20 November 2019

Ekbis

Pekerja Disabilitas Perlu Diberdayakan

KONFRONTASI-Pemerhati hak disabilitas mengusulkan selain kuota kerja bagi disabilitas  juga perlu upaya pemberdayaan bagi  disabilitas yang sudah diterima bekerja di perusahaan sehingga tidak hanya sekedar memenuhi kuota yang diwajibkan oleh pemerintah.

"Saya berharap perusahaan melatih kawan disabilitas itu hingga menjadi orang yang ahli di bidang tertentu. Jadi bukan hanya sekedar mengisi lowongan kosong atau memenuhi kuota," kata pendiri Precious One Ratna Sutedjo dalam diskusi di pusat kebudayaan @america di Jakarta pada Rabu.  

Dongkrak Produksi Kedelai, Petani Gunung Kidul Diimbau Gunakan Bio Soy

KONFRONTASI-Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menganjurkan petani menggunakan benih kedelai varietas Bio Soy untuk meningkatkan produktivitas tanaman kedelai.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Gunung Kidul Raharjo Yuwono di Gunung Kidul, Rabu, mengatakan, pihaknya sudah menyediakan benih kedelai hibrida dengan nama Bio Soy untuk dibagikan kepada petani di wilayah itu.

Peternak Minta Pemerintah Jaga Ketersediaan Jagung Dalam Negeri

KONFRONTASI-Para peternak unggas meminta pemerintah untuk menjaga ketersediaan jagung di dalam negeri demi menghindari gejolak harga pada akhir 2019 hingga awal tahun 2020. Pasalnya, sejak kenaikan harga jagung pakan akhir tahun 2018, hingga kini harga pakan unggas belum kembali ke level semula.

Fitch Proyeksikan Ekonomi RI Hanya akan Tumbuh 5,1%

KONFRONTASI-Lembaga riset internasional, Fitch Solutions, merevisi target pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ini dilakukan setelah menyimak rilis pertumbuhan ekonomi yang disampaikan BPS kemarin yang menunjukkan perekonomian Indonesia bergerak stagnan cenderung melemah.

Dalam riset yang dirilis hari ini (6/11/2019) dengan tajuk "Indonesia's new government will boost economy with stimulus", Fitch Solutions mengestimasi ekonomi Indonesia di tahun 2019 tumbuh 5,1% dari sebelumnya diproyeksi tumbuh 5,3%. Kemudian untuk tahun 2020, ekonomi Ibu Pertiwi dianalisa tumbuh 5,2% dari sebelumnya diestimasi tumbuh 5,4%.

Fitch Solutions memutuskan untuk merevisi target pertumbuhan ekonomi Indonesia karena tingkat permintaan domestik terus memperlihatkan tren pelemahan, di mana hal ini tercermin dari pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang pada kuartal kemarin tercatat sebesar 5% YoY (year-on-year) dari sebelumnya 5,2% YoY di kuartal II-2019.

Penurunan permintaan juga terlihat dari koreksi signifikan pada impor produk dan jasa yang tercatat anjlok 9% YoY di kuartal III-2019, dari sebelumnya hanya melemah 6,7% YoY di kuartal sebelumnya.

Sedangkan untuk ekspor masih mampu mencatatkan pertumbuhan positif dengan naik tipis 0,02% YoY sepanjang kuartal kemarin. Akan tetapi patut dicermati bahwa pada 9 bulan pertama tahun 2019, total ekspor Indonesia anjlok 8% YoY sebagai dampak dari perang dagang AS-China yang berkelanjutan, penurunan harga komoditas, dan ketidakpastian politik dalam negeri karena pemilihan presiden.

Selain itu dari sisi investasi, yakni penanaman modal tetap bruto (PMTB) juga melambat dari 5% pada periode April-Juni 2019, menjadi hanya 4,2% pada Juli-September 2019.

Lebih lanjut, Fitch Solutions menganalisa bahwa tren perlambatan permintaan domestik masih akan dialami hingga akhir tahun.

Pasalnya rilis data angka PMI (Purchasing Manager Index) di bulan Oktober tercatat hanya sebesar 47,7 poin, turun dari perolehan September yang ada di 49,1 poin. Capaian tersebut mengindikasikan bahwa jumlah pesanan yang masuk terus menurun yang membuat pelaku usaha enggan berekspansi.

Untuk diketahui angka di bawah 50 menandakan dunia usaha tidak melakukan ekspansi bisnis, dan sebaliknya.

Perolehan tersebut sejalan dengan data pertumbuhan kredit yang dihimpun oleh Bank Indonesia (BI), di mana pada bulan Agustus total kredit hanya tumbuh 8,7% YoY dibandingkan dengan pertumbuhan akhir tahun lalu yang sebesar 12% YoY.

Industri Padat Karya Lemah, Tak Heran Jumlah Pengangguran Bertambah

KONFRONTASI- Jumlah pengangguran, menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), mengalami kenaikan sebanyak 50 ribu orang sampai Agustus 2019 menjadi 7,05 juta orang dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu 7 juta orang.

Meski secara jumlah naik, namun jika ditelisik lebih jauh, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebetulnya turun 0,06 persen menjadi 5,28 persen dibandingkan Agustus 2018 lalu, yakni sebesar 5,34 persen.

Menurut data BPS, penurunan TPT dikarenakan jumlah angkatan kerja yang meningkat, yakni dari 131,01 juta orang menjadi 133,56 juta orang. Walhasil, jumlah orang yang bekerja pun bertambah dari 124,01 juta menjadi 126,51 juta orang.

Pun demikian, Ekonom Indef Enny Sri Hartati tetap menilai pemerintah gagal menekan angka pengangguran. Ia menyebut kegagalan itu dikarenakan payahnya sektor-sektor industri yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Ambil contoh sektor manufaktur. Sektor ini kerap tumbuh di bawah pertumbuhan ekonomi nasional dalam tiga tahun terakhir. Pada kuartal kedua 2019 saja, pertumbuhannya cuma 3,54 persen. Angka ini jauh dari target sebesar 5 persen.

Di sisi lain, sektor jasa berkembang pesat. Terlepas dari angka investasi yang aduhai, menurut Enny, sektor jasa kedap terhadap penyerapan tenaga kerja. Maklum, banyak sektor jasa bergerak secara informal.

"Itu yang menyebabkan elastisitas pertumbuhan ekonomi terhadap penyerapan tenaga kerja rendah. Mungkin, sekarang sekitar 250 ribu orang per 1 persen. Jadi, kalau 5 persen, hanya 1 juta orang. Sementara, angkatan kerja kan sudah 2 juta orang. Ya wajar kalau tidak mampu menanggulangi pengangguran," ujarnya dilansir CNNIndonesia.com, kemarin.

Karenanya, ia mengatakan pemerintah tidak dapat bergantung kepada sektor informal. Sebut saja, transportasi online yang saat ini menyerap tenaga kerja cukup besar. Di sisi lain, sektor formal dibiarkan layu.

"Ini yang mesti menjadi bahan evaluasi. Kalau memang kebutuhan ekonomi kita untuk penyerapan tenaga kerja yang besar, maka pilihannya tidak lain adalah bagaimana mengembangkan sektor-sektor, seperti manufaktur (sektor formal)," ungkapnya.

Nah, permasalahannya, sektor manufaktur yang padat karya kini dilanda masalah karena kebijakan yang dilahirkan pemerintah itu sendiri. Yakni, terkait kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP). Kemudian, regulasi tenaga kerja di Indonesia yang masih kompleks.

Laporan ADB: 22 Juta Orang Kelaparan di Era Jokowi

KONFRONTASI-Asian Development Bank (ADB) melaporkan 22 juta orang Indonesia masih menderita kelaparan. ADB bersama International Food Policy Research Institute (IFPRI) mengungkapkan hal itu dalam laporan bertajuk 'Policies to Support Investment Requirements of Indonesia's Food and Agriculture Development During 2020-2045'.

Jalan Terjal Pertumbuhan Ekonomi RI yang Diramal Mentok 5%

KONFRONTASI -  Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini diperkirakan hanya bisa dicapai di angka 5%. Angka tersebut pun bisa dicapai dengan catatan semua kondisi global dan internal bisa dijaga dengan baik sampai akhir tahun.

Pilarmas Investindo Sekuritas: IHSG Masih Berpeluang Sentuh 6.350-6.500 pada Akhir 2019

KONFRONTASI -   Pada sisa 2 bulan tahun ini, Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakan IHSG bisa tumbuh ke level 6.350-6.500 menjelang akhir tahun.

Direktur Riset Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menjelaskan bahwa target tersebut telah dipangkas dari target yang dipasang pada awal tahun sebesar 6.950.

 

Menurutnya, tidak ada kesepakatan satu pun antara AS—China pada periode tahun berjalan ini membuat indeks kesulitan untuk menyentuh level yang lebih tinggi lagi.

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini, 5 November 2019

KONFRONTASI -   Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada perdagangan hari ini, Selasa (5/11/2019), dibuka terdepresiasi 11 poin atau 0,08 persen di level Rp14.025 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau bergerak di zona hijau dengan naik 0,05 persen atau 0,045 poin ke posisi 97,550.

Pada akhir perdagangan kemarin, Senin (5/11), menguat 25 poin atau 0,18 persen ke level Rp14.014 per dolar AS. Kurs rupiah vs dolar bergerak pada kisaran Rp13.998-Rp14.016 per dolar AS sepanjang perdagangan.

Biang Kerok, Harga Gas Industri RI Lebih Mahal dari Malaysia

KONFRONTASI -   Presiden Joko Widodo (Jokowi) turun tangan memerintahkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengecek harga gas industri yang menurutnya mahal hingga dikeluhkan dunia usaha.

Jokowi pun memastikan tak ada kenaikan harga gas industri. Hal itu mengonfirmasi bahwa PT Perusahaan Gas Negara Tbk atau PGN batal menaikkan harga gas per 1 November 2019 ini.

Benarkah harga gas industri di Indonesia mahal? Apa biang keroknya?

Pages