16 October 2018

Global

Sambaran Petir Tewaskan 3 Siswa dan Lukai 73 Orang di Uganda

KONFRONTASI-Tiga murid meninggal dan 73 orang lagi cedera setelah mereka disambar petir di Kabupaten Yumbe di bagian barat-laut Uganda pada Rabu (3/10), kata seorang juru bicara polisi di Kampala.

Patrick Onyango, Wakil Juru Bicara Kepolisian, mengatakan kepada Xinhua melalui telepon bahwa tiga murid meninggal di tempat, 20 orang luka parah sementara 53 orang lagi selama dan menderita luka ringan.

Ia mengatakan peristiwa tersebut terjadi di Sekolah Dasar Mugonyo saat murid berada di dalam kelas.

Tolong, Puluhan Juta Orang Kelaparan di Tanduk Afrika

KONFRONTASI-Kantor Perserikatan Bangsa-bangsa Urusan Kemanusiaan (UN-OCHA) pada Rabu (3/10) mengungkapkan 22,4 juta orang di wilayah Tanduk Afrika memerlukan bantuan makanan.

Di dalam siaran pers, UN-OCHA mengatakan 700.000 orang di Kenya, 1,6 juta orang di Somalia, 6,1 juta orang di Sudan Selatan, 7,9 juta orang di Ethiopia dan 6,2 juta orang di Sudan menghadapi rawan pangan.

Untuk Pertama kali, Tujuh Warga Rohingya Dideportasi India

KONFRONTASI -  Tujuh warga Rohingya dideportasi kembali ke Myanmar, karena diianggap memasuki India secara ilegal. Ini merupakan deportasi pertama kali bagi warga Rohingya yang lari dari negaranya.

Dilansir Al Jazeera, diperkirakan saat ini ada 40.000 orang Rohingya, tanpa kewarganegaraan tinggal di India setelah melarikan diri dari tindakan kekerasan yang diterima mereka di Myanmar.

Setelah Beberapa Tahun Jatuh ke Tangan Milter, Pada 2019 Thailand Gelar Pemilu

KONFRONTASI -  

Pemilihan Umum akan digelar di Thailand sesuai dengan rencana pada 2019 dan tidak akan ada penundaan. Demikian Wakil Perdana Menteri, Prawit Wongsuwan.

Pernyataan ini di tengah-tengah keraguan di kalangan pengeritik pemerintah dan oposisi pemilu akan diundur. Pemerintah militer, yang naik ke tampuk kekuasaan setelah kudeta pada 2014, berjanji mengadakan pemilihan umum antara Februari dan Mei tahun depan.

Trump Minta FBI Usut Tuntas Kasus Mesum Hakim Agung

KONFRONTASI-Tekanan bagi Brett Kavanaugh dan Partai Republik makin berat. Pekan ini seharusnya Senat Amerika Serikat (AS) menggelar pemungutan suara hakim agung. Namun, jadwal tersebut bisa saja mundur. Sebab, investigasi FBI belum tuntas. Padahal, Gedung Putih hanya mengizinkan voting terjadi setelah penyelidikan rampung.

''Saya menginginkan penyelidikan yang komprehensif,'' ujar Presiden AS Donald Trump sebagaimana dilansir Reuters Senin (1/10).

Rusia Sudah Kirimkan Sistem Pertahanan Udara S-300 Kepada Suriah

KONFRONTASI -  Rusia telah selesai mengirimkan sistem pertahanan udara S-300 kepada Suriah. Hal ini sejalan dengan langkah-langkah keamanan baru yang diterapkan Rusia setelah Suriah tidak sengaja menembak jatuh pesawat militernya yang menewaskan 15 orang.

Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu mengatakan bahwa militernya telah menyelesaikan pengiriman sistem S-300 termasuk dengan empat alat peluncuran lain.

Shoigu mengatakan bahwa dibutuhkan waktu tiga bulan untuk melatih agar militer Suriah bisa mengoperasikan sistem pertahanan udara baru itu.

Dampak Aksi Marinir Lucuti Senjata 700 Polisi

KONFRONTASI - Evodio Velazquez Aguirre kehabisan waktu. Sampai Senin (1/10), sebenarnya dia punya waktu 72 jam untuk menjelaskan kejanggalan di kota yang sampai pekan lalu masih dipimpinnya, Acapulco.

Namun, sampai sekarang misteri 342 senjata api yang lenyap dari inventaris kepolisian belum terjawab. Juga, absennya 202 polisi lalu lintas dari tugas mereka selama berbulan-bulan.

''Evodio Velazquez Aguirre harus bertanggung jawab,'' kata Roberto Alvarez, juru bicara Negara Bagian Guerrero, kepada BBC Senin lalu.

Erdogan Tegaskan Turki Bakal Tolak Mentah-mentah Sanksi AS Terkait Peradilan Seorang Pendeta

KONFRONTASI-Turki akan menolak usaha-usaha Amerika Serikat untuk memberlakukan sanksi-sanksi atas Ankara terkait dengan peradilan seorang pendeta Kristen yang telah ditahan selama dua tahun, kata Presiden Tayyip Erdogan pada Senin, dengan menuduh pedeta tersebut memiliki "kaitan gelap dengan teror".

AS-Australia Bersatu Hadang Ekspansi China di Papua Nugini

KONFRONTASI-Perang bisnis Amerika Serikat (AS) dan Cina terus berlanjut. Kini terjadi di Papua Nugini.

Diplomat teras AS di Australia mengonfirmasi secara terbuka bahwa kedua negara sedang berusaha menghentikan perusahaan telekomunikasi asal Cina, Huawei, untuk membangun jaringan kabel internet domestik di Papua Nugini.

Namun Canberra menanggapi dengan waspada ketika Pemerintah Papua Nugini mengumumkan Huawei akan membangun jaringan domestik yang berbeda dari kabel, yang memicu kekhawatiran keamanan siber baru.

Korut-Korsel Mulai Bersihkan Ranjau di Perbatasan

KONFRONTASI-Pasukan dari Korea Utara dan Korea Selatan pada Senin mulai membersihkan sejumlah ranjau darat di sepanjang perbatasan mereka yang dibentengi secara ketat, kata kementerian pertahanan Korsel.

Pembersihan ranjau itu merupakan bagian dari kesepakatan yang dicapai untuk menurunkan ketegangan antara kedua negara serta membangun kepercayaan di semenanjung Korea yang terpisah itu.

Pages