19 September 2019

Yudi Latif

Yudi Latif: Sosialisme Berbeda dengan Komunisme

KONFRONTASI-Pengamat politik Yudi Latief menyatakan pandangan marhaenisme semakin terpinggirkan akibat masyarakat selalu mengasumsikannya sebagai paham komunis. Padahal marhaenisme, menurut dia, merupakan paham dari sosialisme yang elemennya berpihak kepada keadilan sosial.

"Seringkali kita ini tidak bisa membedakan antara sosialisme dan komunisme, seolah-olah sosialis itu pasti komunis, padahal tidak begitu," kata Yudi Latief, di Jakarta, Selasa (23/7).

Termenung Mendengar Uraian Sahabatku Yudi Latif

Oleh: Dr. Imam Prasodjo

 

Yudi Latif PhD: Menyehatkan Perbedaan

Persoalan genting politik Indonesia saat ini tidaklah terletak pada perbedaan yang mengarah pada polarisasi politik, tetapi pada cara komunitas politik memandang perbedaan tersebut. Perbedaan kerangka dukungan, seperti menjelma dalam poros pendukung petahana versus oposisi, bisa konstruktif sejauh perbedaan tersebut disikapi dalam spirit "yin dan yang". Seperti memandang kehadiran malam (gelap) dan siang (terang)—dua hal yang tampak berbeda, tetapi saling melengkapi sebagai bagian dari kesatuan kesempurnaan kehidupan.

Yudi Latif: Saya Tidak Memihak Salah Satu Kubu Politik

KONFRONATSI- Cendekiawan, pemikir Islam dan kenegaraan, Yudi Latif menegaskan tidak memihak salah satu kubu politik pada Pilpres 2019.

Negeri Sengkarut Pikir

Oleh: Yudi Latif
 Pemikir Kebangsaan dan Kenegaraan

Menjelang kematiannya pada 1873, pujangga agung Keraton Surakarta, R Ng Ranggawarsita, menulis puisi ratapan, "Serat Kalatidha" (Puisi Zaman Keraguan).

Bait pertama puisi tersebut bersaksi, "Kilau derajat negara lenyap dari pandangan. Dalam puing-puing ajaran kebajikan dan ketiadaan teladan. Para cerdik pandai terbawa arus zaman keraguan. Segala hal makin gelap. Dunia tenggelam dalam kesuraman".

Negara Sengkarut Pikir

Menjelang kematiannya pada 1873, pujangga agung Keraton Surakarta, R Ng Ranggawarsita, menulis puisi ratapan, "Serat Kalatidha" (Puisi Zaman Keraguan).

Bait pertama puisi tersebut bersaksi, "Kilau derajat negara lenyap dari pandangan. Dalam puing-puing ajaran kebajikan dan ketiadaan teladan. Para cerdik pandai terbawa arus zaman keraguan. Segala hal makin gelap. Dunia tenggelam dalam kesuraman".

Yudi Latif: Kıta Punya Prinsip Sosio Demokrasi yakni Demokrasi Ekonomi dan Politik

KONFRONTASI- Demokrasi liberal di negeri ini dalam sorotan para intelektual dan aktivis pergerakan. Mantan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Dr Yudi Latif menegaskan kembali tentang demokrasi di Tanah Air. Menurut Yudi, demokrasi kita harus ditekankan tidak hanya pada aspek politik, tetapi juga aspek ekonomi.

Hal itu penting, mengingat masih banyak ketidakdilan di negeri ini, terutama dalam aspek ekonomi. Ini ditandai dengan masih tingginya angka kesenjangan di negeri ini.

Pramono Anung Beberkan Pengganti Yudi Latif sebagai Kepala BPIP

KONFRONTASI - Yudi Latif telah mengundurkan diri dari jabatan Kepala BPIP pada 7 Juni 2018. Presiden Joko Widodo pun menghargai upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Yudi selama ini mulai dari UKP-PIP yang kemudian berubah menjadi BPIP.

Adapun alasan pengunduran diri Yudi lantaran ada urusan keluarga yang harus menjadi perhatiannya.

"Dalam surat juga disampaikan karena ada urusan pribadi, urusan keluarga yang harus lebih diberikan perhatian, beliau mengundurkan diri," kata Jokowi.

Implikasi Politik Yudi Latif karena Mundur dari BPIP

KONFRONTASI- Yudi Latif mengumumkan kemunduran dirinya dari posisi Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Keputusan yang mengejutkan banyak orang lantaran sebelumnya muncul polemik soal besaran gaji yang diperuntukan para pengurus BPIP ini.

Yudi Latif Mundur dari BPIP, Denny JA: Tafsir Pancasila Mana Yang Sedang Berkuasa?

Refleksi Mundurnya Yudi Latif dari Ketua BP Ideologi Pancasila

Oleh: Denny JA

Setahun setelah menjabat sebagai kepala BP Ideologi Pancasila (dulu UKP- PIP), Yudi Latif mengundurkan diri. Bukan isu mundur itu benar yang membuat prihatin.

Pages