10 December 2018

Global

Pemerintah Taiwan Resmi Tolak Pernikahan Sejenis

Konfrontasi - Pemerintah Taiwan resmi menolak rancangan undang-undang (RUU) tentang pernikahan sesama jenis. Menurut beberapa pengamat, disebut sebagai 'pukulan tragis' terhadap reputasi negara kepulauan itu sebagai pelopor kesetaraan hak bagi kelompok LGBT di Asia.

Perang Dagang Penyebab Utama Harga Kedelai Berantakan

Konfrontasi - Kabar perkembangan perang dagang antara Amerika Serikat dan China kian simpang siur. Dari membaik, kembali jadi memburuk. Hal itu membuat harga komoditas seperti kedelai, terutama sepanjang tahun ini, jadi berantakan.

Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, dijadwalkan akan melakukan pertemuan di Argentina bersamaan dengan pergelaran konferensi tingkat tinggi (KTT) negara-negara anggota Group of 20 (G20). Hal itu membawa sentimen positif terkait hubungan dagang antara kedua negara yang diperkirakan akan membentuk suatu kesepakatan untuk memperbaiki hubungan perdagangannya.

Namun, pada pekan lalu Pemerintah AS menyebutkan bahwa China telah gagal untuk memperbaiki perilakunya dalam anggapan pencurian kekayaan intelektual China kepada AS. Pernyataan tersebut membalikkan prospek positif hubungan dagang AS dan China jadi kembali memanas.

Hubungan dagang kedua negara dengan perekonomian terbesar di dunia yang memanas sudah membuat harga dan perdagangan sejumlah komoditas terutama komoditas pertanian luluh lantak. Salah satu komoditas pertanian yang terjebak sangat dalam pada perang dagang adalah kedelai.

Pembalasan tarif dari China sebesar 25% kepada AS pada 6 Juli lalu dan memasukkan kedelai dalam daftar tarif menjadi penyebab utama kemerosotan harga kedelai yang cukup dalam di bursa Chicago Board of Trade (CBOT) sebagai patokan global sepanjang tahun ini.

Perang tarif tersebut membuat China sebagai konsumen utama kedelai, menghindari pasokan dari AS yang sebelumnya menjadi pemasok kedelai utama bagi China. Dengan keputusan tersebut, ditambah dengan panen kedelai AS yang membeludak, petani AS kini kian sengsara.

China, yang membeli 60% komoditas biji-bijian itu dari luar negeri, menurunkan pembeliannya hingga 18 – 20 juta ton pada kuartal IV/2018, dibandingkan dengan impor sebanyak 24,1 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.

Sebelumnya, Mantan Wakil Menteri Perdagangan China Long Yongtu, yang ikut melakukan negosiasi ketika China ingin masuk ke dalam Organisasi Dagang Dunia (WTO), menyebutkan bahwa China seharusnya hanya melakukan pembalasan terhadap ekspor pertanian AS sebagai upaya pembalasan terakhir.

“Berdasarkan pengalaman perang dagang AS dan China, menurut saya produk pertanian sangat sensitif, dan kedelai menjadi salah satu komoditas yang paling sensitif. Seharusnya China menghindari menaruh kedelai sebagai target di awal,” ungkapnya, dikutip dari Bloomberg, Minggu (25/11/2018).

Menurutnya, tarif China pada komoditas kacang-kacangan itu membuat petani AS kesulitan untuk menjual pasokannya dan membuat petani AS harus menyimpan dan menimbun panennya dengan biaya tinggi dan membuat penghasilan mereka mengalami penurunan.

Dengan keputusan untuk melakukan penyimpanan, bukan harga yang sesuai yang diterima, tanaman busuk justru jadi masalah yang harus dihadapi petani saat ini, membuat permintaan lenyap, bahkan dari domestik AS sendiri.

China yang menghindari pasokan kedelai dari AS, kemudian mengalihkan pembelian utamanya ke Brasil, salah satu produsen kedelai terbesar di dunia. Namun, dengan adanya perbedaan musim antara Brasil dan AS, serta jumlah produksinya yang masih di bawah AS, membuat pengiriman pasokan kedelai dari Brasil ikut terhambat.

Adapun, untuk mengatasi hambatan tersebut, China juga sempat memacu petani domestiknya untuk memperbanyak penanaman kedelai dan membuat pasokan domestik China juga mengalami lonjakan dan membuat harga kedelai global tidak bisa terangkat.

Pada penutupan perdagangan Jumat (23/11), harga kedelai di bursa CBOT mengalami penurunan 2 poin atau 0,23% menjadi US$881 sen per bushel.

Sepanjang 2018, harga kedelai di CBOT sudah mengalami penurunan sebanyak 7,43%, jauh jika dibandingkan dengan harga komoditas biji-bijian seperti jagung dan gandum yang masing-masing mengalami kenaikan harga secara year-to-date (ytd) mencapai 2,35% dan 17,04%.

Kebakaran Hutan Mulai Padam, Badai Dahsyat Siap Menerjang

KONFRONTASI-Setelah kebakaran hutan di Kalifornia mulai padam dan warga membangun rumah mereka lagi, pemerintah Amerika Serikat (AS) mengeluarkan laporan tentang ancaman bencana alam yang semakin buruk karena perubahan iklim. Laporan itu bertentangan dengan pernyataan yang dikeluarkan Presiden AS Donald Trump.

Rouhani: Israel Rezim Palsu Bentukan Negara-negara Barat

KONFRONTASI-Presiden Iran Hassan Rouhani menyebut Israel sebagai "tumor kanker" yang didirikan oleh Barat untuk memajukan kepentingan mereka di Timur Tengah. Hal itu diungkapkannya saat berpidato dalam Konferensi Persatuan Islam tahunan

"Salah satu hasil yang tidak menyenangkan dari Perang Dunia II adalah terbentuknya tumor kanker di wilayah (Timur Tengah)," kata Rouhani seperti dikutip dari ABC News, Minggu (25/11/2018).

Dia melanjutkan dengan menyebut Israel sebagai "rezim palsu" yang didirikan oleh negara-negara Barat.

Diguncang Demo BBM, Prancis Bak Medan Perang

KONFRONTASI-Gas air mata dilepaskan polisi Prancis ke arah para pengunjuk rasa di Paris ketika aksi demonstrasi Rompi Kuning atas harga BBM mengubah Ibu Kota Prancis itu menjadi zona perang.

Champs Elysee yang ikonik dipenuhi dengan asap saat kerumunan demonstran berusaha untuk bergerak lebih dekat ke istana kepresidenan, melemparkan botol dan batu ke arah polisi. Petugas menjawabnya dengan gas air mata dan meriam air.

Gempur Israel, Hamas Serukan Aliansi Regional

KONFRONTASI-Pemimpin politik Hamas, Ismail Haniyeh, menyerukan pendirian aliansi regional untuk mengatasi tantangan yang dihadapi Palestina. Dia mengatakan, sudah menjadi tanggung jawab negara untuk mengepung Israel dan mengungkap kejahatannya.

"Pendudukan Israel adalah musuh bersama bangsa Islam dan tanggung jawab negara adalah untuk mengepung musuh dan mengekspos kejahatannya," kata Haniyeh melalui pesan rekaman pada Konferensi Persatuan Islam di Teheran, Iran, dilansir dari kantor berita Turki, Anadolu Agency, Sabtu (25/11).

Presiden Iran Minta Umat Islam Sedunia Bersatu Melawan AS

KONFRONTASI -  Presiden Iran Hassan Rouhani pada hari Sabtu (24/11/2018) meminta umat Islam di seluruh dunia untuk bersatu melawan Amerika Serikat (AS). Dengan menyindir Washington, dia menyatakan komunitas Muslim sudah semestinya tidak menggelar karpet merah untuk penjahat.

Trump Salahkan Dunia Soal Pembunuhan Khashoggi

Konfrontasi - Pemerintah Turki terang-terangan mengkritik Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu menuding suami Melania itu sengaja tutup mata terhadap kasus pembunuhan Jamal Khashoggi hanya demi materi.

Pernyataan tersebut dilontarkan Cavusoglu setelah Trump menegaskan bahwa Pangeran Muhammad bin Salman (MBS) tidak memerintahkan pembunuhan.

Menlu Turki Sebut Donald Trump Tutup Mata soal Pembunuhan Jamal Khashoggi

Konfrontasi - Turki, pada Jumat 23 November 2018, mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump bermaksud untuk "menutup mata" soal pembunuhan wartawan Arab Saudi, Jamal Khashoggi.

Komentar itu mengemuka setelah Trump mengatakan bahwa kasus tersebut tidak akan mempengaruhi hubungan Washington dengan Riyadh.

Edan, Orang Korea Selatan Rela Bayar Hingga Jutaan Demi Masuk Penjara

Konfrontasi - Bagi sebagian orang, penjara adalah sebuah pelarian. Jika tidak percaya, tanyakan saja kepada orang-orang di Korea Selatan.

Mereka berbondong-bondong masuk penjara agar terbebas dari kehidupan sehari-hari yang penuh tekanan dan bikin stres.

“Penjara ini memberi saya rasa kebebasan,” kata Park Hye-ri, seorang pekerja kantoran berusia 28 tahun, seperti dilansir dari Reuters, Jumat (23/11/2018).

Park mesti mengeluarkan ongkos sebesar 90 dolar AS (sekitar Rp1,3 juta) untuk 24 jam menginap di sebuah penjara tiruan.

Sejak 2013 lalu, fasilitas “Prison Inside Me” di timur laut Hongcheon telah menampung setidaknya lebih dari 2.000 “narapidana”.

Kebanyakan dari mereka adalah pekerja kantoran dan pelajar yang stres.

Mereka ingin mencari solusi atas kultur pekerjaan dan pendidikan di Korea Selatan yang mereka anggap penuh tekanan.

“Saya terlalu sibuk,” ujar Park saat menghuni sel berukuran 5 meter persegi.

“Saya seharusnya tidak ada di sini sekarang, mengingat pekerjaan yang harus saya lakukan.”

Tapi ia memutuskan berhenti dan melihat kembali pada dirinya agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Meski ini adalah penjara “palsu”, aturan di dalamnya bisa sangat ketat. Para penghuni dilarang berbicara dengan narapidana lainnya. Tidak ada ponsel, tidak ada jam.

Para narapidana akan mendapatkan kostum penjara berwarna biru, tikar yoga, seperangkat teh, bolpoin, dan buku catatan.

Pages