20 November 2019

Rizal Ramli: Jokowi Perlu Belajar Demokrasi dari Megawati

KONFRONTASI -   Tokoh nasional Rizal Ramli menilai, Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 merupakan pesta demokrasi yang terburuk sepanjang sejarah Indonesia. Rizal melihat ada kecurangan yang bersifat terstruktur, sistematis, dan masif. Dalam hal ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dinilai perlu belajar soal demokrasi kepada Ketua Umum DPP PDIP, Megawati Soekarnoputri.

“Pemilu paling jujur dan adil terjadi pada 1955. Namun, saat Orde Baru memang tidak benar-benar berjalan demokratis, karena ada intervensi. Tetapi, saat Pemilu 1999, pada era pemerintahan Presiden BJ Habibie, (pemilu) itu jujur dan adil,” kata Rizal Ramli dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Sabtu (11/5/2019).

Selanjutnya, kata Rizal Ramli, pemilu jujur dan adil terjadi pada saat Ketua Umum DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri maju sebagai calon presiden pada 2004. Megawati kala itu merupakan calon presiden petahana. “Pada Pemilu 2004, Megawati tidak memanfaatkan negara, tidak menggunakan ABRI, tidak menggunakan polisi, dan BUMN untuk memenangkan dirinya,” kata Rizal.

“Namun, pada 2009, mulai terlihat ada permainan uang. Mulai ada permainan macam-macam,” kata mantan anggota Tim Panel Ekonomi PBB itu.

Kecurangan pada pemilu, lanjut Rizal, kemudian berlanjut pada 2014 dan semakin parah pada tahun ini. Khusus Pemilu 2019, Rizal menilai kecurangan terjadi dari sebelum penyelenggaraan pemilu hingga selesainya pencoblosan.

“Misalnya, ada protes terhadap Daftar Pemilih Tetap (DPT) banyak yang tidak benar, tanggal lahir sama, orangnya sama, dan kota sama. Kalau KPU adil dan profesional, pasti meraka menyisir itu. Kita pun pasti berterima kasih. Tetapi, KPU tidak melakukan itu untuk mengoreksi, termasuk kecurangan-kecurangan yang terjadi saat ini,” kata Rizal.

Kondisi ini pun membuat Rizal mengaku sedih lantaran perjuangannya semasa kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk memperjuangkan demokrasi terasa sia-sia. “Untuk memperjuangkan hal tersebut, saya bahkan sampai dipenjara 1,5 tahun di Sukamiskin. Tetapi, kok, bisa hari ini kita balik lagi ke titik nol dan bukan seperti negara demokratis, pemilunya curang lalu tokoh-tokoh berbicara sedikit langsung ditangkap,” kata Rizal Ramli.(Jft/Beritasatu)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...