13 November 2019

Puan Dapat Bisikan Rahasia dari BIN, Ada Ancaman di Pelantikan Jokowi

KONFRONTASI -  Minggu, 20 Oktober 2019, Indonesia akan menggelar pelantikan Presiden dan wakil presiden terpilih. Acara sakral itu akan digelar di gedung MPR, kompleks parlemen, Senayan, Jakarta. Sejumlah pengamanan tingkat tinggi pun terus dilakukan.

Saat di konfirmasi, ‎Ketua DPR Puan Maharani mengatakan, pengamanan yang dilakukan di gedung parlemen dilakukan secara ekstra. Pasalnya, pengamanan ini merupakan komitmen negara dalam menyukseskan momen sakral, bersejarah dari pelantikan.

‎”Ya bisa saja ada ancaman (saat pelantikan Jokowi-Ma’ruf Amin),” ujar Puan Maharani di Gedung DPR, Jakarta, Selasa ‎(15/10).

Puan menambahkan, dirinya mendapatkan informasi dari Badan Intelijen Negara (BIN) adanya ancaman gangguan saat pelantikan nanti. Namun Puan mengaku tidak bisa membeberkan informasi dari BIN itu‎. Karena sifatnya adalah rahasia.

“Seperti tadi yang saya sampaikan, ini bersifat rahasia,” katanya.

Karena itu, menurut Puan, antisipasi pengamanan memang harus dilakukan dengan ekstra ketat. Hal itu juga akan memberikan pandangan positif terhadap dunia internasional bahwa Indonesia negara aman.

“Bahwa antisipasi kemamanan yang ekstra ketat, memang harus dilakukan untuk bisa memberikan pandangan positif pada dunia internasional bahwa Indonesia itu aman,” tuturnya.

Puan juga berharap, Indonesia itu bisa melantik presiden secara hikmat, secara tertib damai dan nyaman dengan saling menghormati.

Sekadar informasi, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol, Suyudi Ario Seto‎ mengatakan telah menemukan 29 bom ikan bedaya ledak tinggi di kediaman dosen nonaktif Institut Pertanian Bogor (IPB) Abdul Basith. Bom itu rencananya diledakan,  28 September 2019, guna menggagalkan pelantikan Jokowi-Ma’ruf Amin sebagai kepala negara.

Suyudi menjelaskan, caranya dengan membuat kerusuhan meledakkan bom ikan berisi paku di sepanjang wilayah Grogol sampai dengan Roxy, Jakarta Barat. “Jadi target utama tujuan mereka adalah membatalkan pelantikan Jokowi-Ma’ruf Amin,” ujar Suyudi.

Menurut Suyudi, saat aksi Mujahid 212, Abdul Basith dibantu oleh delapan rekannya guna membawa misi menurunkan Jokowi sebagai presiden dengan isu kebakaran hutan lahan (karhutla) dan revisi UU KPK.(Jft/JawaPos)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...