21 November 2019

Surat SBY soal 'politik identitas', kritik Prabowo atau demi elektabilitas Demokrat?

KONFRONTASI -   Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, menyebut dua calon presiden yang tengah bersaing, terutama Prabowo Subianto yang diusungnya, tak semestinya mengkampanyekan politik identitas yang berpotensi memecah belah masyarakat.

Pernyataan SBY itu dinilai pengamat sebagai siasat meningkatkan elektabilitas Demokrat di tengah potensi sejumlah partai gagal melewati ambang batas parlemen.

Namun Demokrat membantah mengambil keuntungan melalui perkataan SBY. Di sisi lain, Gerindra menyebut koalisi mereka dengan Demokrat untuk menyokong Prabowo tetap kokoh.

Jelang hari pemungutan suara 17 April yang semakin dekat, beragam strategi disebut dijalankan partai politik agar melampaui ambang batas parlemen sehingga berhak menempatkan politikus mereka di DPR.

Dosen ilmu politik di Universitas Indonesia, Hurriyah, menilai banyak partai politik tengah menghadapi kegentingan tak mendapatkan lonjakan suara (efek ekor jas atau coat tail effect) dari capres yang mereka usung.

Segmen Islamis dan nasionalis

Melalui isu keberagaman dan antipolitik identitas, menurut Hurriyah, SBY berupaya mendongkrak citra Demokrat di kalangan pemilih yang terpecah dalam segmen Islamis dan nasionalis.

"Banyak partai kini berjuang lolos ambang batas parlemen karena asumsi semua partai pengusung capres akan mendapatkan efek ekor jas ternyata keliru," kata Hurriyah, Minggu (07/04).

"SBY mencitrakan diri sebagai sosok yang akomodatif. Ia berkepentingan agar Demokrat tidak mendapat efek negatif dari citra pendukung Prabowo yang Islamis," tutur Hurriyah.

Gambar mungkin berisi: 5 orang

 

Melalui surat kepada pejabat teras Demokrat, SBY menilai kampanye akbar Prabowo-Sandiaga Uno di Gelora Bung Karno, Jakarta, berpotensi menunjukkan kesan eksklusif.

SBY menulis surat internal partai itu satu hari sebelum kampanye terbuka Prabowo yang berlangsung Ahad kemarin.

Petikan perkataan SBY dalam surat itu antara lain, "Cegah demonstrasi apalagi 'show of force' identitas, baik yang berbasiskan agama, etnis serta kedaerahan, maupun yang bernuasa ideologi, paham dan polarisasi politik yang ekstrem."

Adapun, dalam sejumlah kajian yang dilakukan lembaga survei, capaian suara Demokrat diprediksi berkisar antara 4-5% atau berselisih tipis dengan ambang batas parlemen sebesar 4% suara sah nasional.

Kajian Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang dirilis Juli 2018 memprediksi total suara Demokrat hanya 4,4%.

Sementara dalam survei Litbang Harian Kompas, Maret lalu, Demokrat disebut bakal meraih 4,6% suara nasional.

Salah satu survei terkini, yang dilakukan Charta Politika, memprediksi Demokrat meraup 5,2% suara.

"Demokrat ingin mencitrakan diri sebagai partai moderat, tapi karena mengusung Prabowo, boleh jadi mereka menilai citra itu tergerus," kata Hurriyah.

Gambar mungkin berisi: 1 orang, teks

 

Saat dikonfirmasi, Ketua Dewan Kehormatan Demokrat, Amir Syamsuddin, membantah SBY tengah bersiasat. Ia berkata, sejak didirikan awal dekade 2000-an lalu, Demokrat memang konsisten menjunjung nilai keberagaman.

"Selama 10 tahun pemerintahan SBY dan sesudahnya, semboyan partai nasionalis religius kami tempatkan sebagai pegangan. Kami menghindari ciri-ciri politik yang menonjolkan identitas."

"Belum pernah kami menggunakan politik identitas karena kami sangat menjaga perasaan saudara kami yang minoritas tapi tetap bagian dari bangsa ini," ujar Amir melalui sambungan telepon.

Apa tanggapan Gerindra?

Pimpinan Gerindra menilai kekhawatiran SBY soal politik identitas dalam kampanye Prabowo tidak terwujud. Gelaran itu disebut pendukung Prabowo dari lintas agama dan suku.

"Kampanye ini tidak satu pihak. Ada perwakilan partai koalisi dan berbagai unsur relawan," kata Ferry Juliantono, Wakil Ketua Gerindra.

Gambar mungkin berisi: 1 orang, teks

 

Ferry menampik kesan politik identitas dalam kampanye yang menayangkan pidato Rizieq Shihab, pimpinan Front Pembela Islam.

Dalam rekaman video, Rizieq antara lain berkata, "Kita putihkan dengan semangat perubahan untuk menuju Indonesia yang lebih baik.

"Ayo kita jihad kawal TPS, jihad kawal kotak suara, jihad wujudkan pemilu jujur dan adil. Takbir, takbir, takbir. Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar!"

Rizieq pun mengajak pendukung Prabowo menyanyikan lagu Aksi Bela Islam.

Terkait pidato dan paparan Rizieq itu, Julianto menuturkan, "Jokowi juga menyuruh pendukungnya datang ke TPS pakai baju putih, itu politik identitas bukan?"

Keterangan foto tidak tersedia.

Bagaimana koalisi Demokrat-Prabowo?

Demokrat selama ini dianggap tidak secara penuh menyukseskan langkah Prabowo menjadi presiden. Hurriyah menyebut, September 2018 pimpinan Demokrat bahkan membebaskan kadernya untuk memilih capres.

Awal April lalu, Demokrat juga menilai langkah Prabowo mengumumkan sosok yang disebut cocok menjadi menteri sebagai 'langkah prematur'.

"Semua orang tahu posisi Demokrat sejak awal gamang. SBY dari awal bermain dua kaki, tapi jangan-jangan karena ingin menangkap 'dua burung, dia malah tidak dapat apa-apa'," kata Hurriyah.

Namun penilaian itu juga dibantah Demokrat yang menyatakan kesetiaan mereka untuk Prabowo. "Tidak mungkin ada perubahan, petinggi dan panji-panji Demokrat ada di kampanye akbar," kata Amir Syamsuddin.

Amir menanggap penyelenggara kampanye akbar Prabowo mendengar dan menjalankan saran SBY untuk mencegah kesan politik identitas.

"Kekhawatiran keterbelahan yang ekstrem cair dengan hadirnya beberapa tokoh dari kalangan minoritas."

"Saya kira tidak ada yang perlu menjadi pemberitaan lagi karena pengingat itu sampai ke perencana kampanye," ucap Amir.(Jft/BBC)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...