9 December 2019

Ade Komaruddin

Akom Pernah Minta Ical Ingatkan Novanto agar Tak Terlibat Proyek e-KTP

KONFRONTASI-Dalam persidangan perkara dugaan korupsi e-KTP dengan terdakwa Andi Agustinus alias Andi Narogong di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (16/10), Mantan Sekretaris Fraksi Golkar di DPR, Ade Komarudin (Akom) mengaku sempat khawatir dengan keterlibatan koleganya Setya Novanto (Setnov) yang saat itu menjabat ketua Fraksi Golkar dalam proyek pengadaan e-KTP. Akom sempat mendengar mengenai keterlibatan Novanto dalam proyek senilai Rp 5,9 triliun itu dari pemberitaan media.

Terseret Kasus e-KTP, Ini Pembelaan Akom

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengklarifikasi kepada mantan Ketua DPR RI Ade Komarudin (Akom) terkait namanya yang disebut menerima aliran dana KTP-e sebagaimana tercantum dalam putusan Majelis Hakim dengan terdakwa Irman dan Sugiharto .

"Terhadap saksi Ade Komarudin, penyidik mengklarifikasi indikasi aliran dana sebagaimana tercantum dalam pertimbangan hakim dalam putusan kasus KTP-e dengan terdakwa Irman dan Sugiharto," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Jakarta, Kamis.

KPK memeriksa Ade Komarudin untuk tersangka Setya Novanto dalam penyidikan tindak pidana korupsi pengadaan paket penerapan Kartu Tanda Penduduk berbasis Nomor Induk Kependudukan secara nasional (KTP-e).

Ade Komarudin menyatakan bahwa dirinya tidak pernah menjadi anggota Komisi II DPR RI saat pembahasan proyek pengadaan KTP-elektronik terjadi.

"Saya ingin jelaskan ke teman-teman agar pemberitaan sesuai dengan fakta persidangan. Misal, saya anggota Komisi II padahal saya ini dari 1997 anggota DPR sampai hari ini saya tidak pernah jadi anggota Komisi II," kata Ade seusai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Kamis.

Terkait hal itu, Ade mengatakan bahwa dirinya tidak terlibat dalam proses KTP-e mulai dari perencanaan, pembahasan maupun pelaksanaan proyek tersebut karena pada saat itu dirinya bertugas di Komisi XI.

"Saya tidak terlibat semuanya karena saya anggota Komisi XI. Sekarang saya anggota Komisi IX," kata Ade.

Ia pun menyatakan bahwa materi pemeriksaan kali ini sama seperti saat dirinya diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Irman dan Sugiharto serta Andi Agustinus alias Andi Narogong.

"Sama seperti yang lalu. Cuma konfirmasi dan tidak ada tambahan apa pun," kata Ade.

Sementara itu, terkait namanya yang turut disebut menerima 100 ribu dolar AS aliran dana proyek KTP-e pada putusan majelis hakim pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dengan terdakwa Irman dan Sugiharto, Ade menyatakan tidak terlalu memikirkannya.

"Saya lihat yang dibacakan Hakim saya pikir biasa-biasa saja, tidak ada apa-apa. Kalau soal penilaian, saya dengar Jaksa juga banding. Tetapi apa pun itu nanti kita lihat lagi," ucap Ade.

Sebelumnya, KPK telah memeriksa Ade Komarudin untuk tersangka Andi Agustinus alias Andi Narogong dalam kasus yang sama.

"Tidak ada yang berubah, waktu dipanggil untuk tersangka Irman dan Sugiharto sekarang kan tersangkanya Andi Narogong, pada waktu itu saya juga menyampaikan tidak kenal Andi Narogong. Tadi sama, pertanyaannya tak banyak berubah dan jawabannya juga seputar itu," kata Ade seusai diperiksa di gedung KPK, Jakarta, Kamis (13/7).

Ade pun membantah telah menerima aliran dana KTP-e dari mantan mantan Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Irman yang dikirim oleh Ketua Panitia Pengadaan Proyek KTP-e saat itu Drajat Wisnu Setyawan.

"Kan bapak-bapak dan ibu-ibu sudah tahu karena itu di persidangan. Dalam sidang Pak Drajat ditanya, Pak Drajat bilang tak tahu," ucap politisi Partai Golkar tersebut.

Dalam putusan majelis hakim pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dengan terdakwa Irman dan Sugiharto juga disebutkan Ade Komarudin menerima 100 ribu dolar AS aliran dana proyek KTP-e.

Kasus e-KTP: Ade Komaruddin Jadi Target Selanjutnya?

KONFRONTASI-Dua terdakwa korupsi proyek e-KTP, Irman dan Sugiharto, telah divonis majeis hakim. Dalam sidang pembacaan vonis, hakim juga menyebut dua nama anggota DPR Ade Komarudin dan Miryam S Haryani terbukti menikmati uang kompensasi tersebut.

Juru bicara KPK, Febry Diansyah mengatakan, pihaknya bakal mempelajari lebih dulu putusan pengadilan sebelum menetapkan kedua nama itu sebagai tersangka. "Kita pelajari dulu putusan pengadilan itu," kata Febry di gedung KPK Jakarta, Kamis (20/7).

Kasus e-KTP: Akom dan Istri Mangkir dari Panggilan KPK

KONFRONTASI-Anggota DPR RI, Ade Komaruddin dan istrinya Netty Marliza tak panggilan penyidik KPK. Hari ini, Senin (3/7) keduanya dijadwalkan akan menjalani pemeriksaan sebagai saksi dalam perkara korupsi pengadaan KTP elektronik (e-KTP) untuk tersangka Andi Agustinus atau Andi Narogong.

Berdasarkan keterangan juru bicara KPK, Febri Diansyah, Akom, sapaan Ade Komaruddin, dan istrinya tidak hadir karena keduanya saat ini sedang berada di luar Jakarta.

Akom Bantah Terima Uang e-KTP

KONFRONTASI- Terkait proyek pengadaan kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP), politikus Partai Golkar Ade Komarudin membantah terima uang dari mantan Dirjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Irman,.

Pria yang akrab disapa Akom ini juga mengaku tak mengetahui proses penganggaran proyek e-KTP. Lantaran dirinya saat itu bertugas di Komisi XI sehingga tak ada kaitannya dengan proyek yang dibahas di Komisi II tersebut.

Digusur dari Ketua DPR, Ade Komaruddin Ikhlas: Novanto Cs Tak Perlu Khawatir

KONFRONTASI - Politisi Partai Golkar Ade Komarudin tidak akan mempermasalahkan janji DPP Partai Golkar yang dipimpin oleh Setya Novanto untuk memberikan posisi terbaik baginya pasca digusur dari jabatan Ketua DPR.

Akom juga tidak mempermasalahkan kontradiksi di balik pergantiannya sebagai Ketua DPR karena Partai Golkar disisi lain ikut mendorong dan menyetujui dijatuhinya keputusan bersalah oleh Mahkamah Kehormatan Dewan  (MKD) terhadap dirinya.

Ade Komaruddin Galang Dukungan Lawan Putusan MKD DPR: Gusti Allah Tidak Tidur

KONFRONTASI - Dicopot dari Ketua DPR, Ade Komaruddin akan menggalang dukungan untuk meluruskan keputusan Majelis Kehormatan Dewan (MKD) pada dirinya.

Pria yang akrab disapa Akom ini menilai terdapat kekeliruan dari penilaian MKD yang menyebut dirinya melakukan dua pelanggaran ringan dan diakumulasi menjadi pelanggaran sedang, yang berujung pencopotanan dirinya dari jabatan ketua DPR RI

Pasca Dilengserkan MKD, Akom: Gusti Allah Ora Sare

Konfrontasi - Majelis Kehormatan Dewan (MKD) memberhentikan Ade Komaruddin (Akom) dari jabatannya sebagai ketua DPR RI. Ade menilai pergantian itu adalah keliru.

"Saya sedang pertimbangkan (langkah hukum). Mereka yang melakukan langkah menurut saya keliru. Semoga mereka supaya diberikan pencerahan oleh gusti Allah. Gusti Allah ora sare," kata Ade di terminal kedatangan bandara Soekarno Hatta, Banten, Minggu (4/12/2016).

Kembali Jabat Ketua DPR, Novanto Puji Akom. Gombal!

KONFRONTASI - Setelah anggota parlemen menyetujuinya lewat rapat paripurna, Rabu petang, Ketua Umum Partai Golkar, Setya Novanto secara resmi kembali menjabat sebagai Ketua DPR RI. Novanto mengucapkan rasa terima kasih kepada Ade Komarudin yang telah menjabat sebagai Ketua DPR dalam 11 bulan terakhir dan disebutnya bekerja dengan baik. "Saya juga berterima kasih kepada Ade Komarudin yang telah bekerja secara maksimal dan baik serta berkontribusi besar bagi kepentingan DPR RI dan bangsa Indonesia," katanya di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta.

Terlalu, Tak Ada Pembelaan Fraksi Golkar Terhadap Akom di MKD

KONFRONTASI - Partai Golkar mengisyaratkan tidak memberikan pembelaan terhadap kadernya, yang Ketua DPR, Ade Komarudin, terkait putusan Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) yang memberikan sanksi sedang sekaligus memberhentikan dia dari jabatan sekarang di DPR. MKD membantah penghentian Komaruddin itu terkait keinginan Partai Golkar mengembalikan Ketua Fraksi Partai Golkar DPR, Setya Novanto, ke kursi kepemimpinan puncak DPR.

Pages