Budaya

Puisi : Bunyi Sunyi, Datanglah

BUNYI SUNYI

Sesuatu yang tak mampu kukatakan
akan kutuliskan di air*
: katamu seperti berserah

Bagai mata jala
di setiap gerimis kupandangi langit di hulu
menanti sungai dipenuhi kata-kata

Mungkin saja ada sebuah puisi
yang tersangkut di batu-batu

Atau hanya bunyi
yang tersekat waktu

II

Kita telah berjanji
tak akan melukai sunyi
karena dia rahim bagi bunyi
dan ibunda bagi puisi

Jakarta, 19/05/2014

*Kutipan dialog dalam film To The Wonder (Fox Movie Premium)

 

Pak Datuk : Cerita Pendek

Di pertengahan tahun 90an aku mengenal Pak Datuk dan kini tahun 2014 hampir dua dasa warsa kulalui tanpa terasa, aku ingat persis kapan dan dimana pertama kali bertemu dengan sosok yang sangat kharismatik, berwibawa, santun dan murah hati itu. Saat itu aku diperkenalkan oleh seorang pria muda dari suku minang lulusan Akmil berpangkat Kapten dan menjabat sebagai Kasiop di Kodim Jakarta Selatan. Barangkali saat ini yang bersangkutan sudah menyandang bintang satu, tapi aku tetap saja seperti saat pertama kali datang dan diperkenalkan Pak Datuk untuk membantu di bidang keamanan.

Puisi : Penghargaan Gila Penghargaan

ada penghargaan untuk sang juara
dia pantas menerima sebab menjadi budak penguasa
diantara tetes air mata yang menghiba dan mendamba
ketika yang terlintas itu pergi tanpa suara

telapak-telapak kapitalis itu telah menginjak
hanya borjuis yang mampu tertawa ngakak
dan marjinal pun hanya bisa berteriak
hingga si tua merana tak bergerak

gila memang hidup ini
mereka yang berpaling dianggap haters
dan kaum pemuja terus menyanyi sanjungan tiada henti
terus dan teruslah bersorak dan dibalik semua perlahan telah terkikis.

Puisi : Kecupan Hampa

Kecupan Hampa

 

Peluk aku…

Aku adalah jiwa-jiwa yang sedang tersesat, yang sedang mencari jalan untuk pulang

Aku adalah anak singa yang kehilangan ibunya, yang tak tahu bagaimana cara berburu dan bertahan hidup

Aku adalah sepoi-sepoi angin, yang sekedar mampir untuk menawarkan sejuk

Aku adalah riak-riak kecil di kolam, yang tak pernah begitu diperhatikan pemiliknya

Aku adalah retakan tanah, yang sempat lupa disirami dan hanya menanti hujan

Puisi Arsyad Indradi dalam " Tiga Kutub Senja "

Beberapa pilihan puisi Arsyad Indradi dalam Tiga Kutub Senja

 

Zikir Senja

 

Tak terbaca lagi ayatayat

Yang Kau hampar sepanjang perjalanan

Menuju rumahMu

Tak mungkin kembali

Menangkap AlipLamMim dari pintu bumi

Kandang dombadomba yang lapar

Semakin jauh berjalan

Kucurigai langit

Menyembunyikan bintangbintangMu

BulanMu bahkan matahariMu

Kucurigai laut

Menyentuh kakiku

Buihbuih merajah pausMu yang kian punah

Jasadku untaunta

Film-film Indonesia menjadi Pembicaraan Hangat Kritikus film Prancis

KONFRONTASI-Film-film Indonesia sebenarnya mampu bersaing dengan film-film dari negara lain di Festival Film Cannes, hal ini disampaikan Kritikus film senior asal Prancis, Pierre Rissient (78).

Di hotel tempat dia menginap selama Festival Film Cannes yang berlangsung 14-25 Mei, ia menyebut "Tjoet Nja' Dhien" (1988) yang dibintangi oleh Christine Hakim sebagai salah satu film Indonesia yang dia anggap bagus.

Puisi Ang Jasman : Kau, Sore dan Aku

sore malu-malu menggamit lenganku

menghampir kamu membawakan cappuccino, bisiknya 

jangan ucapkan goodbye atau kata yang membuatmu kelu

dan ia minta kupeluk petang di celah tiap langkahmu. 

 

 

kesendirianmu sering mencampakkan harapan

jalan yang pernah kita tapaki menghapus jejak-jejak

 tak ada lagi gedung unik dimana kita berteduh

Pages