29 January 2020

Opini

Satu Tuhan, Satu Agama!

Oleh: Dr. Adian Husaini
 
 Dalam beberapa hari belakangan, ada sejumlah SMS yang masuk ke HP saya. Isinya, meminta saya mengkaji sebuah buku berjudul Satu Tuhan Banyak Agama, Pandangan Sufistik Ibn ‘Arabi, Rumi dan al-Jili, (Mizan, 2011). Rabu (19/10/2011), saya baru sempat mencari buku ini di sebuah toko buku. Setelah membaca dengan seksama, saya segera berusaha memberikan sejumlah ulasan berikut ini.

Yakjuj dan Makjuj di Sekitar Kita (Bagian 4-Habis)

Mereka Berpusat di Yerusalem

 

Oleh Anwar Hudijono

 

Yakjuj dan Makjuj keluar dari tembok Zulkarnain tidak serentak seperti massa peserta lomba lari maraton. Melainkan secara bergelombang, berkelompok-kelompok layaknya puak burung kuntul bermigrasi. Mereka bergerak sangat cepat seperti air bah yang turun dari gunung.

“Hingga apabila dibukakan (tembok) Yakjuj dan Makjuj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.” (QS Al Anbiya 96).

Yakjuj dan Makjuj di Sekitar Kita (bagian 3)

Oleh Anwar Hudijono

 

Bagaimana kehidupan Yakuj dan Makjuj di balik tembok Zulkarnain? Berapa populasinya. Bagaimana sistem ekonominya. Apa yang dimakan. Bagaimana caranya tidur. Bagaimana model pakaiannya. Di mana habitat mereka. Bagaimana bahasanya. Dan banyak lagi pertanyaan lainnya yang kalau disusun membutuhkan waktu tujuh hari tujuh malam. Itu pun bisa belum beres.

Yakjuj dan Makjuj Sudah di Sekitar Kita (Bagian Dua)

Oleh:  Anwar Hudijono

 

 

Pada tulisan pertama saya menggunakan istilah Zulkarnain. Hal ini karena saya mengikuti yang sudah umum di masyarakat, termasuk terjemahan Quran.

Tapi Al Quran sendiri menggunakan dua istilah yaitu Zilkarnain (Dzilqarnain) di ayat 83 dan Zalkarnain di ayat 94).

Yakjuj dan Makjuj Sudah di Sekitar Kita (Bagian pertama)

Oleh: Anwar Hudijono

 

 

Pandangan yang mesti didiskusikan lagi adalah bahwa Yakjuj dan Makjuj akan muncul di akhir zaman. Ada yang lebih spesifik menyebut tahapannya setelah era Dajjal. Nah padahal sekarang Dajjal belum datang.

China Penipu

Oleh: M. Rizal Fadillah

 

Delegasi ormas Islam yang diundang Pemerintah China ke Xinjiang “menengok” kamp konsentrasi masyarakat Uighur dibawa ke gambar kehidupan yang baik dan nyaman. Namun kemudiannya diketahui itu adalah rekayasa Pemerintah Komunis China.

Komentar bagus keluar setelah kepulangan delegasi ke tanah air. Sebagian di antaranya mungkin diberi “bekal” agar ceritra yang muncul konstruktif. Kesimpulannya China dalam kasus Uighur memang menipu.

Wuhan dan kebohongan China

Oleh:  M Rizal Fadillah

 

RRC tak bisa dipercaya, maklum negara komunis. Menghalalkan segala cara khususnya berbohong. Kasus novel coronavirus (nCoV) yang berbahaya bukan hanya untuk China tetapi juga dunia, masih dibuatkan cerita yang tak jelas. China tidak akan mengaku ada kebocoran di pabrik bio farmacy atau laboratorium virologi. China tidak akan mengaku bahwa percobaan pembudidayaan virus corona itu hasil curian riset dari Kanada. China pun tidak akan mengakui bahwa jumlah korban seratus kali lipat dari yang diumumkan secara resmi.

Pengalaman Imlek Di Masa Kecil

Oleh : Danny Melani Butarbutar

 

Namaku Chicha, Ayahku Koeswoyo Namun Ibuku Perempuan Luarbiasa

Oleh:  Chicha Koeswoyo

 

Namaku Chicha. Aku lahir dari orangtua yang berbeda agama. Papaku, Nomo Koeswoyo, beragama islam dan masih keturunan Sunan Drajat, salah seorang Wali Songo. Seorang wali yang sangat terkenal sebagai penyebar agama Islam di wilayah Jawa Timur.

Mengenang Agus Edy Santoso: Ideologi Semangka ala Agus Lenon

Oleh:  Aris Santoso

 

 

Sabtu pagi (11/1) itu saya bergegas ke Condet (Jaktim), menuju rumah Agus Lenon, yang malam sebelumnya dikabarkan meninggal dunia. Saya sendiri mendapat kabar duka dari sahabat yang lain, yakni Satia (Bandung), yang bila bersanding dengan almarhum Agus Lenon, ibarat sebuah “pasangan legendaris”. Setelah mendengar kabar malam itu, mata menjadi sulit terpejam, pikiran saya menerawang pada masa-masa yang telah lewat.

Pages