26 January 2020

Rizal Ramli: Ekonomi Rapuh. Risiko Utang Tinggi akibat Neoliberalisme Tim Ekonomi Kabinet

KONFRONTASI- Seorang  ahli financial economics, dari kampus ternama Ivy League, Amerika Serikat mengungkapkan, PLN berpotensi bangkrut, juga tiga Bank pemerintah (pelat merah) bakal dikuasai RRC karena terjerat utang China untuk proyek Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung, bahkan 3 bank BUMN itu bakal jadi tumbal keputusan kereta cepatnya Rini Soemarno (Rinso), yang menarik lagi dana 6 milyar dolar AS. Benarkah analisis itu?
.Menanggapi hal itu, teknokrat senior Rizal Ramli mengatakan,’’adalah benar bahwa risiko pemerintah sangat tinggi, namun penilaian intelijen ekonomi itu terlalu dramatis.“It’s true that the risk is higher. But the intelligent’s assesment is too dramatic,’’ kata ekonom senior/tokoh nasional Rizal Ramli PhD (RR) semalam. Namun RR mengakui bahwa ekonomi saat ini rapuh, rentan dan terancam stagnan akibat praktik Neoliberalisme Tim Ekonomi Kabinet Kerja yang memeras/menghisap ekonomi kelas menengah ke bawah.

 Rizal Ramli mengingatkan masyarakat, dunia usaha dan pemerintah, bahwa defisit transaksi berjalan (currents accounts) terus melebar. Pada Februari 2017, defisit transaksi berjalan masih USD 1,8 miliar. Pada Mei 2017, defisit transaksi berjalan meningkat ke USD 2,4 miliar. Pada Agustus 2017 defisit transaksi berjalan sudah meningkat tajam ke USD 5 miliar. RR menambahkan, terjadi defisit transaksi berjalan yang terus melebar, sementara pertumbuhan impor lebih lambat (pertumbuhan impor per Agustus 2017 mencapai 8,9% yoy) daripada pertumbuhan ekspor (pertumbuhan ekspor per Agustus 2017 19,2% yoy).
‘’ Maka dapat dikatakan akan ada tekanan terhadap kurs Rupiah karena net payment service yang besar. Rupiah yang melemah bukan hanya faktor global,, yang selalu dijadikan kambing hitam, tetapi juga karena kelemahan domestik,’’ tegas mantan Menko Ekuin Presiden Gus Dur dan Menko Kemaritiman Presiden Jokowi  itu.
Di dalam negeri, pajak  kelas menengah ke bawah diuber dan digenjot oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, namun pajak bagi Freeport (Asing) malah diturunkan, Ini tak adil dan mencerminkan Neoliberalisme yang sangat keras, brutal.
Sebagaimana diberitakan, seorang inteligen ekonomi AS/Barat menyatakan bahwa pada bulan Agustus PLN surat hutangnya jatuh tempo. ‘’Dan saya tahu PLN tidak punya “uang”. Pasti minta diperpanjang hutangnya di Wallstreet. Apa yang terjadi kalau “saya” tidak perpanjang hutang tersebut. Saya minta bayar, saat itu juga. Apa yang terjadi dengan PLN?
Saya berkata, PLN default ? Bangkrut?
Dia berkata, Indonesia pasien IMF dua bulan kemudian!!!. ‘’Kalian kan sudah punya bukti, APP Asia Pulp Papernya Sinarmas. Kami tidak perpanjang hutangnya 14 bilion dollar AS  kira-kira 10 tahunan yang lalu bukan? Kok masih juga di ulang lagi sih?’’ ujarnya.
‘’Hanya PLN bikin Indonesia jadi pasien IMF?’’ Saya bertanya
You want to know the rest State-owned enterprise record? Mau tahu catatat lain BUMN? Semua parah!
Kepala saya terbayang pabrik kertas keluarga Wijaya itu kena “hostile take over” dengan gagal dapat perpanjangan surat hutang atau bond.
Dia melanjutkan, BUMN Indonesia ini lucu, yang dilawan bangsanya sendiri. Harusnya BUMN melawan asing, yang swasta belum tentu kuat atau bahkan tidak kuat sama sekali melawan investor asing. Nah ini BUMN indonesia memakan swasta malah kerja sama dengan asing lagi.

Dia tertawa tergelak-gelak. Presidennya nggak ngerti sejauh ini efek tindakan kebijakan BUMN anda tadi, well, damage is already done. See what happens in the near future, very near!! Dia masih tergelak di ujung kalimatnya. Dia melanjutkan, kredit macet di bank 3 besar (pelat merah, boleh jadi BNI, Bank Mandiri, BRI), ini karena memaksakan membangun ke sektor tidak produktif, infrastruktur. Bukan salah membangun infrastruktur, tapi bukan untuk daerah yang hanya berpopulasi rendah namun ada sektor produksinya. Negara anda bukan Negara maju, China dan Amerika (tahun 1940-50 di jaman FDR) membangun infrastruktur di saat GDP nya di atas 5000. Indonesia masih 3500 saat ini.


‘’Nggak heran Bank Mandiri beberapa perusahan konstruksi karya-karya mulai menjual asetnya demi membayar beban hutang.hampir semua bank tersebut keuntunganya tahun 2015 di banding 2016, turun separuhnya di tahun 2016 dan di tahun 2017 kembali turun setengahnya,’’ ungkapnya.
Yang anehnya, China membeli Newmont di biayai bank nasional. Langsung cashless itu bank. NPL Mandiri 4%, NPL BRI 5,6%. Padahal Non Performing Loan ini tidak boleh lebih 3 %. Sakit semua bank besar dan sekarang semua bank tidak sanggup kasih pinjaman BUMN lagi yang tidak likuid.
Puncaknya lagi bank BUMN akan jadi tumbal keputusan kereta cepatnya Rini Soemarno (Rinso), yang menarik lagi dana 6 milyar dolar AS.
‘’Ini yang saya suka dari Pemerintah saat ini, kata si Bapak itu kemudian. Saya pemain uang, ini peluang banget di depan mata, mirip tahun 1997. Puncak gunung es mencair dengan hutang tak terkendali di Indonesia,’’ ungkap intelijen tadi. (berbagai sumber)

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...