9 April 2020

Terorisme

Deradikalisasi Jangan Sekedar Seremonial

KONFRONTASI-Mantan narapidana terorisme Haris Amir Falah menilai program deradikalisasi yang selama ini dilakukan hanya sebatas ceremonial belaka, sehingga tidak ada tindaklanjut yang dilakukan terhadap orang-orang yang telah terpapar radikalisme.

“Kalau saya lihat deradikalisasi itu jangan sekadar dianggap seremonial. Artinya hanya ada kegiatan-kegiatan resmi, kemudian ada foto-foto, tapi tidak ada follow up,” kata Haris usai diskusi di Ibis Hotel Tamarin, Jakarta Pusat, Sabtu (7/3).

Jamaah Masjid Tangkap Pelaku Penikaman Muadzin di London Sebelum Diserahkan ke Polisi

Konfrontasi - Seorang pria sudah ditahan karena diduga merupakan penikam muadzin di London. Diketahui, seorang muadzin ditikam di Masjid Raya London. Masjid itu juga lebih dikenal dengan sebutan Central Mosque. Dia ditikam saat mengumandangkan azan salat Asar, hari Kamis, 20 Februari 2020 sekitar pukul 15.10 waktu setempat sebagaimana dilansir laman BBC.

Korban merupakan muadzin berusia 70 tahun. Dia diserang di dekat Regent's Park. Namun hingga saat ini polisi tak mengidentifikasi kasus ini sebagai kasus terorisme.

WNI Eks ISIS Tidak Boleh Dibiarkan 'Stateless'

KONFRONTASI-Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas Ham) Ahmad Taufan Damanik mengatakan berdasarkan aturan internasional, sebuah negara tak boleh membiarkan warga negaranya tak memiliki kewarganegaraan atau stateless. Hal ini disampaikan Taufan terkait status kewarganegaraan WNI eks ISIS yang telah membakar paspornya dan ingin pulang ke tanah air.

Butut Terbunuhnya Panglima Militer Iran dan Irak, AS Perbarui Sistem Peringatan Terorisme Nasional

Konfrontasi - Pada Sabtu (4/1/2020), Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat memperbarui Sistem Peringatan Terorisme Nasional (NTAS) di tengah memanasnya hubungan dengan Iran. Hubungan AS-Iran memanas setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan pasukannya menyerang rombongan Panglima Garda Revolusi Iran, Qassim Sulaimani pada Jumat (3/1).

Kelompok Teroris MIT Seharusnya Ditangani TNI

KONFRONTASI-Pengamat Terorisme Al Chaidar mengatakan, seharusnya kelompok terorisme Mujahid Indonesia Timur (MIT) ditangani oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan bukan ditumpas oleh Polri.

Menurut dia, kelompok kriminal bersenjata (KKR) pimpinan Ali Kalora itu melakukan gerakan teror menggunakan istilah tamkin.

"Tamkin itu ada terorisme organik teritorial, hanya bisa dilawan oleh aparat negara yang juga organik dan teritorial," ujar Chaidar dilansir Okezone, Sabtu (14/12/2019).

Mantan Returnis: Anak Milenial Harus Kritis Melawan Propaganda Radikalisme

KONFRONTASI - Terorisme adalah sebuah aksi yang tidak datang secara tiba-tiba. Tahapan seseorang memilih jalan kekerasan adalah diawali dengan kontaminasi doktrin radikalisme. Karena itulah, menyelematkan bangsa dari aksi terorisme sejalan dengan pentingnya menyelamatkan anak bangsa dari virus dan doktrin intoleransi, kebencian dan ajakan kekerasan yang bisa menyasar siapapun dan di manapun.

Soal Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan, Muhammadiyah: Usut Tuntas Dalang dan Motifnya

KONFRONTASI-Pimpinan Pusat Muhammadiyah meminta kepolisian untuk mengusut tuntas dalang dan motif penyerangan dalam ledakan bom bunuh diri yang terjadi di Polrestabes Medan, Sumatera Utara pada Rabu (13/11)  pukul 08.45 WIB.

"Polisi hendaknya mengusut tuntas dalang dan motif penyerangan dengan seksama," kata Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Muti saat dihubungi di Jakarta, Rabu.

Turki Benteng Terakhir antara Eropa dan Terorisme

KONFRONTASI - Kementerian Pertahanan Turki mengumumkan, negara ini adalah benteng terakhir antara Eropa dan terorisme.

Kantor berita Anadolu (3/11/2019) melaporkan, Kemenhan Turki mengatakan, Ankara bukan saja melindungi perbatasannya sendiri, tapi juga perbatasan NATO.

Menurut Kemenhan Turki, keamanan Turki adalah keamanan Eropa, terutama NATO dan Ankara berada di garda depan perang melawan terorisme.

Dari Terorisme ke Radikalisme: Islam Dibidik, Kaum Muslim Diadu-domba

Oleh: Arief B. Iskandar

Umat Islam di negeri ini sudah sekian lama disuguhi pemberitaan seputar radikalisme. Sebagian merasa jenuh. Sebagian lagi memandang media sudah kelewat batas dalam penyajian berita. Aparat juga cenderung membabi-buta dalam menyasar obyek-obyek yang diduga terkait dengan radikalisme ini, misalnya melakukan pengawasan terhadap agenda-agenda dakwah, bahkan menyisir ke sejumlah pesantren yang dianggap potensial melahirkan pikiran-pikiran radikal.

Efek Media dan Tindakan Aparat

AS ke Indonesia Perkuat Kerjasama Penanggulangan Terorisme

KONFRONTASI - Indonesia melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terus memperkuat kerjasama global dalam penanganan terorisme dan ekstremisme. Setelah beberapa hari lalu, Kepala BNPT Belanda (NCTV) datang berkunjung untuk membahas realisasi dari MoU yang ditandantangani antara BNPT dan NCTV di Belanda, Juni lalu, kini giliran delegasi Counter Terrorism Bureau, Department of State Amerika Serikat (AS) mengunjungi Indonesia untuk membahas penguatan kerjasama penanggulangan terorisme.

Pages