12 December 2017

Kedok Penipuan Naikkan Tarif: Rakyat dari Semua Golongan `Dipaksa` Pakai Listrik 4400 KVA

KONFRONTASI -  Ditengah kondisi ekonomi yang tak kunjung membaik, daya beli rakyat terus menurun, kemiskinan dan pengangguran dimana-mana pemerintah ‘memaksa’ masyarakat untuk memiliki daya 4400 KVA untuk kebutuhan listrik yang tidak perlu,  lewat kebijakan penyeragaman golongan ataupun tarif listrik. Kebijakan ini ditentang berbagai kalangan, dan hal ini dicurigai hanyalah dalih atau kedok pemerintah untuk menaikkan tarif listrik.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menyebut PT PLN bakal menghapus sebagian besar kelas golongan pelanggan listrik Rumah Tangga (RT) bagi penerima nonsubsidi. Nantinya, pelanggan nonsubsidi hanya akan terbagi pada dua kelas golongan, yakni 4.400 VA dan 13.200 VA.

Terkait hal itu, Direktur Eksekutif Indonesia for Tranparency and Akuntabillity (Infra) Agus Chaerudin melihat, kenaikan biaya listrik menjadi salah satu komponen yang memicu pelemahan daya beli pada masyarakat kelompok menengah ke bawah. ‎Sehingga dampaknya, kata dia, konsumsi masyarakat tersebut pada barang-barang konsumsi kemasan maupun ritel lainnya.

"Tiga pengeluaran masyarakat yang mengalami kenaikan signifikan di tahun ini, ada pendidikan, listrik, dan leisure," katanya di Jakarta, Senin (13/11/2017).

Sementara ituKetua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi, mengaku belum paham sepenuhnya terkait rencana pemerintah untuk menyederhanakan tarif listrik. Namun, Ia berharap penyederhanaan tarif ini tidak menjadi instrumen terselubung bagi pemerintah untuk menaikkan tarif listik.
"Seharusnya penyederhanaan tarif ini berdampak pada tarif yang lebih efisien. Bukan sebaliknya, penyederhanaan tarif ini malah menjadi kedok untuk menaikkan tarif listrik secara terselubung," terang dia.

Dalih Pemerintah

Terpisah, ekonom Institute for Economic Development (INDEF) Bima Yudistira, menilai penyeragaman golongan ataupun tarif hanyalah dalih pemerintah untuk menaikkan tarif listrik bagi pelanggan 900 VA nonsubsidi.  "Ini saya lihat sebenarnya kedok pemerintah untuk menaikan tarif listrik," ujar Bima di Jakarta, Senin (13/11/2017).

Bima menilai kebijakan penyesuaian tarif tersebut kurang tepat dilakukan saat ini karena dapat memukul daya beli kelas menengah. Pasalnya, penyesuaian tarif kendati hanya dilakukan pada golongan 900 VA dapat mengerek inflasi.

"Dampak penyesuaian tarif listrik terhadap inflasi sendiri sudah terlihat pada awal tahun ini. Pemerintah melakukan penyesuaian tarif listrik pada 13 golongam termasuk pada 18,9 juta rumah tangga golongan 900 VA. Kenaikan tarif ini kemudian sempat berdampak pada inflasi," ungkap dia.

Seiring rencana pemerintah terkait golongan listrik tersebut, ujar Bima, inflasi tahun depan yang ditargetkan di kisaran 3,5 persen, kemungkinan akan berada diatas 4 persen hingga 4,5 persen jika kebijakan integrasi tarif listrik tersebut benar dilakukan.

"Imbasnya nanti pendapatan masyarakat makin tergerus untuk bayar listrik. Ritel makin sepi dan ekonomi saya khawatirkan tumbuh di bawah 5 persen dan konsumsi di bawah 4 persen," jelas Bima.

Keblinger

Sebelumnya, aktivis ILUNI UI, Ramli Kamidin mengatakan dirinya tidak mengerti kenapa pemerintah melalui PLN memaksa rakyat menggunakan daya listrik di luar kebutuhannya. Pemaksaan kenaikan Daya 4400 KVA tidak dapat diterima, rakyat saat ini sudah kehilangan daya beli kini mereka harus dipaksa untuk kebutuhan listrik yang tidak perlu.

“Saya membayangkan rumah tangga menengah kecil di Perkotaan yang memiliki 1 AC dan 1 TV membutuhkan daya listrik 1300-2200 KVA, kini dipaksa untuk memasang listrik dengan daya untuk 6 bh AC dengan total kapasitas 4400 KVA,” ujarnya pada diskusi hari Pahlawan di Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta.

Ramli yang merupakan aktivis UI tahun 1978  ini menyebut kebijakan memaksa daya 4400 KV bagi rumah tangga akan menyebabkan pemborosan energi dan lingkungan. Kebijakan tersebut hanya berhasil untuk menyeragamkan tarif dan tidak tepat dilakukan ketika daya beli rakyat sedang rendah seperti ini, tambah Pria yang menjadi mentor bagi aktivis pergerakan 1998.

Seperti diberitakan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menyebut PT PLN bakal menghapus sebagian besar kelas golongan pelanggan listrik Rumah Tangga (RT) bagi penerima nonsubsidi. Nantinya, pelanggan nonsubsidi hanya akan terbagi pada dua kelas golongan, yakni 4.400 VA dan 13.200 VA.  

Jonan menjelaskan, PLN membagi golongan pelanggan listrik RT dalam tiga kelas, yakni golongan Rumah Tangga (R-1) 900 VA-RTM, 1.300 VA, dan 2.200 VA. Nantinya, tiga kelas ini akan dihapus karena rentang satu sama lain terbilang dekat.

"PLN sendiri sepakat mengubah kelas golongan langganan rumah tangga dari 450 VA, 900 VA, 1.300 VA, 2.200 VA akan dihapus kecuali yang menerima subsidi, yang lain mungkin sekalian 4.400 VA, 13.200 VA," papar Jonan, beberapa waktu lalu.

Tarif Tidak Naik

Sementara itu PT PLN (Persero) menyatakan tidak ada kenaikan tarif listrik terkait rencana penyederhanaan golongan pelanggan listrik rumah tangga nonsubsidi yang sedang dibahas bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Direktur Utama PLN Sofyan Basir mengatakan pemerintah berupaya agar masyarakat tidak dikenakan biaya untuk penambahan daya listrik dalam penyederhanaan golongan 900 VA tanpa subsidi, 1.300 VA, 2.200 VA, dan 3.300 VA. Semua golongan tersebut akan dinaikkan dan ditambah dayanya menjadi 4.400 VA.

"Tidak ada kenaikan tarif dan kami upayanya nantikan ada rencana positif bagi kepentingan masyarakat yang ingin menambah daya karena memang mereka berkeinginan tidak membayar," kata Sofyan di Kantor Kementerian ESDM Jakarta, Senin.(KONF/HANTER)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...