28 February 2020

Berawal dari Modal Teras Samping Rumah, PerpuSeru Koleksi 1000 Buku

KONFRONTASI - Virus PerpuSeru berhasil membuat masyarakat di di Dusun Bendung, Desa Bendung, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, menjadi gemar membaca.

Perpustakaan Ngupoyo Pinter yang didirikan 1 September 2008 ini awalnya hanya teras samping rumah berukuran 15 meter persegi.

Kemudian teras ini disulap menjadi sebuah gubuk yang berisikan lebih dari 1000 buku.

Perpustakaan ini berawal dari ide mertua Suparno, pemilik Perpustakaan Ngupoyo Pinter.

Ia mewarisinya dari sang mertua, Sukino, seorang aktivis perpustakaan di Yogyakarta.

Perpustakaan ini lalu diteruskan Suparno dan Triyatmi. Keduanya merawat perpustakaan ngupoyo pinter dengan penuh rasa totalitas.

Di perpustakaan ini tak hanya ada buku saja, tapi ada komputer beserta jaringan internet sangat membantu masyarakat sekitar untuk mendapatkan informasi.

“Perpustakaan ini warisan, warisan ilmu dan gudangnya ilmu. Apalagi hamper sebagian dari kami bekerja sebagai petani. Kami butuh membaca buku-buku seputar bagaimana cara bercocok tanam yang baik,” terangnya dalam acara Peer Learning Meeting (Diskusi Publik) mengenai perpustakaan yang diadakan PerpuSeru, di Aula Hotel Ungasan, Kuta Selatan, Bali.

Adanya perpustakaan ini, diharapkan mampu memfasilitasi kegiatan masyarakat terutama petani untuk meningkatkan kualitas hidup.

Selain itu, dengan hadirnya teknologi informasi dan komunikasi/internet yang bisa diakses di perpustakaan ini dapat mempermudah para petani dalam mengakses teknik budidaya tanaman maupun pengetahuan pertanian umum lainnya.

“Bahkan untuk ibu rumah tangga, remaja, dan anak - anak sekolah juga bisa memanfaatkan untuk keperluan sehari-hari,” tambah Suparno yang juga berprofesi sebagai petani.

Nama perpustakaan ini, memang didasari untuk membuat seseorang agar pintar. Yakni diambil dari Bahasa Jawa, yang bisa mencerdaskan masyarakat dengan membaca di perpustakaan.

Kegiatan di perpustakaan ini memiliki jadwal yang cukup padat.

“Kami manfaatkan untuk mengadakan beberapa kegiatan. Karena kan di sini banyak buku, akses internet, yang bisa dijadikan tempat diakusi juga,” tutur Suparno.

Kegiatan itu di antaranya mengadakan diskusi ibu-ibu tentang pengolahan jagung, lalu pelatihan untuk para petani tentang bagaimana memperbaki dan menggunakan sarana pertanian modern bertenaga diesel yakni hand traktor.

“Kami belajar itu melalui buku dan akses internet. Jadi langsung praktek agar tidak salah ketika menggunakan hand tractor,” tambahnya.

Selain itu, juga ada pelatihan bagi remaja bagaimana cara membatik, mulai dari pemilihan warna, kreatifitas ukiran batik hingga menjadikan kerajinan tangan serta pelatihan batik dengan dua pilihan, yakni batik tulis dan batik jumputan.

Perpustakaan ini buka setiap hari dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB.

PerpuSeru merupakan program pengembangan perpustakaan yang dilaksanakan Coca-Cola Foundation (CCFI) sejak tahun 2011.(Juft/Sry)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...