11 December 2019

Jokowi Sebaiknya Tarik Rizal Ramli Masuk Kabinet untuk Perbaiki Perekonomian yang Memburuk

KONFRONTASI- Pertumbuhan ekonomi di Indonesia saat ini dinilai sebagai pertumbuhan terlambat dan terburuk dari tahun-tahun sebelumnya di era SBY. Banyak pihak menganggap, jika tim perekonomian kabinet kerja besutan Presiden Joko Widodo (Jokowi) belum mampu membangun ekonomi Indonesia dan pro terhadap rakyat. Dalam hal ini, sosok yang paling tepat untuk menjabat Menko Ekuin yang baru adalah Dr Rizal Ramli, selain sudah sangat dikenal baik oleh publik di dalam dan di luar negeri, Rizal Ramli, ekonom terkemuka dan mantan aktivis ITB yang dikenal dekat dengan Megawati Soekarnoputri PDIP dan Guntur Soekarnoputra, putera sulung Presiden Soekarno  (kakak Megawati), merupakan teknokrat berhaluan ekonomi konstitusi, sesuai Trisakti dan Nawa Cita..

Demikian pandangan aktivis 1998 Khalid Zabidi dan aktivis 98 Tommy Supriyadi berpendapat, sebaiknya Presiden Jokowi segera melakukan reshuffle kabinet di sektor perekonomian.

"Menurut saya tim ekonomi harus bisa melakukan inovasi yang kreatif dan tentu harus tepat sasaran serta harus bisa memberdayakan ekonomi kerakyatan. Karena sektor ekonomi adalah indikator dari gerak pembangunan Indonesia," ujar pendiri Gen 98 relawan Jokowi-JK ini, dalam pesan singkatnya (Kamis, 6/8).

Alumni Fakultas Ekonomi Unkris ini berpendapat, diperlukan sosok ekonom yang pro-ekonomi kerakyatan, berani mengambil kebijakan yang konstruktif dalam menata ulang perekonomian Indonesia, dan tentunya sosok ini harus pula dapat diterima serta dikenal pasar baik nasional maupun internasional.

"Sekali lagi, figur yang paling tepat untuk menjabat Menko Ekuin yang baru adalah Dr Rizal Ramli, selain sudah sangat dikenal baik oleh publik di dalam dan di luar negeri," tegasnya.

Lebih lanjut, ia melihat track record Rizal Ramli yang sudah konkret di sektor ekonomi. Tommy meyakini Rizal Ramli bisa mewujudkan Nawa Cita Presiden Jokowi.

"Sosok Rizal Ramli bila menjadi Menko Ekuin maka saya yakin dia bisa men-deliever apa yang menjadi keinginan bapak Presiden Jokowi untuk membangun dan mensejahterakan rakyat Indonesia," tandasnya.

Nilai tukar rupiah atas dolar AS yang melemah berdampak pada kemampuan perusahaan-perusahaan yang bahan bakunya berasal dari luar negeri. Dengan demikian, biaya untuk mengimpor bahan baku akan semakin mahal, dan akibatnya harga produk yang dihasilkan juga akan menjadi mahal.

"Bila harga mahal di pasaran, maka peluang untuk dibeli konsumen akan berkurang. Ini artinya pelemahan rupiah akan berdampak buruk bagi eksistensi perusahaan dan pekerjanya terutama bagi perusahaan orientasi import dengan pasar lokal," kata Sekjen Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI), Timboel Siregar, dalam keterangan beberapa saat lalu (Rabu, 5/8).

[ysa]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...