Puisi

MUSIM SIMULAKRUM (4 - Puisi Juftazani


Oleh:  Juftazani

Lama aku termenung di tepi langit
Aku amati lobang di beberapa titik
daun-daun berakrobatik – mencintai sesuatu
sayang semuanya semu
seorang anak baru gede hilang
setelah berkenalan dengan seseorang
melalui situs jejaring pertemanan
Tri Nurhayati, seorang gadis berusia 20 tahun
tersedot lobang hitam
yang diciptakan seorang lelaki bermental monyet
membawanya pergi
mengisap madunya
persis seperti monyet
merampok barang orang

Kritik Sosial Melalui Puisi

Oleh: Denny JA

"Memilih Bob Dyland untuk Nobel Sastra sama salahnya seperti memilih Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat." Demikianlah kritik Tim Stanley atas dipilihnya Bob Dyland sebagai pemenang Nobel Sastra 2016. Dunia sastrapun berguncang.

Puisi Denny JA: Taman Firdaus Itu

Oleh: Denny JA

Bulan dan matahari berjumpa
Malam dan siang bersapa
Di kepala Sidarta

60 tahun sudah usia Sidarta
Uban putih tumbuh di kepala
Keriput menghiasi mata
Badan tak lagi muda
Tapi masih bertanya
Taman firdaus itu dimana?

Kenangan itu tak pernah henti
Petuah mutiara dari guru mengaji
Masih bocah ia tapi sudah main hati
Direnungkannya dari malam hingga pagi

MUSIM SIMULAKRUM *(1 Puisi Juftazani

Oleh: Juftazani

 

Kita ada di musim simulakrum
Di musim simulakrum
Citra adalah pantulan mendasar dari realitas
Citra melenyapkan unsur alam dari kenyataan
Di musim simulacra - Citra menyelimuti ketidak-hadiran realitas
Di musim simulacra - Citra tak memiliki hubungan apapun dengan kenyataan
Dengan kenyataan – semua hanyalah kebohongan belaka

 

MUSIM SUKMA

Puisi: Juftazani

 

 

Denting piano yang mengalun indah
Di jiwa – jiwa yang pasrah
Kini luruh bagai debu
Diruntuhkan waktu yang merajuk pilu
Adakah denting cinta bergetar dalam darah, dalam sukma,
Dalam jiwa dan seluruh waktu longsor
Bagai longsornya tanah-tanah bukit yang tak mampu ditahan
Oleh genggaman tanganmu
Yang lembut dan pasrah
Akan segala takdir yang menimpa?

Jakarta, 10 – 11 -2014

Mencari Muhammad - Puisi Chavchay Syaifullah

kutabur tabik di pintu kotamu debu tertabur di padang tandus angin menaburkan zikir di bukit batu-batu doa-doa ahli dosa bertaburan senja sudah khatam di madinah tapi kamar hotel masih terkunci orang-orang bergegas meninggalkan lorong-lorong azan maghrib masih berkumandang aku mencarimu aku dicekik sepi aku mencari kaidah zaman tapi cakrawala masih menyembunyikannya langkah kaki makin lelah dosa-dosa masih tertata di hati yang ungu yang makin beku ya Allah, inikah kota nabiku? dari sebelah mana ia memanggilku? dari hotel ke hotel tak kutemukan

Catatan 1989 (7)

(Peringatan untuk rezim penguasa yang menindas, dimanapun, kapanpun dan kepada siapapun)

oleh:  Juftazani

Musim berlalu, seorang gadis termangu
Di Tiannanmen yang biru
Pagi mengirim matahari berlari dan anak-anak yang melaju
Menapaktilasi langkah-langkah sejarah membisu

Pages