Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi Bisa Minus 0,45% Gara-gara Corona

KONFRONTASI-Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memperkirakan angka pertumbuhan ekonomi pada tahun ini berada di kisaran -0,45% hingga 2,3%. Hal ini memperhatikan kondisi dari perekonomian global yang terdampak oleh wabah virus Corona.

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, kondisi pererkonomian global saat ini masih belum menentu. Wabah virus Corona yang menghantam hampir semua negara di dunia membuat lembaga-lembaga internasional masih kesulitan memprediksi pertumbuhan ekonomi global.

Strategi Jokowi dorong pertumbuhan ekonomi di tengah ancaman perlambatan global

KONFRONTASI -    Presiden Joko Widodo meminta para menteri agar mempercepat belanja kementerian dan lembaga untuk mengantisipasi pelemahan ekonomi global. Dengan percepatan belanja, diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pasalnya saat ini ekonomi dunia dinilai masih mengalami ketidakpastian dan dapat menekan perekonomian Indonesia.

'Ambyar’ Sudah Angka Keramat Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen yang Mati-matian Dijaga Pemerintah

Oleh: Edy  Mulyadi

 

 

EKONOMI Indonesia adalah ekonomi gelembung. Ekonomi yang dibangun dengan gelembung-gelembung persepsi, ‘doping’, dan artifisial. Angka pertumbuhan yang mandeg di 5% ternyata buah dari persepsi yang dibangun dengan ‘public relations‘ (PR) dan perilaku tak elok dalam berbisnis. Terungkapnya skandal mega korupsi Jiwasraya, Asabri, Garuda, Bumiputera, dan sederet BUMN raksasa lain adalah beberapa contoh saja dari gelembung-gelembung ekonomi.

Kacau, Pertumbuhan Ekonomi RI di Bawah 5%, Pemerintah Ngapain Aja?

KONFRONTASI-Realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia boleh dibilang mengecewakan. Pada kuartal terakhir 2019, ekonomi Tanah Air tumbuh di bawah 5%.

Hari ini, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi terbaru, Pada kuartal IV-2019, pertumbuhan ekonomi tercatat 4,97% year-on-year (YoY). Di bawah konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia yaitu 5,04% sekaligus menjadi catatan terendah sejak kuartal IV-2016.

Pemerintah Dianggap Belum Optimal Kelola Turbulensi Ekonomi Global

KONFRONTASI-Pemerintah diharapkan mengeluarkan kebijakan yang benar-benar menggenjot investasi asing untuk masuk secara langsung dan jangan bergantung kepada faktor konsumsi domestik, dalam rangka mengatasi volatilitas perekonomian global.
Anggota Komisi XI DPR RI Junaidi Auly dalam rilis yang diterima di Jakarta, Rabu, menyatakan bahwa pemerintah masih belum optimal dalam rangka mengelola turbulensi ekonomi global.

Jangan Mimpi RI Keluar dari ‘Middle Income Trap’ Jika Pertumbuhan Ekonomi Hanya 5 Persen

KONFRONTASI-Peneliti ekonomi dari Pergerakan Kedaulatan Rakyat (PKR) Gede Sandra menyayangkan proyeksi Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tersebut, yang menurutnya jauh dari akurat.

Proyeksikan ini terkait Indonesia yang akan keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah atau ‘middle income trap’ tahun 2036, karena salah satunya didorong kekuatan sumber daya manusia (SDM).

Menurut Kemenkeu, tahun 2036 diperkirakan pendapatan masyarakat mencapai sekitar 12.233 dolar AS per kapita dan terus melonjak hingga 23.199 dolar AS per kapita tahun 2045.

Pertumbuhan Ekonomi Makin Anjlok

KONFRONTASI-Badan Pusat Statistik (BPS) pada Selasa (5/11/19) lalu melaporkan data pertumbuhan ekonomi kuartal III-2019. Pertumbuhan ekonomi yang dilihat dari produk domestik bruto (PDB) tumbuh 5,02% secara tahunan atau year-on-year (YoY) di kuartal III-2019.

PDB tersebut melambat dibandingkan dengan kuartal I dan II-2019 yang tumbuh 5,07% dan 5,05%. PDB kuartal III bahkan menjadi yang terendah sejak kuartal II 2017.

Akuilah, Ekonomi RI Tidak Baik-baik Saja

KONFRONTASI-Perlambatan ekonomi domestik semakin nyata di depan mata. Berbagai data terbaru menggambarkan bahwa ekonomi Indonesia tidak baik-baik saja.

Teranyar, Bank Indonesia (BI) merilis data penjualan ritel periode September yang hanya tumbuh 0,7% year-on-year (YoY). Melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 1,1% dan menjadi laju terlemah sejak Juni.

Secara kuartalan, BI menyebut penjualan ritel pada kuartal III-2019 tumbuh 1,4% YoY. Melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang mampu naik 4,2% YoY, apalagi periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatatkan pertumbuhan 4,6% YoY.

Kemarin, BI sudah mengumumkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang juga menunjukkan perlambatan. IKK pada Oktober berada di 118,4, turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 121,8.

IKK menggunakan angka 100 sebagai titik awal. Angka di atas 100 menandakan konsumen masih optimistis menghadapi kondisi perekonomian saat ini dan masa mendatang.

Namun IKK Indonesia menunjukkan penurunan yang konsisten dalam lima bulan terakhir. Bahkan angka Oktober merupakan yang terendah sejak Februari 2017. Artinya, tingkat optimisme konsumen kian luntur.

Dua hal ini menjadi penegas bahwa konsumsi rumah tangga domestik sedang melambat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi rumah tangga tumbuh 5,01% pada kuartal III-2019. Melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 5,17% dan menjadi laju terlemah sejak kuartal III-2018.

Padahal konsumsi rumah tangga adalah kontributor utama pembentuk Produk Domestik Bruto (PDB). Pada kuartal III-2019, peranan konsumsi rumah tangga mencapai 56,52%. Tidak heran kala konsumsi rumah tangga melambat pertumbuhan ekonomi juga ikut lesu menjadi 'hanya' 5,02%, terendah sejak kuartal II-2017.

Masih Kecanduan Komoditas

Inilah akibatnya kalau perekonomian masih bergantung kepada komoditas. Berdasarkan data BPS, ekspor Indonesia didominasi oleh lemak dan minyak hewan/nabati (terutama minyak sawit mentah/CPO) dan bahan bakar mineral (utamanya batu bara).

Sepanjang 2019 harga batu bara acuan di pasar ICE Newcastle (Australia) anjlok 32,94%. Akibatnya, laba perusahaan batu bara turun parah. Selama Januari-September 2019, laba PT Bayan Resources Tbk (BYAN) ambrol 45,99% sementara PT Indika Energy Tbk (INDY) dan PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM) malah berbalik dari untung menjadi buntung.

Begitu korporasi minim laba, maka dampaknya tentu dirasakan oleh para karyawannya. Konsumsi rumah tangga pun terpukul.

Oleh karena itu, jangan pernah bosan untuk mengingatkan para pembuat kebijakan agar membangun industri pengolahan/manufaktur. Sumber daya alam Ibu Pertiwi yang begitu melimpah jangan dijual begitu saja. Jadikan sebagai bahan baku untuk industri manufaktur.

Dengan begitu, Indonesia akan menikmati nilai tambah dari sumber daya alam. Lapangan kerja pun terbuka luas, sehingga pada akhirnya mampu mendongkrak konsumsi rumah tangga.

Masalahnya, deindustrialisasi di Indonesia sudah sulit untuk disangkal. Sudah cukup lama pertumbuhan industri manufaktur berada di bawah pertumbuhan ekonomi umum.

Fitch Proyeksikan Ekonomi RI Hanya akan Tumbuh 5,1%

KONFRONTASI-Lembaga riset internasional, Fitch Solutions, merevisi target pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ini dilakukan setelah menyimak rilis pertumbuhan ekonomi yang disampaikan BPS kemarin yang menunjukkan perekonomian Indonesia bergerak stagnan cenderung melemah.

Dalam riset yang dirilis hari ini (6/11/2019) dengan tajuk "Indonesia's new government will boost economy with stimulus", Fitch Solutions mengestimasi ekonomi Indonesia di tahun 2019 tumbuh 5,1% dari sebelumnya diproyeksi tumbuh 5,3%. Kemudian untuk tahun 2020, ekonomi Ibu Pertiwi dianalisa tumbuh 5,2% dari sebelumnya diestimasi tumbuh 5,4%.

Fitch Solutions memutuskan untuk merevisi target pertumbuhan ekonomi Indonesia karena tingkat permintaan domestik terus memperlihatkan tren pelemahan, di mana hal ini tercermin dari pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang pada kuartal kemarin tercatat sebesar 5% YoY (year-on-year) dari sebelumnya 5,2% YoY di kuartal II-2019.

Penurunan permintaan juga terlihat dari koreksi signifikan pada impor produk dan jasa yang tercatat anjlok 9% YoY di kuartal III-2019, dari sebelumnya hanya melemah 6,7% YoY di kuartal sebelumnya.

Sedangkan untuk ekspor masih mampu mencatatkan pertumbuhan positif dengan naik tipis 0,02% YoY sepanjang kuartal kemarin. Akan tetapi patut dicermati bahwa pada 9 bulan pertama tahun 2019, total ekspor Indonesia anjlok 8% YoY sebagai dampak dari perang dagang AS-China yang berkelanjutan, penurunan harga komoditas, dan ketidakpastian politik dalam negeri karena pemilihan presiden.

Selain itu dari sisi investasi, yakni penanaman modal tetap bruto (PMTB) juga melambat dari 5% pada periode April-Juni 2019, menjadi hanya 4,2% pada Juli-September 2019.

Lebih lanjut, Fitch Solutions menganalisa bahwa tren perlambatan permintaan domestik masih akan dialami hingga akhir tahun.

Pasalnya rilis data angka PMI (Purchasing Manager Index) di bulan Oktober tercatat hanya sebesar 47,7 poin, turun dari perolehan September yang ada di 49,1 poin. Capaian tersebut mengindikasikan bahwa jumlah pesanan yang masuk terus menurun yang membuat pelaku usaha enggan berekspansi.

Untuk diketahui angka di bawah 50 menandakan dunia usaha tidak melakukan ekspansi bisnis, dan sebaliknya.

Perolehan tersebut sejalan dengan data pertumbuhan kredit yang dihimpun oleh Bank Indonesia (BI), di mana pada bulan Agustus total kredit hanya tumbuh 8,7% YoY dibandingkan dengan pertumbuhan akhir tahun lalu yang sebesar 12% YoY.

Pages