21 February 2018

Rizal Ramli Minta Jokowi Tinggalkan Cara-cara Neoliberal

KONFRONTASI-Kondisi ekonomi menjadi persoalan pelik bagi kerja ekonomi Presiden Joko Widodo di sisa masa pemerintahannya. Jika Jokowi mengikuti cara neoliberalisme dalam mengatasi masalah ekonomi, dikhawatirkan akan menurunkan elektabilitasnya.

"Yang senang dengan pak Jokowi kepuasannya lumayan tinggi 60 persen, tapi elektabilitasnya merosot," kata Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman, Rizal Ramli dalam salah satu acara diskusi Ekonomi Indonesia di Tahun Politik di DPP PAN, Rabu (14/2).

Merosotnya elektabilitas Presiden Jokowi ini, menurut mantan Menko Ekuin era Gus Dur ini karena tiga hal. Pertama soal isu keislaman. Dimana secara umum Jokowi dituding tidak memberikan keadilan hukum terhadap umat Islam. Dalam beberapa kasus bahkan umat Islam merasa dikriminalisasikan.

Kedua, lanjut dia, kondisi ekonomi diperparah dengan daya beli golongan kelas menengah bawah yang terus menurun. Dan ketiga soal sectoral policy atau kebijakan sektoral pemerintah yang salah.

Soal kesalahan kebijakan sektoral ini, ujar Rizal Ramli sebagian besar karena Jokowi yang masih menggunakan cara-cara ekonomi neoliberal. Misalnya dengan memperbanyak impor gula dan gula rafinasi sehingga petani tebu tidak senang.

Kemudian ketika petani lagi panen bawang di brebes, tapi pemerintah malah impor bawang dengan jumlah yang luar biasa. Akhirnya harga panen bawang jatuh dan petani bawang kecewa. Ditambah ketika petani lagi panen beras, pemerintah malah impor beras padahal tidak terlalu diperlukan.

Jadi tiga faktor ini, menurut dia, yang menurunkan elektabilitas Jokowi. Mulai soal Islam, soal ekonomi yang mandek dan daya beli yang merosot dan ketiga kebijakan ekonomi sektoral yang salah karena pro impor.

Kebijakan pro-impor ini mengecewakan banyak rakyat dan petani, mulai dari petani garam hingga petani beras."Pertanyaanya apakah Jokowi akan membiarkan terus cara neoliberal ini, dan akhirnya orang berpikir tentang calon alternatif. Atau pak Jokowi perlu melakukan perubahan yang drastis agar tidak lagi ikut garis politik neoliberalisme," ungkap Rizal.(mr/rol)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...