19 June 2018

Akankah Peradaban Buku Cetak di Indonesia Berakhir?

Hari ini, Selasa, 5 Juni 2018, aku pergi ke perpustakaan nasional untuk mengurus ISBN. Ada satu novel bagus yang tengah aku siapkan penerbitannya Juli ini. Tadinya kulakukan pengurusannya lewat sistem online, tapi karena belum familiar, kuputuskan langsung saja datang. Rupanya memang ada masalah pada pengiriman email berkas yang failure delivery. Akibatnya permintaan ISBN, tidak direspon.

Setelah bertemu langsung, dengan murah hatinya petugas ISBN membantuku, hingga singkat cerita, tahap pemberkasan online berhasil masuk. Tinggal menunggu waktu 5 hari untuk mereka cek untuk layak diberikan ISBN.

Begitulah ceritanya urusan sistem online pendaftaran ISBN yang diterapkan sekarang oleh perpusnas.

Lepas dari urusan tersebut, aku berangkat ke Kwitang menuju toko buku yang kerap berpuluh tahun aku kunjungi. Tentu sudah tahu maksudnya, ialah Toko Buku legendaris, TB Gunung Agung.
Kaget sekali aku, saat tiba di lokasi. Di depan pintu gedung toko buku tersebut, terpampang selembar spanduk bertuliskan, Pindah Ke Kwitang No. 38. Lebih Luas, Lebih Nyaman, Lebih Lengkap. Jelas, toko buku ini telah tutup di lokasi itu.

Memang tanda-tanda akan tutup sudah lama saya deteksi. Sekira 4 bulan sebelum sekarang, saya sudah melihat gejalanya. Pengunjung yang makin sepi, isi toko buku yang makin sedikit. Dan suasana yang terlihat kaku, tidak riang. Setidaknya aku lihat dari pemandangan para karyawannya. Betul saja, sekarang saat tulisan ini dibuat, toko buku yang banyak memberi kesan dan manfaat ini, telah tutup.

Ketika kutanya pada seorang petugas kebersihan ibu kota yang lewat, dia katakan, sudah tutup lama, Pak. “Sebulan, ada?” tanyaku lagi. “Lebih kali, Pak.”

Saya tercenung beberapa saat. Pabila kuingat kebiasaanku yang suka berkunjung ke toko buku ini, sekarang hal itu tak lagi bisa kunikmati.
Aku coba mengabadikan suasana gedung yang telah tutup ini. Kuambil gambar seperlunya sebagai bukti tutupnya toko.

Kemudian aku ke Toko Buku Walisongo yang tidak jauh dari lokasi tadi. Aku masuk ke dalam. Waaahh…tanda-tanda juga menghawatirkanku. Aku tak melihat gadis-gadis pelayan toko buku yang anggun-anggun, sejuk dipandang, wajah yang ceria dan ramah. Tak ada lagi pengunjung yang ramai. Padahal saat tulisan ini dibuat, adalah puasa ramadhan. Biasanya toko buku Walisongo akan berlimpah pengunjung manakala ramadlan berlangsung. Alasannya sederhana, sambil menunggu buka puasa, orang-orang habiskan waktu melihat-lihat buku-buku Islam terbaru untuk dibeli. Nah…aku lihat kok pengunjung tidak lagi seramai dulu. Apa yang terjadi. Aku melangkah lebih dalam. Suatu rak dan space yang dulu banyak diisi oleh buku-buku, kini terlihat kosong. Waaahh… tanda-tanda akan tutup pulakah Walisongo ini seperti halnya kakaknya, TB Gunung Agung yang tadi? Saya sangat berharap, janganlah toko buku khas buku-buku tema Islam legendaris ini tutup. Sebab dia sudah menyumbang besar bagi kebudayaan Islam kontemporer di Indonesia.

Aku merenung dengan apa yang kuhadapi ini. Aku berpikir, mungkin ini tak dapat dibendung. Ini adalah konsekwensi perubahan zaman yang tak bisa dicegah. Hanya bisa dengan mengubah cara dan berselancar di atas gelombang zaman.

Ya, zaman buku cetak tampaknya segera akan redup. Orang mulai beralih ke buku digital. Orang mulai mengonsumsi informasi dan data dari online dan sajian digital. Sedangkan sajian cetak, makin hari makin ditinggalkan.

Ponsel pintarlah biang keladinya. Sebab dengan alat ini, orang dapat mengakses apa saja. Tren dan perilaku mengakses informasi semacam ini telah mengubah pandangan, perilaku dan habit manusia. Termasuk dalam habit ke soal buku.

Sebab bagaimanapun, buku hanyalah sarana dan bahan sajian untuk mengakses informasi yang dibutuhkan manusia. Manakala tersedia sarana akses informasi yang lebih simpel, praktis, murah dan mudah bagi manusia, maka tentu buku akan ditinggalkan orang. Sarananya yang ditinggalkan. Bukan informasinya. Informasinya tetap orang butuhkan.

Di hadapan zaman digital yang merasuk seperti sekarang ini, tentu tidak gampang bagi toko-toko buku modern seperti Gunung Agung, Walisongo, ataupun Gramedia untuk menyesuaikan dan merespon agar tetap relevan, eksis dan berkembang di hadapan konsumen yang makin aksesibel atas segala macam saluran informasi. Padahal toko-toko buku itu, jati dirinya ya…toko yang menjual buku-buku produk cetakan. Sementara produk cetakan sekarang ini, di tengah serbuan dan tantangan produk digital, makin kerepotan untuk bersaing dan eksis.

Mungkin jika dulu zaman mesin ketik punah alamiah digantikan oleh zaman komputer, sekarang di depan mata kita sepertinya, zaman buku cetak akan habis pula dengan hadirnya buku online dan digital.

Benarlah firman Allah. Semua makhluk akan mengalami kematian. Tinggal masalahnya, apakah kematian itu datang dengan cara husnul khatimah atau suul khatimah.

Ajaib sekali, saat aku merenung hal ini, lamat-lamat lagu dari suara Opick mendayu menyentuh yang diputar di dalam toko buku Walisongo ini, “Yallah bihaaaa…yallah bihaaa. Yallah bisa husnil khatimaaah.” Lagi-lagi jangan sampai toko ini tutup, walaupun AC-nya tak dingin lagi. Apakah itu untuk efesiensi, atau pertanda akan tutup, wallahu a’lam bishshowab.

SED

Category: 
Loading...