Yudi Latif

Yudi Latif di PGK Sukabumi: Perkuat Modal Sosial Dalam Mengelola Keberagaman

KONFRONTASI -   Indonesia ditakdirkan menjadi bangsa yang majemuk. Selain wilayah yang terbentang luas, Indonesia juga merupakan taman sari dunia, karena segala keragaman manusia di muka bumi ada keturunannya di Indonesia. Karena itu para pemimpin bangsa dituntut mampu mengelola keberagaman ini dengan memperkuat modal sosial (social capital).

Yudi Latif: Jika Ingin Perkaya Diri Sendiri, Jangan Bermimpi Jadi Pemimpin di Indonesia

KONFRONTASI-Indonesia ditakdirkan menjadi bangsa yang majemuk. Selain wilayah yang terbentang luas, Indonesia juga merupakan taman sari dunia, karena segala keragaman manusia di muka bumi ada keturunannya di Indonesia. Karena itu para pemimpin bangsa dituntut mampu mengelola keberagaman ini dengan memperkuat modal sosial (social capital).

Yudi Latif Paparkan Modal Sosial Kunci Pembangunan Nasional

KONFRONTASI -   Cendekiawan Muslim, Yudi Latif, menilai pembangunan bangsa tidak cukup hanya dengan modal finansial, keterampilan, maupun modal Sumber Daya Alam. Negara seluas dan semajemuk Indonesia yang paling utama diperkuat adalah modal sosial (social capital).

Selama ini, kata dia, masyarakat Indonesia masih sering bertengkar untuk hal-hal yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan modal sosial. Perbedaan merupakan takdir yang tidak bisa ditolak, apalagi dilawan. Maka, perbedaan itu harus dirajut di bawah naungan pancasila.

Yudi Latif: Sosialisme Berbeda dengan Komunisme

KONFRONTASI-Pengamat politik Yudi Latief menyatakan pandangan marhaenisme semakin terpinggirkan akibat masyarakat selalu mengasumsikannya sebagai paham komunis. Padahal marhaenisme, menurut dia, merupakan paham dari sosialisme yang elemennya berpihak kepada keadilan sosial.

"Seringkali kita ini tidak bisa membedakan antara sosialisme dan komunisme, seolah-olah sosialis itu pasti komunis, padahal tidak begitu," kata Yudi Latief, di Jakarta, Selasa (23/7).

Yudi Latif PhD: Menyehatkan Perbedaan

Persoalan genting politik Indonesia saat ini tidaklah terletak pada perbedaan yang mengarah pada polarisasi politik, tetapi pada cara komunitas politik memandang perbedaan tersebut. Perbedaan kerangka dukungan, seperti menjelma dalam poros pendukung petahana versus oposisi, bisa konstruktif sejauh perbedaan tersebut disikapi dalam spirit "yin dan yang". Seperti memandang kehadiran malam (gelap) dan siang (terang)—dua hal yang tampak berbeda, tetapi saling melengkapi sebagai bagian dari kesatuan kesempurnaan kehidupan.

Negeri Sengkarut Pikir

Oleh: Yudi Latif
 Pemikir Kebangsaan dan Kenegaraan

Menjelang kematiannya pada 1873, pujangga agung Keraton Surakarta, R Ng Ranggawarsita, menulis puisi ratapan, "Serat Kalatidha" (Puisi Zaman Keraguan).

Bait pertama puisi tersebut bersaksi, "Kilau derajat negara lenyap dari pandangan. Dalam puing-puing ajaran kebajikan dan ketiadaan teladan. Para cerdik pandai terbawa arus zaman keraguan. Segala hal makin gelap. Dunia tenggelam dalam kesuraman".

Negara Sengkarut Pikir

Menjelang kematiannya pada 1873, pujangga agung Keraton Surakarta, R Ng Ranggawarsita, menulis puisi ratapan, "Serat Kalatidha" (Puisi Zaman Keraguan).

Bait pertama puisi tersebut bersaksi, "Kilau derajat negara lenyap dari pandangan. Dalam puing-puing ajaran kebajikan dan ketiadaan teladan. Para cerdik pandai terbawa arus zaman keraguan. Segala hal makin gelap. Dunia tenggelam dalam kesuraman".

Yudi Latif: Kıta Punya Prinsip Sosio Demokrasi yakni Demokrasi Ekonomi dan Politik

KONFRONTASI- Demokrasi liberal di negeri ini dalam sorotan para intelektual dan aktivis pergerakan. Mantan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Dr Yudi Latif menegaskan kembali tentang demokrasi di Tanah Air. Menurut Yudi, demokrasi kita harus ditekankan tidak hanya pada aspek politik, tetapi juga aspek ekonomi.

Hal itu penting, mengingat masih banyak ketidakdilan di negeri ini, terutama dalam aspek ekonomi. Ini ditandai dengan masih tingginya angka kesenjangan di negeri ini.

Pages