22 September 2019

pendidikan

Berharap Dana Pendidikan dari IKN

Oleh Isromiyah SH
Pemerhati Generasi

Kadisdik: Kabupaten Garut Butuh 3.800 Guru PNS

Konfrontasi - Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Jawa Barat, menyatakan, saat ini Garut membutuhkan ribuan guru berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk sekolah tingkat SD dan SMP di seluruh kecamatan terutama wilayah Selatan Garut yang selama ini diisi oleh guru honorer.

"Kekurangan guru PNS di Garut ini mencapai tiga ribu delapan ratusan untuk guru sekolah dasar dan sekolah menengah pertama," kata Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Totong di Garut, Jumat (13/9/2019).

Disertasi Seks Halal di Luar Nikah Picu Kontroversi dan Kecaman

KONFRONTASI-Mahasiswa Universitas Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta bernama Abdul Aziz mendadak menghebohkan jagat maya karena disertasinya yang kontroversial. Dalam disertasi yang berjudul 'Konsep Milk al-Yamin Muhammad Syahrur sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Nonmarital' menyatakan bahwa hubungan seks dibolehkan di luar nikah.

Jangan Biarkan Gadget Jadi 'Predator' untuk Anak

KONFRONTASI- Lompatan teknologi yang begitu tajam telah mempengaruhi gerak hidup masyarakat dewasa ini. Kebutuhan masyarakat akan smartphone atau ponsel pintar pun kian meningkat, seiring dengan kemunculan ponsel-ponsel baru dengan spesifikasi yang lebih memuaskan. Tak ayal penggunaan smartphone sudah menjadi pemandangan lumrah di masyarakat, tak terkecuali anak-anak.

Penggunaan gadget sendiri bisa berdampak positif maupun negatif bagi anak-anak yang terbiasa menggunakan alat bantu tersebut. Sayangnya, banyak orangtua yang cenderung lalai mengawasi anak bermain ponsel, sehingga berakibat "kecolongan". Ponsel anak pun kerap dipenuhi konten-konten yang mengandung unsur pornografi, kekerasan, dan lainnya.

Psikolog anak dan dosen pro di Psikologi Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi, Magdalena Hanoum, menyebutkan penggunaan gadget pada anak diperbolehkan selama mendapat pengawasan ketat dari orangtua. Namun perlu disesuaikan dengan tingkat usia serta kebutuhan si anak. Hal ini demi menghindari dampak buruk yang bisa menimpa anak-anak sejak dini.

"Kalau anak sudah bisa menggunakan alat bantu, bisa diperbolehkan menggunakan gadget. Tapi harus diperhatikan kegunaannya untuk apa, disesuaikan dengan kebutuhan anak. Misalnya, anak balita untuk bermain, oke. Gunakan gadget yang hanya bisa digunakan untuk bermain, tidak memiliki konten lain selain permainan. Jika sudah SD butuh gadget untuk komunikasi, boleh. Jadi dibatasi sebatas kebutuhan untuk anak," katanya kepada Okezone, Jum'at (9/8/2019).

Menurut Hanoem, pemberian gadget yang asal kepada anak, atau bisa dibilang hanya sekedar mengikuti tren, hanya akan memberikan dampak buruk terhadap perkembangan anak. Apalagi jika minim pengawasan dari orangtua, justru akan membuat anak semakin leluasa berselancar di dunia maya. Terlebih ditengah kemudahan akses internet saat ini yang banyak memuat konten-konten negatif.

"Berilah gadget yang sesuai dengan kebutuhan anak. Jadi gadget itu diperbolehkan ketika disesuaikan dengan tingkat usia dan kebutuhan. Karena anak-anak itu belum bisa menggunakan alat sesuai keinginan mereka. Jadi orangtua harus bisa membatasi gadget yang seperti apa, konten seperti apa yang dibutuhkan anak-anak," ujarnya.

Soal Rencana Impor Rektor Asing, Rektor UIN Yogya Anggap Menristekdikti Tak Paham Soal Pendidikan

KONFRONTASI- Rektor UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Yudian Wahyudi, dengan tegas menolak wacana Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Muhammad Nasir, mendatangkan rektor asing ke Indonesia.

Yudian bahkan menyebut Menristekdikti bodoh karena tidak paham masalah pendidikan nasional hingga nekat berencana mengimpor rektor asing.

"Harusnya (Menristek) tanya dulu kenapa kita tidak masuk seratus besar (PT terbaik dunia), terus lihat kenapa Singapura masuk, jangan malah mengundang rektor asing," kata Yudian, Rabu (7/8/2019).

Impor Rektor Asing Bukan Solusi Tingkatkan Ranking

KONFRONTASI-Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) menyatakan bahwa perekrutan dosen dan rektor asing bukanlah solusi yang tepat dalam meningkatkan ranking perguruan tinggi menjadi perguruan tinggi kelas dunia.

"Mendatangkan rektor asing bukan solusi untuk peningkatan ranking universitas. Tidak terlalu mendesak kalau menurut saya, karena mengelola pendidikan memerlukan niat baik,," ujar Ketua Tim Advokasi ADI, Prof Faisal Santiago, dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.

Inilah Kenapa Pendidikan Harus Diatur Dengan Islam

Oleh: Fitriyani
Mahasiswi Polinema

Dunia Pendidikan Tercoreng Kasus MOS

Oleh : Aishaa Rahma
Pegiat Sekolah Bunda Sholiha, Malang

UGM Pajaki Dosen, Protes Mencuat

KONFRONTASI-Keputusan pimpinan Universitas Gadjah Mada yang menarik pajak penghasilan dari para dosen menuai respon negatif. Sejumlah dosen pun mengaku kecewa dengan keputusan tersebut.

“Ketika pemotongan pajak, terjadi kekacauan yang dilakukan pihak pemotong pajak, dalam hal ini pimpinan universitas,” kata Dekan Fakultas Hukum UGM Sigit Riyanto beberapa waktu lalu.

Persoalan pemotongan pajak ini sendiri muncul setelah penetapan perguruan tinggi negeri badan hukum, termasuk UGM, sebagai pengusaha kena pajak.

Tak Kenal Putus Asa, Difabel Indonesia Ini Akhirnya Raih Gelar Doktor di Australia

KONFRONTASI-Prinsip hidupnya, siapapun yang berusaha keras akan mencapai keberhasilan. Prinsip itulah yang membuat Antoni Tsaputra mampu menyelesaikan pendidikan doktoral di Universitas New South Wales - walau dia seorang penyandang disabilitas fisik berat.

Sekarang Antoni Tsaputra dan istrinya Yuki Melani yang menemaninya selama beberapa tahun di Sydney, sudah kembali ke Padang (Sumatra Barat) untuk bekerja dan menyesuaikan diri dengan kehidupan di Indonesia - yang belum ramah disabilitas.

Pages