Balada Negeri Palsu

Konfrontasi:

Ini adalah sebuah negeri yang katanya adil makmur, gemah ripah lohjinawe
Sumber daya alamnya melimpah ruah, anugerah Tuhan yang tak terperikan
Yang lebih dari cukup untuk membahagiakan dan menyejahterakan penghuninya
Sebuah negeri yang dianugerahi kekayaan ragam budaya tak terbilang
Sebuah negeri yang penduduknya penuh religiusitas
Sebuah negeri  yang penduduknya rajin beribadah
Sebuah negeri yang sumber daya manusianya menjunjung tinggi keadaban
Tapi benarkah demikian adanya ?
Karena lihatlah di sini dan di sana
Perilaku warganya bagai binatang jalang
Kamuflase dan kemunafikan meroyak dimana-mana
Sandiwara dan kepalsuan menjadi budaya keseharian

Lihatlah di depan mata kalian langgam kepalsuan bertebaran dimana-mana:

Alamat Palsu 
Ijasah palsu
Surat nikah palsu
Akta cerai palsu
Batu akik palsu
STNK palsu
BPKB palsu
Sertifikat palsu
KTP palsu
Plat nomor kendaraan palsu
Akte tanah palsu
IMB palsu
Mata palsu
Alis Palsu
Hidung palsu
Dagu palsu
Gigi palsu
Rambut palsu
Wajah palsu
Beras Palsu

Dan berbagai kepalsuan lainnya yang kalau diuraikan dan dikaji bisa menjadi bahan disertasi S tiga

Apakah itu semua sebuah manifes dari pemerintahan yang sarat dengan kepalsuan pula ?
Ataukah jangan-jangan negara ini pun palsu adanya ?
Karena segala bentuk pengelolaan dan pertanggung-jawaban tak jelas adanya
Mana rakyatnya, dan mana pemimpinnya ?
Mana yang melayani, dan mana yang dilayani ?
Mana yang mensejahterakan, dan mana pula yang disejahterakan ?
Mana yang harus diadili, dan mana pula yang harus dibebaskan ?

Lihatlah di depan mata kalian langgam kepalsuan bertebaran dimana-mana
Alangkah sulitnya menemukan kebenaran dan keadilan di sana
Karena semuanya serba diliputi dengan kepalsuan belaka
Sandiwara picisan, politik belah bambu, politik tangga pijakan, dan politik muka dua, tiga, empat dan seterusnya menjadi senjata andalan
Lantas sampai kapan ini semua sirna ?
Hemmm...... Mendeemmm.....!!
Entahlahh....
Embuhlahh.....

Celakanya, aku sendiri adalah sebutir pasir diantara lautan pasir negeri kepalsuan itu. Yang tak bisa berbuat apa selain menulis dan berkata belaka. Sebagaimana sang pujangga WS Rendra yang  meradang dan berkeluh kesah lewat celotehnya yang mencabik-cabik sukma, menyikapi dan melawan kekuasaan di zamannya. Hingga ajalnya tiba, namun percikan ide dan karya-karyanya akan abadi sepanjang masa dan menjadi "wejangan luhur" anak-anak cucu bangsa selanjutnya.
 

Dan syair Sang Pujangga "Si Burung Merak" pun meradang, menyikapi zaman yang sarat dengan

kepalsuan : 

 

 

 

SAJAK ORANG TUA DI BAWAH POHON

 

Inilah sajakku,

seorang tua yang berdiri di bawah pohon meranggas,

dengan kedua tangan kugendong di belakang,

dan rokok kretek yang padam di mulutku.

Aku memandang zaman.

Aku melihat gambaran ekonomi

di etalase toko yang penuh merk asing,

dan jalan-jalan bobrok antar desa

yang tidak memungkinkan pergaulan

Aku melihat penggarongan dan pembusukan

Aku meludah di atas tanah

Aku berdiri di muka kantor polisi

Aku melihat wajah berdarah seorang demonstran

Aku melihat kekerasan tanpa undang-undang

Dan sebatang jalan panjang,

punuh debu,

penuh kucing-kucing liar,

penuh anak-anak berkudis,

penuh serdadu-serdadu yang jelek dan menakutkan.

Aku berjalan menempuh matahari,

menyusuri jalan sejarah pembangunan,

yang kotor dan penuh penipuan.

Aku mendengar orang berkata :

“Hak asasi manusia tidak sama dimana-mana.

Di sini, demi iklim pembangunan yang baik,

kemerdekaan berpolitik harus dibatasi.

Mengatasi kemiskinan

meminta pengorbanan sedikit hak asasi”

Astaga, tahi kebo apa ini !

Apa disangka kentut bisa mengganti rasa keadilan ?

Di negeri ini hak asasi dikurangi,

justru untuk membela yang mapan dan kaya.

Buruh, tani, nelayan, wartawan, dan mahasiswa,

dibikin tak berdaya.

 

Oohh...KEPALSUAN yang diberhalakan,

berapa jauh akan bisa kaulawan kenyataan kehidupan

Aku mendengar bising kendaraan

Aku mendengar pengadilan sandiwara

Aku mendengar warta berita

Ada gerilya kota merajalela di Eropa

Seorang cukong bekas kaki tangan fasis,

seorang yang gigih, melawan buruh,

telah diculik dan dibunuh,

oleh golongan orang-orang yang marah

Aku menatap senjakala di pelabuhan

Kakiku ngilu,

dan rokok di mulutku padam lagi

Aku melihat darah di langit

 

Ya ! Ya ! Kekerasan mulai mempesona orang

Yang kuasa serba menekan

Yang marah mulai mengeluarkan senjata

Bajingan dilawan secara bajingan

Ya ! Inilah kini kemungkinan yang mulai menggoda orang

 

Bila pengadilan tidak menindak bajingan resmi,

maka bajingan jalanan yang akan diadili.

Lalu apa kata nurani kemanusiaan ?

Siapakah yang menciptakan keadaan darurat ini ?

Apakah orang harus meneladani tingkah laku bajingan resmi ?

Bila tidak, kenapa bajingan resmi tidak ditindak ?

Apakah kata nurani kemanusiaan ?

O, Senjakala yang menyala !

Singkat tapi menggetarkan hati !

Lalu sebentar lagi orang akan mencari bulan dan bintang-bintang !

O, gambaran-gambaran yang fana !

Kerna langit di badan yang tidak berhawa,

dan langit di luar dilabur bias senjakala,

maka NURANI DIBIUS TIPU DAYA

 

Ya ! Ya ! Akulah seorang tua !

Yang capek tapi belum menyerah pada mati

Kini aku berdiri di perempatan jalan

Aku merasa tubuhku sudah menjadi anjing

Tetapi jiwaku mencoba menulis sajak.

Sebagai seorang manusia

 

 Pejambon, 23 Oktober 1977, Potret Pembangunan dalam Puisi.  

 

 

SAJAK ORANG TUA UNTUK BANGSA DAN NEGARA

Bagaimana mungkin kita bernegara
Bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya
Bagaimana mungkin kita berbangsa
Bila tidak mampu mempertahankan kepastian hidup
bersama ?
Itulah sebabnya
Kami tidak ikhlas
menyerahkan Bandung kepada tentara Inggris
dan akhirnya kami bumi hanguskan kota tercinta itu
sehingga menjadi lautan api
Kini batinku kembali mengenang
udara panas yang bergetar dan menggelombang,
bau asap, bau keringat
suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan kaki
langit berwarna kesumba

Kami berlaga
memperjuangkan kelayakan hidup umat manusia.
Kedaulatan hidup bersama adalah sumber keadilan merata
yang bisa dialami dengan nyata
Mana mungkin itu bisa terjadi
di dalam penindasan dan penjajahan
Manusia mana
Akan membiarkan keturunannya hidup
tanpa jaminan kepastian ?

Hidup yang disyukuri adalah hidup yang diolah
Hidup yang diperkembangkan
dan hidup yang dipertahankan
Itulah sebabnya kami melawan penindasan
Kota Bandung berkobar menyala-nyala tapi kedaulatan
bangsa tetap terjaga

Kini aku sudah tua
Aku terjaga dari tidurku
di tengah malam di pegunungan
Bau apakah yang tercium olehku ?

Apakah ini bau asam medan laga tempo dulu
yang dibawa oleh mimpi kepadaku ?
Ataukah ini bau limbah pencemaran ?

Gemuruh apakah yang aku dengar ini ?
Apakah ini deru perjuangan masa silam
di tanah periangan ?
Ataukah gaduh hidup yang rusuh
karena dikhianati dewa keadilan.
Aku terkesiap. Sukmaku gagap. Apakah aku
dibangunkan oleh mimpi ?
Apakah aku tersentak
Oleh satu isyarat kehidupan ?
Di dalam kesunyian malam
Aku menyeru-nyeru kamu, putera-puteriku !
Apakah yang terjadi ?

Darah teman-temanku
Telah tumpah di Sukakarsa
Di Dayeuh Kolot
Di Kiara Condong
Di setiap jejak medan laga. Kini
Kami tersentak,
Terbangun bersama.
Putera-puteriku, apakah yang terjadi?
Apakah kamu bisa menjawab pertanyaan kami ?

Wahai teman-teman seperjuanganku yang dulu,
Apakah kita masih sama-sama setia
Membela keadilan hidup bersama

Manusia dari setiap angkatan bangsa
Akan mengalami saat tiba-tiba terjaga
Tersentak dalam kesendirian malam yang sunyi
Dan menghadapi pertanyaan jaman :
Apakah yang terjadi ?
Apakah yang telah kamu lakukan ?
Apakah yang sedang kamu lakukan ?
Dan, ya, hidup kita yang fana akan mempunyai makna
Dari jawaban yang kita berikan.

( Sajak Rendra yang dibacakan pada Kebangkitan Nasional 1990 ).

DOA DI JAKARTA

Tuhan yang Maha Esa,
alangkah tegangnya
melihat hidup yang tergadai,
fikiran yang dipabrikkan,
dan masyarakat yang diternakkan

Malam rebah dalam udara yang kotor.
Di manakah harapan akan dikaitkan
bila tipu daya telah menjadi seni kehidupan?
Dendam diasah di kolong yang basah
siap untuk terseret dalam gelombang edan

Perkelahian dalam hidup sehari-hari
telah menjadi kewajaran.
Pepatah dan petitih
tak akan menyelesaikan masalah
bagi hidup yang bosan,
terpenjara, tanpa jendela

Tuhan yang Maha Faham,
alangkah tak masuk akal
jarak selangkah
yang berarti empat puluh tahun gaji seorang buruh,
yang memisahkan
sebuah halaman bertaman tanaman hias
dengan rumah-rumah tanpa sumur dan W.C.

Hati manusia telah menjadi acuh,
panser yang angkuh,
traktor yang dendam.
Tuhan yang Maha Rahman,
ketika air mata menjadi gombal,
dan kata-kata menjadi lumpur becek,
aku menoleh ke utara dan ke selatan
di manakah Kamu?

Di manakah tabungan keramik untuk uang logam?
Di manakah catatan belanja harian?
Di manakah peradaban?
Ya, Tuhan yang Maha Hakim,
harapan kosong, optimisme hampa.
Hanya akal sehat dan daya hidup
menjadi peganganku yang nyata !

========================

Ya Allah, tak seharusnya kepedihan hatiku membuncah hanya karena suatu kepalsuan dan kemunafikan, hingga aku menolak kebaikan semua orang. Tak seharusnya aku kecewa, hanya karena keliru mencintai sesuatu yang palsu. Tak seharusnya aku keji, hanya karena pengkhianatan seseorang hingga mencurigai semua orang. Dan tak seharusnya pula aku memburukkan kehidupanku, hanya karena kehidupan ini telah memperlakukan aku tidak adil, dan tidak baik.

Ya Allah, bimbinglah dan bawalah aku menuju sebuah ladang kehidupan yang bisa membuatku tersenyum lega seperti apa adanya. Tuntunlah aku Ya Rabbie, dalam memperbaiki hati dan mencari yang sejati, kuatkanlah aku dan selamatkanlah aku dari kepalsuan dan tipu daya duniawi ini. (bbcom/41)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...