9 April 2020

Yaman

Serangan Udara Koalisi Pimpinan Saudi Tewaskan 26 Warga Yaman

KONFRONTASI-Milisi Al-Houthi di Yaman pada Kamis menyatakan serangan udara sekutu pimpinan Saudi menewaskan 26 warga, sementara media pemerintah di UAE, anggota sekutu, melaporkan serangan Houthi di daerah sama menewaskan satu orang dan mencederai puluhan.

Gerilyawan Al Houthi Akui Serang Kapal Saudi di Pantai Barat

KONFRONTASI-Gerilyawan Syiah Yaman, Al-Houthi, di dalam satu pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita Saba --yang dikuasai Al-Houthi, mengatakan mereka menyerang satu kapal perang Arab Saudi di lepas pantai Yaman Barat pada Rabu (25/7).

Pertempuran Sengit Bergolak di Bandara Krusial Yaman

KONFRONTASI-Pertempuran sengit meletus antara pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi dengan pemberontak Houthi di sekitar bandara krusial di Hudaida, Yaman, Selasa 19 Juni 2018.

Para komandan pro-pemerintah mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa "bala bantuan besar" telah tiba di dekat bandara. Ini merupakan hari ketujuh dalam serangan pemerintah di Hudaida.

Puluhan Milisi Bayaran Saudi Tewas dan Terluka Dihantam Rudal

KONFRONTASI - Puluhan milisi yang disponsori Saudi dan setia kepada mantan presiden Yaman yang mengundurkan diri, Abd Rabbuh Mansur Hadi, tewas dan banyak lainnya terluka ketika militer Yaman menembakkan secara terpisah dua rudal balistik yang diproduksi di dalam negeri ke arah pangkalan provinsi Taizz, barat daya negara itu serta provinsi Hudaidah.

Wabah Kolera Kembali Jangkiti Yaman

KONFRONTASI-Musim hujan di Yaman akan memicu kembali gelombang kolera, yang pada akhirnya menempatkan jutaan orang terancam di negara bergolak itu.

Ilmuwan memperingatkan kemungkinan itu pada Kamis. Ahli juga menyerukan gerakan kesehatan masyarakat selama Ramadan, yang dimulai pertengahan Mei, setelah penelitian menyarankan kebiasaan terkait dengan bulan suci itu mungkin membantu menyebarkan penyakit tersebut pada tahun lalu.

Lebih dari satu juta terduga penderita kolera dilaporkan di Yaman sejak 2016, dengan lebih dari 2.000 orang tewas.

"Kami memperkirakan lonjakan jumlah penderita selama musim hujan," kata Anton Camacho, penulis utama kajian tentang wabah, yang diterbitkan dalam jurnal "The Lancet Global Health".

"Jika sesuatu akan terjadi, itu akan terjadi sekarang juga setiap orang harus sadar dan merespon dengan cepat. Risikonya tinggi," katanya kepada Thomson Reuters Foundation.

Musim hujan berlangsung dari pertengahan April hingga akhir Agustus. Jumlah harian kasus kolera meningkat 100 kali lipat dalam empat minggu pertama musim hujan tahun lalu, yang menyebabkan penyebaran penyakit ke seluruh negeri, kata kajian itu.

Penulis memperkirakan kontaminasi sumber air selama musim hujan dan perubahan tingkat zooplankton dan besi di air, yang membantu bakteri kolera bertahan hidup, mungkin telah berkontribusi untuk ledakan kasus.

Mereka memperkirakan lebih dari setengah distrik Yaman - rumah bagi hampir 14 juta orang - beresiko tahun ini.

Kolera, yang tersebar lewat makanan atau air tercemar, adalah penyakit diare, yang dapat membunuh dalam beberapa jam.

Epidemi Yaman telah diperparah konflik bertahun-tahun yang telah merusak layanan kesehatan dan pasokan air, yang membuat lebih dari 2 juta orang mengungsi dan mendorong negara itu ke jurang kelaparan.

Penelitian itu, yang memetakan wabah dan menganalisa pola curah hujan, telah membantu para pejabat kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia untuk mengidentifikasi lokasi untuk mendistribusikan vaksinasi kolera.

Ilmuwan mengatakan data mereka juga menunjukkan peningkatan dalam kasus setelah Ramadhan, ketika orang sering berkumpul untuk melakukan makan malam bersama dan juga makan lebih sering di pedagang kaki lima.

"Kami tidak ingin orang berpikir Ramadhan membawa kolera - bukan itu masalahnya," kata Camacho.

"Perubahan perilaku kecil dalam situasi di mana Anda memiliki banyak potensi kasus kolera ... bisa memiliki efek yang sangat besar," katanya.

Yaman, salah satu negara termiskin di dunia Arab, terlibat dalam perang antara gerakan bersenjata Houthi, yang didukung dengan Iran, dan koalisi militer yang didukung Amerika Serikat yang dipimpin Arab Saudi.

Perserikatan Bangsa Bangsa mengatakan bahwa 22 juta dari 25 juta warga Yaman membutuhkan bantuan kemanusiaan.Musim hujan di Yaman akan memicu kembali gelombang kolera, yang pada akhirnya menempatkan jutaan orang terancam di negara bergolak itu.

Ilmuwan memperingatkan kemungkinan itu pada Kamis. Ahli juga menyerukan gerakan kesehatan masyarakat selama Ramadan, yang dimulai pertengahan Mei, setelah penelitian menyarankan kebiasaan terkait dengan bulan suci itu mungkin membantu menyebarkan penyakit tersebut pada tahun lalu.

Lebih dari satu juta terduga penderita kolera dilaporkan di Yaman sejak 2016, dengan lebih dari 2.000 orang tewas.

"Kami memperkirakan lonjakan jumlah penderita selama musim hujan," kata Anton Camacho, penulis utama kajian tentang wabah, yang diterbitkan dalam jurnal "The Lancet Global Health".

"Jika sesuatu akan terjadi, itu akan terjadi sekarang juga setiap orang harus sadar dan merespon dengan cepat. Risikonya tinggi," katanya kepada Thomson Reuters Foundation.

Musim hujan berlangsung dari pertengahan April hingga akhir Agustus. Jumlah harian kasus kolera meningkat 100 kali lipat dalam empat minggu pertama musim hujan tahun lalu, yang menyebabkan penyebaran penyakit ke seluruh negeri, kata kajian itu.

Penulis memperkirakan kontaminasi sumber air selama musim hujan dan perubahan tingkat zooplankton dan besi di air, yang membantu bakteri kolera bertahan hidup, mungkin telah berkontribusi untuk ledakan kasus.

Mereka memperkirakan lebih dari setengah distrik Yaman - rumah bagi hampir 14 juta orang - beresiko tahun ini.

Kolera, yang tersebar lewat makanan atau air tercemar, adalah penyakit diare, yang dapat membunuh dalam beberapa jam.
 

180 Wartawan Tewas dalam Agresi Militer Saudi ke Yaman

KONFRONTASI - Uni Media Yaman mengumumkan invasi koalisi agresor pimpinan Arab Saudi ke Yaman dalam tiga tahun perang telah menewaskan 180 wartawan negara ini.

Seperti dilansir al-Masirah, Uni Media Yaman dalam pernyataan pada hari Kamis (3/5/2018) menandai Hari Kebebasan Pers Dunia, juga menyerukan penyelidikan internasional atas berbagai kejahatan pasukan agresor dan menuntut agar wartawan internasional diizinkan untuk meliput peristiwa di Yaman.

Pesta Pernikahan Dihantam Serangan Udara Saudi, 20 Nyawa Melayang

KONFRONTASI- Serangan udara koalisi militer pimpinan Arab Saudi telah membunuh paling sedikit 20 orang yang sedang menghadiri pernikahan di sebuah desa di Yaman barat laut, Minggu waktu setempat, kata warga dan sumber-sumber medis seperti dikutip Reuters.

Putera Mahkota Saudi Layak Diadili Terkait Kejahatan Perang di Yaman

KONFRONTASI - Kunjungan Putera Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman ke Paris disambut dengan aksi protes atas kejahatan perang dan pelanggaran HAM yang dilakukan rezim Al Saud di Yaman.

Bersamaan dengan kunjungan tersebut, organisasi HAM Yaman hari Selasa (10/4) menyerukan supaya Mohammed bin Salman diadili di penjara Perancis atas kejahatan perang yang dilakukannya di Yaman.

AS Desak Putra Mahkota Saudi Akhiri Perang di Yaman

KONFRONTASI - Menteri Pertahanan AS, Jim Mattis meminta Pangeran Mahkota Arab Saudi, Mohammad bin Salman untuk mencari solusi politik segera demi mengakhiri konflik selama tiga tahun yang menghancurkan negara tetangganya Yaman, dan telah merenggut nyawa ribuan orang serta merusak seluruh infrastruktur negara miskin itu.

Mattis dan bin Salman bertemu di Pentagon pada Kamis (22/3/2018) saat penguasa de facto kerajaan Arab Saudi itu sedang melakukan tur ke Amerika Serikat, yang dimulai awal pekan ini dengan kunjungan ke Gedung Putih.

Bom ISIS Hantam Pasukan Yaman, Lima Orang Tewas

Konfrontasi - Sebuah bom bunuh diri mengenai sekelompok pasukan Yaman yang sempat dilatih pemerintah Uni Emirat Arab di Aden, Selasa 13 Maret 2018. Ledakan menewaskan lima orang dan melukai belasan lainnya. 

Serangan terjadi di sebuah pangkalan militer Aden, yang operasionalnya didukung pemerintah UEA. Seorang sumber keamanan di Aden mengatakan pejalan kaki dan staf dapur di pangkalan militer ikut menjadi korban. 

Pages