29 February 2020

Terorisme

Revisi UU Antiterorisme Jangan Sampai Reduksi Kebebasan Pers

KONFRONTASI-Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat mengingatkan agar revisi UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme jangan atau tidak boleh mereduksi kemerdekaan pers.

Dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Selasa, terkait dengan serangan teroris berupa peledakan bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo, Jatim, dan percepatan penyelesaian revisi UU Terorisme, PWI Pusat memahami keinginan revisi Undang-Undan Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Menjadi Undang-Undang, dapat segera disetujui dan disahkan.

Namun, PWI dengan tegas mengingatkan agar UU tersebut harus tetap dalam koridor demokrasi dan menjaga kemerdekaan pers.

Revisi UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme tidak boleh mereduksi kemerdekaan pers, apalagi sampai membuat kemerdekaan pers terbelengu.

Revisi UU itu harus tetap dalam jalur demokrasi dan menjamin kebebasan menyatakan pendapat, termasuk menjalankan perintah agama.

Revisi UU Nomor 15 Tahun 2003 harus mencegah dan memberantas tindak terorisme sedini mungkin. Namun, tidak boleh memberikan cek kosong kepada penguasa untuk melanggar HAM.

Untuk itu, PWI mengingatkan, terorisme perlu diberantas sampai akar-akarnya, tetapi jangan sampai memadamkan tindak terorisme dengan cara yang mirip tindak terorisme juga.

DPR RI bersama pemerintah menjadwalkan percepatan penyelesaian RUU Perubahan atas UU No. 15/2003 mulai 18 Mei mendatang dan diharapkan pada bulan ini atau selambat-lambatnya Juni sudah dapat diselesaikan dengan disetujui dan disahkan menjadi UU baru.

4 Bomber Anak Selamat dari Ledakan, Polisi Sebut Ada Campur Tangan Tuhan

KONFRONTASI-Sejumlah fakta memilukan terkuak dari insiden serangan bom yang terjadi di wilayah Surabaya dan Sidoarjo, Minggu (13/5/2018) dan Senin (14/5/2018).

Para pelaku mengajak serta istri dan anak-anaknya saat melakukan aksi biadab itu.

Aksi teroris mengajak serta anak-anak Ini kali pertama terjadi di Indonesia.

Ironisnya, sebagian anak-anak itu tewas mengenaskan di aksi itu, meski ada beberapa yang selamat.

Kondisi anak teroris yang selamat ini cukup memilukan, berikut uraiannya.

Mala Per Se, Kejahatan Terhadap Hati Nurani

Oleh: Djoko Edhi S Abdurrahman 

Saya sependapat dengan Ketua Hukum PBNU, Robikin Emhas, agar presiden bikin Perpu Teroris saja. Sebab, jelas-jelas kehendak pemerintah pada UU Anti Teror itu, melanggar due process of law (menegakkan hukum dengan cara melawan hukum). Itu satu.

Kembali ke Pancasila dan UUD 45, Terorisme Bakal Lenyap dari Indonesia

KONFRONTASI - Advokasi Rakyat Untuk Nusantara (ARUN) menyampaikan Bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas korban Bom Surabaya yang terjadi pada beberapa tempat di Surabaya, Jawa Timur.

"Dengan kejadian ini kami atas nama segenap Pengurus DPP, kader dan simpatisan ARUN diseluruh Indonesia menyampaikan bela sungkawa dan turut berduka cita atas perbuatan keji tersebut." kata Ketua Umum DPP ARUN, Bob Hasan dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa.

Tito Karnavian: JAD di Balik Aksi Bom Gereja di Surabaya

KONFRONTASI --   Kepala Polisi Republik Indonesia (Polri) Jenderal Tito Karnavian menyebut pelaku serangan bom tiga gereja di Surabaya merupakan jaringan kelompok Jemaah Ansharut Daulah (JAD). Sebanyak 13 orang tewas dalam serangan tiga bom kemarin.

Menurut polisi serangan dilakukan oleh satu keluarga. Kepala keluarga pelaku; Dita Futrianto, diidentifikasi polisi sebagai kepala sel JAD setempat.

Dita Futrianto—laporan lain menyebut Dita Oepriarto—dilaporkan "menugaskan" istrinya, Puji Kuswati, dan dua putri mereka di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro, di mana mereka meledakkan diri. Kedua putri Puji—yang berusia 9 dan 12 tahun—memiliki bom diikat ke tubuh, seperti yang dilakukan ibu mereka.

Sedangkan Dita Fitrianto, kata polisi, pergi dengan mobilnya sendiri yang sarat bom ke dekat Gereja Pantekosta Pusat Surabaya.

Ada lagi dua remaja laki-laki berusia 16 dan 18 tahun mengendarai sepeda motor ke Gereja Katolik Santa Maria, dan meledakkan bahan peledak yang mereka bawa. Serangan pertama terjadi sekitar pukul 07.30 waktu setempat. Dua serangan lainnya berselang lima menit kemudian.

Seorang petugas keamanan mengatakan kepada kantor berita AP seorang tiba di GKI Diponegoro dengan membawa dua tas. Dia memaksa masuk ke dalam gereja, tapi dicegah penjaga keamanan.

"Tiba-tiba, dia memeluk seorang warga sipil, lalu (bom) meledak," kata saksi mata, yang mengidentifikasi dirinya sebagai Antonius. Wanita itu diduga kuat bernama Puji Kuswati.

Para pelaku juga disebut polisi baru pulang dari Suriah.

Kadin: Aksi Teror Tak Berdampak Pada Dunia Usaha

KONFRONTASI-Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P. Roeslani meyakini aksi teror yang terjadi di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, Minggu, tidak akan berdampak pada dunia usaha.

"Prospek investasi tetap terbuka luas karena dukungan perbaikan birokrasi dan pembangunan infrastruktur yang digalakkan pemerintah," kata Rosan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu.

Ia mengatakan aksi yang menyebabkan 13 warga meninggal dunia dan puluhan lainnya terluka itu juga tidak akan memengaruhi investasi di dalam negeri.

Terorisme Keluarga: Analisis Antropologi atas Fenomena Bom Bunuh Diri Sekeluarga di Surabaya dan Sidoarjo

Oleh: Al Chaidar
Dosen Departemen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."[Qur’an surah at-Tahrîm/66:6]

 

Ayo, Media Harus Ikut Berperan Lakukan Deradikalisasi

KONFRONTASI-Media harus membantu pemerintah dalam melakukan gerakan deradikalisasi melalui pemberitaan, guna menetralisir paham radikal yang berkembang saat ini, kata akademisi dari Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Nazhatut Thullab Dr Moh Wardi.

"Sebab, kalau kita perhatikan, aksi teror yang akhir-akhir ini semakin meluas, salah satunya karena pengaruh media," ujar Wardi dalam diskusi bertajuk "Islam, Media dan Terorisme" yang digelar Kahmi alumni IAIN Madura di Pamekasan, Jatim, Minggu (13/5) malam.

Mantan pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pamekasan itu, lebih lanjut menjelaskan deradikalisasi mengacu pada tindakan preventif kontraterorisme atau stratregi untuk menetralisir paham-paham yang dianggap radikal dan membahayakan dengan cara pendekatan tanpa kekerasan.

Tujuannya untuk mengembalikan para aktor terlibat yang memiliki pemahaman radikal untuk kembali ke jalan pemikiran yang lebih moderat.

Menurut Wardi, terorisme telah menjadi permasalahan serius bagi dunia internasional karena setiap saat akan membahayakan keamanan nasional.

Oleh karenanya, sambung dia, maka program deradikalisasi dibutuhkan sebagai formula penanggulangan dan pencegahan pemahaman radikal seperti terorisme.

Kemenangan kapitalisme pascaperang dingin, katanya, menjadikan media sebagai instrumen penting dalam mewujudkan misi gerakan.

"Maka media sebagai instrumen penting ini, hendaknya harus bisa diarahkan agar juga bisa menjadi alat membantu negara, dalam hal ini adalah melakukan upaya-upaya untuk mencegah radikalisme," katanya.

BNPT dan Pemerintah Singapura Bahas Penguatan Penanggulangan Terorisme

KONFRONTASI - Indonesia melalui Badan Nasional Penanggulagan Terorisme (BNPT) bersama Singapura berencana untuk meningkatkan kerjasama dalam bidang penanggulangan terorisme, apalagi selama ini Indonesia dinilai telah berhasil dalam mengatasi masalah terorisme.

Moeldoko: Kopassus Selalu Siap Tanggulangi Terorisme

Konfrontasi - Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko mengatakan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) tidak pernah berhenti berlatih menanggulangi dan menindak pelaku terorisme, selalu siap menghadapi potensi munculnya kejahatan itu.

"Saya pikir sampai saat ini tidak berubah, peran itu tetap melekat karena UU seperti itu bunyinya, hanya menunggu momentumnya," kata Moeldoko di Markas Kopassus, Cijantung, Jakarta, Sabtu (7/4/2018).

Pages