19 August 2019

Rizal Ramli Khawatir Ekonomi Nyungsep akibat Kebijakan Austerity dan Neoliberalisme

KONFRONTASI- Tokoh nasional Rizal Ramli (RR) khawatir ekonomi nyungsep akibat Neoliberalisme/Kebijakan Austerity ala pemerintah/Menkeu Sri Mulyani yang tidak mampu berpikir out of the Box. Perekonomian RI yang terancam "nyungsep" dan hanya mampu tumbuh kurang dari 5 persen menjadi kekhawatiran ekonom senior Rizal Ramli.


Terlebih perekonomian diurus oleh menteri ekonomi yang tidak berani berpikir out of the box dalam mencari solusi.

"Sejak 3 tahun yang lalu memang sudah memperkirakan ekonomi Indonesia dari tahun 2016 sampai 2019 itu paling tumbuh di sekitar 5 persen," ujarnya saat berbicara di Indonesia Business Forum yang disiarkan TVOne, Rabu (14/8).

Ekonomi Indonesia, kata Rizal bakal selalu nyungsep karena ada dua hal mendasar yang menjadi penyebab.

Pertama, kebijakan austerity (penghematan) yang dilakukan pemerintah hanya berkutat pada pemangkasan anggaran. 

Tidak ada cara lain yang lebih canggih, bahasa yang dipakai Rizal, tidak out of the box.

Kedua, hanya berani menguber-uber pajak yang kecil, smentara sama yang gede nggak berani.

"Nah itulah Kenapa kami berani mengatakan di depan Pak Jokowi kalau begini saja sampai tahun 2019 bakal sekitar 5 persen dan memang makin lama akan semakin merosot," imbuhnya.

Ekonomi merosot selain dua hal itu kata Rizal karena ada indikator-indikator lain yang melatarbelakangi. 

Salah satunya sudah mulai banyak yang default bayar obligasi.

"Ada berapa grup gede yang nggak mau bayar utangnya," katanya.

Mantan Menko Perekonomian di era Presiden Gus Dur ini menilai, faktor eksternal juga memperngaruhi perekonomian Indonesia yang cenderung menurun. 

Tapi bukan berarti faktor eksternal dijadikan kambing hitam.

Menteri-menteri ekonomi kata Rizal seharusnya sudah bisa membaca gejolak ekonomi global yang bakal mempengaruhi perekonomian Indonesia.

"Tapi kita kerjanya jangan bisanya nyalahin terus faktor internasional. Ini sudah bisa diduga kok satu setengah tahun yang lalu," ujarnya.

Ia menambahkan, seharusnya menteri ekonomi, khususnya keuangan bekerja keras dalam mencari solusi, bukan malah sibuk membantah masukan dan kritikan dari pihak-pihak yang menilai ada kesalahan dari tata kelola perekonomian.

"Dalam bekerja jangan kebanyakan bantahan-bantahan. Kalau kita mau jujur, kita itu tidak terbiasa berpikir strategis antisipatif. kita itu kagetan, sudah kejadian baru kaget," demikian Rizal. [dzk]  

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...