Agus Lenon, Tokoh Kiri Yang Menggegerkan Tokoh Kanan, Para Santri dan Mereka Yang Berpikir Secara Linier

Juftazani
 
 
 
Di lingkungan kampus putih
Yang biasa disebut kampus IAIN atau kampus kaum sarungan
Agus yang hadir di tahun jebot
Sudah melanglang buana dari Jogjakarta, ke Jakarta atau ke kota lainnya
Dimana ia sibuk membicarakan aktifitasnya sebagai golongan kiri
Agus suka membahas Tan Malaka, tokoh kiri yang dianggap sangat cerdas
Ilmunya yang luas dan menukik
Kitab suci “Madilog” dianggap buku bacaan wajib bagi orang seperti Agus
Seperti “Das Kapital”, buku wajib lainnya yang dilahirkan Karl Marx
Karena Agus Lenon orang yang melompat-lompat secara zi-zag
Dalam berpikirnya dan tak pilih kompromi sekecil apapun
Agus Salim dan Tjokroaminoto tokoh yang tak dianggap
Kiai kampung, kiai sufi bukan jadi referensi yang urgen
Hanya ada satu kiai yang menjadi catatan hidupnya
Yang mendekati realitas sosial dalam dialektika berfikirnya
Kiai Fachruddin
Yang selalu mengulurkan tangannya bagi orang lemah, miskin
Dan terpinggirkan
 
 
 
Musso, Alimin, Sema’un adalah teman berpikir Agus Lenon yang akrab baginya
Dan ini tentu mencengangkan bagi teman-teman sekampus yang rata-rata
Orang sarungan
Dan ini boleh jadi sangat menggemparkan bagi sahabatnya yang biasanya
Berpikir linier dan memihak kebenaran yang wajar
Tapi kebenaran bagi Agus Lenon, bukanlah apa yang banyak dianut para mahasiswa
Baik di kampus umum apalagi agama
Orang seperti dia sudah dianggap anak sungsang, lahir tidak normal
Dan selalu memecah ketenangan dan kesunyian
Mungkin catatan jalan hidup seperti ini, terus mewarnai setiap langkah dan jejaknya
Sampai ia dipanggil yang Kuasa
Selamat jalan kawan
Rhym in Peace
 
 
 
Jabodetabek, 24 Januari 2020
 
 
 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA