21 August 2018

CTI Gelar Pameran Songket Sumatera

Konfrontasi - Kain tradisional memang sudah jarang dikenakan dalam keseharian warga perkotaan. Namun kehadirannya juga tidak bisa dikatakan punah. Terlebih dengan banyaknya pecinta pakaian nusantara yang giat menggalakkan eksistensi warisan leluhur tersebut.

Salah satu organisasi yang rutin melakukan pelestarian wastra adalah Cita Tenun Indonesia (CTI). ‎Asosiasi ini pun tengah berupaya untuk mengapresiasi salah satu kain tradisional, yakni songket dengan menghadirkan Festival Songket Sumatera, A Journey of Songket Sumatera di Museum Tekstil Jakarta.

‎Acara yang akan digelar selama empat hari tersebut dimulai hari ini, Rabu (18/12/2014).‎ Okke Hatta Rajasa selaku pemimpin dari CTI menyatakan jika ia sebenarnya ingin mengangkat budaya Melayu. Namun sebagai salah satu ikon dari suku tersebut, ia mengambil songket untuk dijadikan 'hidangan' utama. Keinginan istri dari Hatta Rajasa itu untuk mengapresiasi budaya Melayu memang terlihat dari konten pameran yang juga menyediakan masakan serta kerajin lain selain songket. 

Pameran yang bekerjasama dengan Yayasan Bangun Langkat Sejahtera tersebut akan menampilkan berbagai koleksi songket miliki CTI dari empat Kesultanan Sumatera, yakni Deli, Serdang, Asahan, serta Langkat. Keempat kesultanan tersebut tentunya memiliki motif serta makna yang beragam. Kain yang sering dike‎nakan pada prosesi adat warga Sumatera ini memang memiliki keindahannya sendiri. Menurut Okke, benang emas yang ditenunkan sebagai pakan tambahan adalah yang membuatnya spesial. 

"Umumnya songket Melayu banyak terpengaruh dari Islam. Makanya coraknya lebih pada bunga atau hewan, jarang manusia," jelas Okke ketika ditemui Wolipop usai peresmia Festival Songket Sumatera di Museum Tekstil Jakarta di Jalan K.S. Tubun, Tanah Abang, Jakarta Barat, Rabu (17/12/2014). 

Demi meningkatkan rasa apresiasi masyarakat terhadap songket, festival empat hari ini juga akan mengadakan diskusi serta workshop. Diskusi bertema Bincang Wastra akan dilakukan hari ini, Kamis (18/12/2014) ‎dengan nara sumber diantaranya Okke Hatta Rajasa, Dr. Ratna Panggabean selaku‎ Akademi Kria Tekstik ITB, Tengku Mira Sinar dari Yayasan Kesultanan Serdang dan lainnya. Sementara workshop akan dilakukan dua hari mulai Jumat (29/12/2014). Sementara pada hari Minggu (30/12/2014) akan ada Sarasehan Budaya dan Musik Sore.

Selain untuk melestarikan kebudayaan, acara ini juga diselenggarakan demi misi pemberdayaan wanita. Karena dengan tingginya kecintaan masyarakat akan pakan tersebut, diharapkan industri rumahan yang dijalankan ibu rumah tangga terkait pengolahan songket bisa terus berjalan. Tak hanya sebagai pakaian, Okke juga melatih agar para seniman dapat mengolah songket menjadi properti interior.

"‎Memang usaha kami untuk membuat songket lebih wearable, marketable. Selain fashionable kami juga ingin berguna di interior. Kami memberi pelatihan agar songket bisa dibuat motif papan catur atau lampu misalnya. Ini akan menghidupkan industri rumahan ibu-ibu." ungkap Okke.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


loading...