11 December 2019

Rizal Ramli: Defisit transaksi berjalan Melebar, Rupiah Melemah. Itu Cermin Kelemahan Domestik

KONFRONTASI- Tokoh nasional/Ekonom senior Rizal Ramli PhD mengingatkan masyarakat, dunia usaha dan pemerintah, bahwa defisit transaksi berjalan (currents accounts) terus melebar. Pada Februari 2017, defisit transaksi berjalan masih USD 1,8 miliar. Pada Mei 2017, defisit transaksi berjalan meningkat ke USD 2,4 miliar. Pada Agustus 2017 defisit transaksi berjalan sudah meningkat tajam ke USD 5 miliar.

RR menambahkan, terjadi defisit transaksi berjalan yang terus melebar, sementara pertumbuhan impor lebih lambat (pertumbuhan impor per Agustus 2017 mencapai 8,9% yoy) daripada pertumbuhan ekspor (pertumbuhan ekspor per Agustus 2017 19,2% yoy).
‘’ Maka dapat dikatakan akan ada tekanan terhadap kurs Rupiah karena net payment service yang besar. Rupiah yang melemah bukan hanya faktor global,, yang selalu dijadikan kambing hitam, tetapi juga karena kelemahan domestik,’’ tegas mantan Menko Ekuin Presiden Gus Dur dan Menko Kemaritiman Presiden Jokowi  itu.
Di dalam negeri, pajak  kelas menengah ke bawah diuber dan digenjot oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, namun pajak bagi Freeport (Asing) malah diturunkan, Ini tak adil dan mencerminkan Neoliberalisme yang sangat keras, brutal. Pemerintah juga terus melakukan berbagai upaya penarikan pajak lebih besar, antara lain dengan program tax amnesty dan kerja sama terkait keterbukaan perpajakan internasional.

Dalam hal ini,  RR, mantan  Menko Perekonomian di masa pemerintahan Gus Dur, Rizal Ramli, mengoreksi  langkah-langkah itu.

"Di negara lain, ketika ekonomi melambat, pajak dilonggarkan. Kalau membaik baru digenjot," tulis Rizal di halaman Facebooknya, beberapa jam lalu.

Ia menganggap langkah Sri Mulyani menggenjot pajak hanya bertujuan mencapai target setoran utang.

"SMI (Sri Mulyani Indrawati) genjot pajak, hanya sekedar uber setoran utang," katanya.

Menurut Rizal, kebijakan Menteri Keuangan memotong anggaran di sana-sini, serta menaikkan tarif dan menguber pajak malah berdampak negatif pada daya beli masyarakat.

"Potong-potong anggaran, naikkan tarif dan uber pajak membuat ekonomi melambat, daya beli menengah bawah merosot sehingga penjualan retail merosot," katanya (ff)

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...