29 March 2020

Rizal Ramli dan Yudi Latif PhD harus Dijaga dan Didorong Memperkuat Kabinet Jokowi-JK

KONFRONTASI- Para relawan dan civil society (buruh, LSM, mahasiswa, media) diserukan menjaga  Rizal Ramli PhD dan Yudi Latif PhD sebagai inteligensia yang diminta membantu Kabinet Jokowi-JK dengan agenda Revolusi Mentalnya. ''Peran Rizal Ramli menata perekonomian agar harga BBM tidak dinaikkan dan peran Yudi Latif untuk pembaruan pendidikan dan kebudayaan  yang lebih humanis,mendidik dan mencerdaskan bangsa sangat dibutuhkan. Kedua tokoh ini paling layak untuk masuk Kabinet Jpkowi-JK. Keduanya harus kita jaga dan kita dorong harus masuk Kabinet Jokowi-JK,'' kata Airlangga Pribadi MA, dosen Fisip Unair dan kandidat PhD di Murdoch University, Australia

Sebelumnya, permintaan agar ekonom senior DR Rizal Ramli masuk dalam kabinet Joko Widodo dan Jusuf Kalla semakin menguat. Beberapa waktu lalu dukungan dan permintaan datang dari kalangan muda PDI Perjuangan. Belakangan kalangan akademisi menyuarakan hal serupa. Kalangan LSM, mahasiswa dan media juga mendorong Yudi Latif masuk Kabinet Jokowi-JK sebagai pemikir masalah kebudayaan, pendidikan dan kenegaraan. ''Kedua tokoh intelektual publik itu angat vital bagi Kabinet Jokowi-JK ke depan karena keduanya pemikir dan bervisi kerakyatan Trisakti Bung Karno,'' kata Andar Nubowo MA, dosen Fisip UIN Jakarta lulusan EHESS Perancis.

Direktur Eksekutif IndoStrategi, Andar Nubowo, misalnya, mengatakan Rizal Ramli adalah kandidat terbaik untuk mengisi posisi Menko Perekonomian. Rekam jejak Rizal Ramli, kredibilitas serta integritasnya, menurut Andar yang juga dosen Fisip UIN Syarif Hidayatullah, sudah teruji.

Akademisi Universitas Paramadina, Dr Herdi Sahrasad, dalam perbincangan beberapa saat lalu menyampaikan pernyataan serupa. Bahkan menurut Herdi, Rizal Ramli yang kini adalah salah seorang anggota Panel Ahli PBB untuk UNDP, pantas ditempatkan sebagai Menko Polhukam dan Menko Perekonomian.

"Bang Rizal (Ramli) bisa ditempatkan Jokowi pada dua posisi itu untuk melakukan revolusi mental kelembagaan di bidang ekuin atau polhukam," ujarnya.

Menurut hemat Herdi, sepanjang pemerintahan SBY terjadi krisis yang begitu parah di tubuh pemerintahan sehingga negara mengalami kebocoran finansial yang cukup besar. Pemerintahan SBY pun meninggalkan warisan berupa utang luar negeri yang besar.

"Kebobrokan terjadi di sektor ekonomi, sosial dan hukum," sambungnya.

Masih menurut Herdi, penilaian tokoh Muhammadiyah Syafii Maarif yang mengatakan Rizal Ramli sebagai ekonom senior dan  tokoh revolusioner di era reformasi, dapat dijadikan Jokowi sebagai referensi.
Meluasnya sektor informal dan rontoknya industri sehingga terjadi de-industrialisasi, menunjukkan SBY gagal dan  Jokowi dihimbau mengangkat menko ekuin yang tangguh. Transformasi ekonomi Indonesia, yang semula berbasis sektor pertanian menjadi perindustrian, sebenarnya perkembangan baik. Hanya saja, ada anomali dalam perubahan tersebut. Sumbangan sektor industri ke produk domestik bruto (PDB) juga menurun. Strukur ekonomi Indonesia tengah bergerak ke arah yang berbahaya.

Wakil Ketua Komisi VI Erik Satya Wardhana mengungkapkan bahwa inilah tantangan yang harus dihadapi oleh pemerintahan Presiden dan Wakil Presiden Terpilih, Joko Widodo dan Jusuf Kalla.

"Sebetulnya tidak masalah, transformasi dari sektor pertanian ke industri itu lebih bagus. Anomalinya, sumbangan sektor industri terhadap PDB juga turun. 24,9 persen pada 2000, kemudian jadi 24,8 persen 2010, kemudian hanya tersisa 23,69 pada 2013," ungkap Erik di Jakarta, Sabtu (6/9/2014).

Menurutnya, hal ini berarti dua sektor yang paling produktif menyumbang tenaga kerja telah mengalami penurunan terhadap PDB. Sektor yang mengalami peningkatan malah perdagangan. Sementara, perdangangan tidak menyebabkan efek berantai sebesar industri.

"Celakanya, justru yang berkembang sektor informalnya. Struktur ekonomi, menurut saya, kita bergerak ke arah yang berbahaya. Ini menjadi tantangan buat Jokowi-JK. Di awal revolusi mental, kemudian revolusi anggaran, dan revolusi pembangunan," ujarnya.

Hal senada disampaikan ekonom dan dosen Universitas Gadjah Mada Dr Poppy Ismalina. Seusai acara bincang-bincang di Jakarta, Poppy mengungkapkan bahwa di Indonesia tengah terjadi de-industrialisasi.

Menurut Poppy, tidak ada industrialisasi di Indonesia, yang ada hanya de-industrialisasi. Hal ini bahaya lantaran sektor informal yang berkembang di tengah de-industrialisasi. Penumpukkan sektor infirmal menyebabkan tidak adanya penciptaan lapangan kerja, perlindungan kerja, dan mudahnya pemutusan hubungan kerja.

Melihat kompleksitas persoalan itu, Direktur Eksekutif IndoStrategi, Andar Nubowo MA, alumnus EHESS Paris, menegaskan teknokrat senior dari ITB Rizal Ramli PhD, merupakan kandidat terbaik untuk posisi menko ekuin, untuk membantu Jokowi atas masalah ekuin. Sementara akademisi Universitas Paramadina Dr Herdi Sahrasad menilai, menghadapi oposisi Koalisi Merah Putih, Rizal Ramli bisa ditempatkan Jokowi pada posisi menko polhukam atau menko ekuin untuk melakukan ''revolusi mental'' kelembagaan di bidang ekuin atau polhukam yang di era SBY mengalami krisis tersembunyi sehingga rezim SBY mewariskan tumpukan utang lebih dari 2000 trilyun rupiah, kebocoran finansial karena besar pasak dari tiang dan kebobrokan ekonomi maupun sosial dan hukum.

Terkait untuk tim ekuin Jokowi, Andar menyebut Rizal Ramli PhD, yang disebut Buya Syafii Maarif sebagai tokoh revolusioner era reformasi, sangat tepat jika menjadi Menko Ekuin Jokowi-JK karena rekam jejak, kredibilitas dan integritas serta kenegarawanan Rizal Ramli sudah teruji. Rizal Ramli kini panel ahli ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York bersama Prof Amartya Sen dan ekonom dunia lainnya.

Akademisi UGM Arie Sujito menilai, Presiden SBY mewariskan beban berat ekonomi pada Kabinet Jokowi-JK dan kondisi yang sulit itu, membutuhkan peran ekonom senior seperti Rizal Ramli PhD yang sudah berpengalaman dan kredibel.

 ‘’ Saya kira, bagus kalau Rizal Ramli masuk kabinet Jokowi karena pikiran dan tenaganya diperlukan Jokowi-JK untuk membenahi dan menata kembali ekonomi yang sangat berat, yang diwariskan SBY,’’ kata Sosiolog UGM Arie Sujito.(K)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...