Puisi

Musim Yang Teratur - Puisi

Oleh:  Juftazani

kuingat ketika kecilmu
ruhmu dipenuhi taman-taman indah
dengan musim yang teratur
tapi sekian tahun kemudian
tamanmu dipenuhi semak perdu yang tak menganggu
o betapa sedihnya hati ini
ketika kutemukan tamanmu telah menjadi hutan rimba

Puisi Denny JA: Adikku di Ruang Publik

Oleh: Denny JA

Semalam aku jumpa Rosa, adikku sayang.
Ia dulu berapi-api, perjuangkan hak asasi. Lima tahun ia di gelanggang, 
Bertarung mengubah hati.
Bermimpi pada waktunya ini negeri berubah.

Tapi malam itu kulihat Rosa yang beda.
Di bening matanya, kulihat merpati yang luka.
Wahai bunga mawar itu masih tumbuh,
tapi layu.
Ada apa adikku?

MAHASISWA - Puisi Najwa

Oleh:   Najwa Sihab-

 

 

Mahasiswa masa kini
Menjadikan forum diskusi
Sebagai ajang pamer intelegensi
Menjatuhkan yang lain demi meninggikan gengsi

Hobinya mengkritisi
Tapi tak sanggup berkontribusi
Berlagak politisi
Tapi masih ciut dihadapan birokrasi
Banyak menjadi mahasiswa wifi
Yang diam dan bungkam dijejal koneksi

Belajar jujur dikata individualis
Tak memberi contekkan katanya tak etis
Open brain tanpa open internet dibilang tak realistis
Miris..

Puisi Denny JA: Dimana Salah Kita?

Oleh: Denny JA

(Suatu hari di tahun 2017,
seorang tokoh pidato membakar,
di atas panggung, disaksikan puluhan ribu hadirin. Kunang kunang menyala di matanya).

Dimana salah kita?
Soal jumlah rakyat, kita nomor empat terbesar di dunia.
Soal kekayaan alam, kita tiada pula kalah.
Oh ini negeri raksasa.

Kudengar Rohingya Memanggil

Oleh: Denny JA

Dan dari kerumunan itu,
berdiri Rosa mengajukan pertanyaan.
"Guru, ceritakan pada kami soal Rohingya.
Apa yang harus kami lakukan?"

Sang Guru menghela nafas
Bicara kepada semua
Matanya menatap langit
Ujar Guru:

Ketika kau dengar para ibu menangis
Karena bayi mereka dibunuh
Ketika kau lihat para Ayah meraung
Karena anak gadis mereka diperkosa
Tahulah dirimu
Bumi sedang berduka

"Yerusalem" - Puisi Herdi Sahrasad

 

kita tertidur di halaman Musa yang kelam
kata-kata menjadi garam
gerimis berkeluh
dari gapura senja yang runtuh

sinagoga, masjid, dan gereja yang mengejar
suaramu hingga pegunungan yang jauh
tapi ledakan bom dan pembantaian di Hebron
memuntahkan kembali pemberontakan, gemuruh
airmata pecah, berpisah
seperti daun-daun zaitun jatuh ke tanah

pedih dari pohon-pohon menghitam
lebih legam dari lorong-lorong pelacur
yang melulur dan muram

Puisi Muhammad Hatta

Oleh : Muhammad Hatta

 

Lihatlah timur indah berwarna
Fajar menyingsing haripun siang
Syamsu memancarkan sinar yang terang
Khayal tersenyum berpanca indera

Angin sepoi bertiup dari angkasa
Merembus ke tanah, ranting diguncang
Margasatwa melompat keluar sarang
Melihat beranta indera indah semata

Langit lazuardi teranglah sudah
Bintangpun hilang berganti-ganti
Cahaya Zuhari mulai muram

100 Penyair Lolos Seleksi Untuk Buku Bertajuk Tentang Masjid

KONFRONTASI-Dewan juri telah menyeleksi 100 puisi dari 247 puisi yang telah diterima panitia penyusunan buku antologi puisi bertajuk Tentang Masjid. Dewan juri yang terdiri dari Chavchay Syaifullah, Imam Suhardjo, dan HM Soerasa melakukan penilaian berdasarkan kesesuaian tema yang telah ditetapkan panitia, yaitu tentang masjid atau hal, peristiwa, kondisi juga pengalaman yang berhubungan dengan masjid. Selain kesesuaian tema, penguasaan bahasa dan daya ucap sastrawi, juga menjadi perhatian penting dewan juri. 

Duka Orang Kaya dan Rasa Bahagia

Oleh: Denny JA

Suatu pagi yang fana
Duka maha tuan bertahta
Bermula dari kata
Yang menetes air mata

Ialah suatu pagi
Di tahun 2009 yang perih
Di musim salju yang tinggi
Di Dresden yang sunyi
Tertulis satu kalimat sedih
Dalam surat yang lirih
"Istriku, maafkan aku"

Sang istri terpana
Kepada diri, ia bertanya
Suamiku, ada apa?
Setiap huruf di surat itu
Mengabarkan rasa pilu
Air mata menggenang di situ

Pages