17 November 2019

pendidikan

Mantan Bos Gojek dan Arah Pendidikan Indonesia

Oleh: Ita Mumtaz

Dunia pendidikan dibuat geger dengan keputusan Presiden Jokowi yang mendaulat seorang mantan CEO Gojek sebagai menteri pendidikan.

Memang sudah biasa terjadi, program pendidikan di Indonesia selalu berganti, seolah anak didik dicoba-coba sebagai kelinci. Tergantung siapa yang duduk di kursi menteri.

Ini Kata Pengamat: 99 Persen Pemda Tidak Mengalokasikan Minimal 20 Persen APBD Murni untuk Pendidikan

BANGUNAN sekolah yang ambruk di Sekolah Dasar (SD) Negeri Gentong, Kecamatan Gadingrejo, Pasuruan, Jawa Timur, Selasa 5 November 2019. Seorang guru dan seorang siswa tewas, sementara 11 siswa lainnya mengalami luka-luka.*/ANTARA FOTO

 

KONFRONTASI -  Tragedi bangunan sekolah ambruk terus berulang. Selain menghambat proses kegiatan belajar mengajar, hal tersebut juga tidak jarang menimbulkan korban jiwa. Seperti yang terjadi di SD Negeri Gentong I Kota Pasuruan, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

Sekolah Ambruk di Pasuruan Terakhir Direnovasi 2012

KONFRONTASI-Sekretariat Daerah Pemkot Pasuruan, Jawa Timur Bahrul Ulum menyatakan jika bangunan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Gentong, Kota Pasuruan, yang ambruk hingga mengakibatkan dua orang tewas, terakhir direnovasi tahun 2012.

"Setelah saya tanyakan kepada Dinas Pendidikan Kota Pasuruan, bangunan itu direnovasi tahun 2012 dengan menggunakan DAK senilai Rp256 juta," katanya di Kota Pasuruan, Rabu.

Lapor Pak Nadiem! Siswa SDN di Lebak 8 Tahun Belajar 'Ngedeprok' Tanpa Kursi dan Meja

KONFRONTASI- Puluhan siswa SD Negeri 2 Pasirkupa, Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak, Banten terpaksa belajar tanpa kursi dan meja. Mereka terpaksa belajar sambil lesehan beralaskan karpet kotor selama 8 tahun.

Kepala Sekolah SD Negeri 2 Pasirkupa, Huriyati mengatakan, aktivitas belajar mengajar tidak layak tersebut karena gedung sekolahnya kekurangan ruang kelas. Sehingga, para siswa terpaksa belajar menumpang di madrasah yang tidak memiliki kursi dan meja.

3 Cara Kenali Bakat Anak

KONFRONTASI- Bakat anak tidak akan muncul begitu saja tetapi perlu ditemukan dan penggalian bakat itu butuh proses, demikian disampaikan psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo.

"Orang tua tidak bisa memaksa. Tidak ada vitamin supaya bakat kelihatan, harus mengobservasi, dari hari ke hari apa bakat anak mereka," kata Vera dalam acara Road to Erlangga Talent Week (ETW) 2019 di Jakarta, Rabu.

Tak Perlu Emosi Jika Balita Mengamuk

KONFRONTASI-Anak usia 1-4 tahun bisa mengalami tantrum di mana ia meluapkan emosi dengan cara berguling-guling, melempar barang dan menangis kencang. Jangan langsung emosi ketika anak mengamuk, ada beberapa cara untuk menghadapinya.

Dokter Merry Dame Cristy Pane dari ALODOKTER dalam siaran pers, Sabtu, mengemukakan empat cara menghentikan tantrum pada anak.

Berharap Dana Pendidikan dari IKN

Oleh Isromiyah SH
Pemerhati Generasi

Kadisdik: Kabupaten Garut Butuh 3.800 Guru PNS

Konfrontasi - Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Jawa Barat, menyatakan, saat ini Garut membutuhkan ribuan guru berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk sekolah tingkat SD dan SMP di seluruh kecamatan terutama wilayah Selatan Garut yang selama ini diisi oleh guru honorer.

"Kekurangan guru PNS di Garut ini mencapai tiga ribu delapan ratusan untuk guru sekolah dasar dan sekolah menengah pertama," kata Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Totong di Garut, Jumat (13/9/2019).

Disertasi Seks Halal di Luar Nikah Picu Kontroversi dan Kecaman

KONFRONTASI-Mahasiswa Universitas Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta bernama Abdul Aziz mendadak menghebohkan jagat maya karena disertasinya yang kontroversial. Dalam disertasi yang berjudul 'Konsep Milk al-Yamin Muhammad Syahrur sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Nonmarital' menyatakan bahwa hubungan seks dibolehkan di luar nikah.

Jangan Biarkan Gadget Jadi 'Predator' untuk Anak

KONFRONTASI- Lompatan teknologi yang begitu tajam telah mempengaruhi gerak hidup masyarakat dewasa ini. Kebutuhan masyarakat akan smartphone atau ponsel pintar pun kian meningkat, seiring dengan kemunculan ponsel-ponsel baru dengan spesifikasi yang lebih memuaskan. Tak ayal penggunaan smartphone sudah menjadi pemandangan lumrah di masyarakat, tak terkecuali anak-anak.

Penggunaan gadget sendiri bisa berdampak positif maupun negatif bagi anak-anak yang terbiasa menggunakan alat bantu tersebut. Sayangnya, banyak orangtua yang cenderung lalai mengawasi anak bermain ponsel, sehingga berakibat "kecolongan". Ponsel anak pun kerap dipenuhi konten-konten yang mengandung unsur pornografi, kekerasan, dan lainnya.

Psikolog anak dan dosen pro di Psikologi Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi, Magdalena Hanoum, menyebutkan penggunaan gadget pada anak diperbolehkan selama mendapat pengawasan ketat dari orangtua. Namun perlu disesuaikan dengan tingkat usia serta kebutuhan si anak. Hal ini demi menghindari dampak buruk yang bisa menimpa anak-anak sejak dini.

"Kalau anak sudah bisa menggunakan alat bantu, bisa diperbolehkan menggunakan gadget. Tapi harus diperhatikan kegunaannya untuk apa, disesuaikan dengan kebutuhan anak. Misalnya, anak balita untuk bermain, oke. Gunakan gadget yang hanya bisa digunakan untuk bermain, tidak memiliki konten lain selain permainan. Jika sudah SD butuh gadget untuk komunikasi, boleh. Jadi dibatasi sebatas kebutuhan untuk anak," katanya kepada Okezone, Jum'at (9/8/2019).

Menurut Hanoem, pemberian gadget yang asal kepada anak, atau bisa dibilang hanya sekedar mengikuti tren, hanya akan memberikan dampak buruk terhadap perkembangan anak. Apalagi jika minim pengawasan dari orangtua, justru akan membuat anak semakin leluasa berselancar di dunia maya. Terlebih ditengah kemudahan akses internet saat ini yang banyak memuat konten-konten negatif.

"Berilah gadget yang sesuai dengan kebutuhan anak. Jadi gadget itu diperbolehkan ketika disesuaikan dengan tingkat usia dan kebutuhan. Karena anak-anak itu belum bisa menggunakan alat sesuai keinginan mereka. Jadi orangtua harus bisa membatasi gadget yang seperti apa, konten seperti apa yang dibutuhkan anak-anak," ujarnya.

Pages