luka di bahunya juga mengucurkan darah. Ia bekap luka di bahunya dan satu tangannya memangku kepala Indah. Air mata menetes di kelopak mata Hafsah. Tiba-tiba Nazilah yang diperintah Zakia dan Aisyah beristirahat, biar mereka berdua saja (Zakia dan Aizyah) yang menghadapi marsose busuk itu. Ternyata Nazilah bukannya beristirahat, tapi ia tiba-tiba menikam marsose yang bertempur dengan Balôt dan Baren, dari belakang. Marsose itu berteriak menjerit dan tiba-tiba tersungkur di tanah dan tak mampu melanjutkan pertempuran lagi.

Sementara itu mereka membawa mayat Indah menuju markas terdekat. Tak lama seorang pesuruh mengabarkan kepada Cut Nyak Dhien, bahwa indah telah syahid melawan marsose pagi tadi.

“DImana mayatnya?” Tanya Cut Nyak DHien.
“Cut Nyak ikut saya saja, kita akan ke sana!” Jawab pesuruh itu.

Sesampai di tempat, terbujur mayat Indah berlumur darah di bagian dadanya. Cut Nyak Dhien segera memerintahkan untuk dikubur saat itu juga. Beberapa pejuang laki-laki (mujahidin) menggali lobang dan tak lama kemudian Cut Nyak Dhien bersama pasukannya yang hadir menguburkan mayat Indah, perempuan cantik, muda dan berani itu.  

Begitulah pertempuran pagi itu berakhir dengan tewasnya marsose terakhir yang dilawan Zakia dan Aisyah. Keempat lelaki marsose dari Ambon itu pun ditinggal pergi oleh mujahidah Tanah Perlawanan dengan suasana gembira penuh kemenangan.

Dalam perjalanan pulang ke markas besar Cut Nayk Dhien, Baren membacakan sebuah syair lagi, walau pun tidak sedang dalam berperang. Tapi karena hatinya senang mendapat menang, maka ia lantunkan syair Aceh itu sambil melangkah penuh gembira. Angin, pohon, dedaun dan tanah yang dilalui seakan menyambut kemenangan dengan penuh gairah dan penuh kebahagiaan:

Allah hai dododaidang
Seulayang blang ka putoh talo
Beurijang reyeuk muda seudang
Tajak bantu prang tabela nanggroe
Wahe’ aneuk be’k taduek le’
Beudoh sare’ tabela bangsa
Be’k tatakot keu darah ile’
Adakpih mate’ po mak ka rela

Aceh, Tanah Perlawanan memiliki perempuan-perempuan teguh dan kukuh memegang Islam. Sebuah kekuatan yang tiada duanya di Nusantara, perempuan Aceh telah mengikuti jejak para sahabat perempuan seperti , A'isyah binti Abu Bakar ,Al-Khansa' binti Amr , Amah binti Khalid , Arwa' binti Abdul Muththalib, dan masih banyak lagi yang dengan  bersungguh-sungguh meraih kemuliaan dunia dan akhirat. Islam telah memberi kemuliaan kepada perempuan-perempuan Aceh, maka perempuan Aceh pun memberi kepada kemuliaan agamanya, dengan berjuang sekuat tenaga mempertahankan Tanoh Aceh dari penjajahan.(Bersambung)

 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...