20 October 2018

Begini Kondisi Cinere di Masa Lampau, Cornelis Chastelein Hingga Raden Adipati Aria Soeria Di Redja

KONFRONTASI -  

HIDAYAT (42) masih bisa mengingat kondisi Cinere pada sekitar 1983-an. Saat itu, Staf bagian pemerintahan Kecamatan Cinere tersebut masih  bocah yang gandrung bermain sepak bola.

Pembebasan lahan guna kepentingan pembangunan tengah marak di Cinere. Sawah, empang dan rawa yang dulunya menghiasi Cinere lenyap berganti berbagai perumahan. Ya, Cinere mulai diserbu para pendatang asal Jakarta untuk dijadikan tempat bermukim waktu itu.

Namun, Hidayat kecil justru berbahagia. Pasalnya, bekas urukan tanah  yang menimbun sawah, empang, rawa menjadi lapangan bola baru. "Tempat kita main (bola)," ucap Hidayat di Kantor Kecamatan Cinere, Jalan Bukit Cinere, Kota Depok, Kamis 31 Mei 2018.

Seiring maraknya pembangunan berbagai pemukiman elit, Cinere pun kehilangan hamparan sawah, perkebunan kareta serta rawa-rawanya. Kenangan bentang alam tersebut  masih terpatri pada diri Hidayat.

Dulu, tutur Hidayat, sawah masih menghampar di depan kawasan Mal Cinere yang saat itu belum berdiri. Kawasan tersebut merupakan tempat tinggal awal Hidayat. Dia terpaksa berpindah ke Jalan Persatuan setelah orang tuanya menjual lahan kepada pengembang.

Kini, lanjut Hidayat, keberadaan sawah semakin langka di Cinere. Sedangkan perkebunan karet telah lama lenyap. Wilayah Depok yang berbatasan langsung dengan Tangerang Selatan dan Jakarta Selatan tersebut menjadi surga bagi pemukiman pendatang.

Pembangunan apartemen, cluster (kompleks perumahan kecil) terus menjamur di sana. Pemandangan Cinere tempo dulu pun hanya menjadi cerita dan kenangan pada diri Hidayat.

 

Persoalan identitas

Persoalan identitas wilayah juga menyeruak di Cinere. Kendati berstatus kecamatan di Depok, Cinere lebih identik dengan Jakarta. "Kita sendiri bingung dulu, tiba-tiba kok ada di Depok kita ini, padahal kita secara kultur, secara perasaan itu lebih dekat Jakarta," ucap Hidayat.

Urusan identitas juga masuk ke dalam dukungan tim sepak bola.‎ "Makanya mohon maaf di sini itu dukung Persija karena bukannya orang Bandung," ucap Hidayat berseloroh.

Terkait sejarah lama Cinere, Hidayat mengungkapkan lahan-lahan wilayahnya dulu dikuasai sejumlah tuan tanah. Cerita itu didapat langsung Hidayat dari orang tuanya yang merupakan warga Betawi Cinere.

Menurut Hidayat, penguasaan lahan oleh tuan-tuan tanah tersebut masih berlangsung hingga 1960-1970-an. Ia  mencontohkan, salah tuan tanah Tionghoa memiliki lahan di Pekayon yang merupakan kawasa ujung Cinere.

Akan tetapi, Hidayat sudah lupa identitas pemilik lahan tersebut. Hanya, dia masih ingat aturan bagi warga lokal yang menggarap lahan sang tuan tanah. "Setiap panen (warga) nyetor sekitar berapa persen ke mereka (tuan tanah)," ucapnya. 

 

VOC

Sejarah Cinere ternyata terkait erat dengan penguasaan lahan oleh pejabat VOC dan elit lokal di masa silam. ‎Dari penelusuran "PR", nama Cinere sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu.

Dalam Bataviaasch Nieuwsblad, koran lama yang terbit 24 Juni 1915, ‎ pemilik lahan Cinere disebutkan bernama St Martin. "Ia memilik tanah Kanjere atau Tjinere yang diberikan kepadanya sebagai salah satu pengakuan atas jasanya dalam perang dengan Banten," tulis koran tersebut yang diakses melalui lama www.delpher.nl.

Bataviaasch juga menyebut St Martin pemilik tanah Citayam dan Kemayoran. Siapa St Martin? perwira militer VOC ini ternyata bernama lengkap Isaac de Saint Martin.

Hendi Jo, jurnalis sejarah mengungkapkan Martin merupakan perwira sekaligus anggota Dewan Hindia yang dikenal menumpas Kapiten Jonker karena  menyerang Batavia pada 1689. Kapiten asli Maluku yang menjadi abdi militer VOC itu konon menjadi korban intrik Martin dan kelompok serdadu militer VOC. Mereka iri dengan karir prajurit pribumi tersebut yang melesat dan menjadi kesayangan Gubernur Jenderal VOC Cornelis Janszoon Speelman di masa itu. 

Hendi mengonfirmasi sosok St Martin yang dikutip Bataviaasch Nieuwsblad sama dengan perwira VOC yang menumpas Jonker. "Jadi kalau di VOC itu jasa yang mendapatkan tanah itu yaitu tadi, dia bisa memadamkan pemberontakan di suatu tempat," ucap Hendi saat ditemui di kediamannya, Cimanggis, Depok pekan lalu.

 

Cornelis Chastelein

Kisah Martin dan Jonker menjadi cerita tersendiri dalam buku Hendi berjudul Zaman Perang Orang Biasa Dalam Sejarah Luar Biasa. Di balik intriknya terhadap Jonker, sosok berkebalikan Martin justru muncul dalam catatan Jan Karel Kwitshout dalam bukunya Jejak-Jejak Masa Lalu Depok Warisan Cornelis Chastelein (1657-1714) kepada Para Budaknya yang Dibebaskan.

Pemilik lahan Cinere tersebut  justru merupakan sosok yang mencintai pengetahuan. Dia merupakan kawan dekat Cornelis Chastelein, pemilik lahan Depok.

"De Saint Martin (1629-1696) adalah penasihat Raad van Indie (Dewan Hindia) Belanda dan komandan Garnisun di Batavia. Di waktu luangnya, filsuf ilmiah ini adalah seorang kolektor buku yang bersemangat," tulis Jan.

Jan mengungkapkan, Martin dikenal bersemangat menghijaukan kembali hutan di wilayah Batavia. "Dia membeli, mereklamasi, dan membudidayaka persil-persil tanah tersebut," ujarnya.

Martin, kata Jan, memiliki pula tanah di tepi Timur Bekasi untuk perkebunan tebu, buah-buahan dan pabrik gula serta Kemayoran. Konon, nama Kemayoran diambil dari jabatannya sebagai mayor militer.

Tetapi, Jan tak menyebut Martin sebagai pemilik lahan Cinere. Menurutnya, pemilik Cinere justru Chastelein. "Persil Karang Anjer di sebelah utara berbatasan Depok dan Mampang, sebagian dihadiahka oleh Chastelein kepada anak perempuannya yang tidak sah, Catharina van Batavia. Persil ini kemudian terkenal sebagai Cinere," ucap Jan.

Pewarisan itu tercantum dalam surat wasiat Chastelein selaku pemilikk tanah Depok pada 1714. Pemilik lahan lain juga disebutkan dalam iklan Bataviaasch Nieuwsblad pada 5 Juli 1889. Iklan koran itu menawarkan lelang kursi, meja, kuda, sapi, penggilingan padi dari Raden Adipati Aria Soeria Di Redja, pemilik lahan Cinere sekaligus mantan Bupati Cirebon.

Munculnya nama-nama berbeda menunjukkan adanya pergantian kepemilikan lahan Cinere. Sejarah panjang telah merentang di perbatasan Depok-Jakarta tersebut. Kini, Kecamatan dengan empat kelurahan itu memilik problem lain yakni makin menipisnya ruang terbuka hijau dan kemacetan karena maraknya pembangunan berbagai apartemen. (Jft/PR)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...