Jokowi-JK Tidak Dianggap. Bisa Apa? Asing Kuasai 90 % Migas, 85% Perbankan. Indonesia Membusuk

KONFRONTASI- Indonesia butuh pemimpin besar yang komit dan pro-rakyat. Sebab, hampir semua sektor perekonomian Indonesia, kini dikuasai asing. “Ritel bisnis kita supermarket nama asing, perbankan 85% dikuasai asing, migas 90% milik asing. Perkebunan, semen, jalan tol, listrik milik asing,

Mata uang dolar AS dan label asing sudah mengepung kita. Bagaimana nasib rupiah? 

Jangan kaget kalau suatu saat restoran mewah meminta bayaran dolar AS setelah Anda selesai makan. Semua bukan tak mungkin. Sebab, bukan apa-apa, mata uang dolar AS sudah dipakai di mana-mana dalam bertransaksi di wilayah hukum Indonesia.

Tengok saja label harga barang-barang elektronik, sewa rumah kawasan elit, tarif sewa perkantoran, apartemen, pembayaran fee pengacara, hampir sebagian besar menggunakan dolar. Di Bali hampir 90% pelaku usaha menggunakan label harga dengan mata uang dolar AS.

Dengar juga cerita Benny Soetrisno, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Ketenagakerjaan. Saat mengurus bongkar muat di pelabuhan dalam negeri, transaksi yang dilakukan harus menggunakan dolar. Ironisnya, yang mengharuskan justru perusahaan pelat merah, PT Pelabuhan Indonesia.

“Sekarang semua suka pakai dolar untuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu,” kata Mirza Adityaswara, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.

Padahal, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang menyebutkan, rupiah wajib digunakan dalam setiap transaksi di dalam negeri, kecuali transaksi perdagangan internasional, pembiayaan internasional dan simpanan dalam bentuk valuta asing. Bagi mereka yang melanggar dikenakan sanksi pidana kurungan 1 tahun dan denda Rp 200 juta.

Tapi aturan tinggal aturan, toh praktik di lapangan dolar tetap saja dipakai dalam banyak transaksi. Bagaimana nasib rupiah?

Kita memang bangga, dan takut dibilang tak keren kalau tidak menggunakan label asing. Kalau bicara sebentar-bentar diselipi kata asing (Inggris), supaya dibilang orang modern. Padahal setelah ditengok, harga rumahnya cuma ratusan juta rupiah.

Di sekeliling kita sekarang ini memang sudah banyak label asing. Bangun tidur minum air mineral bermerek Aqua, yang 74% sahamnya punya Danone asal Perancis. Atau minum teh Sariwangi milik Unilever, Inggris, atau minum susu SGM kepunyaan Sari Husada yang 82% sahamnya dikuasai Numico, Belanda.

Mau mandi? Pakai sabun Lux dan sikat gigi Pepsodent milik Unilever, Makan nasi pakai beras impor, termasuk makan buah. Lalu, berangkat kerja naik mobil, bus, atau motor, bermerek asing. Pulang ke rumah merokok Sampoerna yang 97% sahamnya mililk Philips Morris, Amerika Serikat.

Sekarang, coba perhatikan dari berbagai unsur di industri telekomunikasi, adakah yang merupakan produk dalam negeri? Dari sisi operator, hampir semua yang beroperasi di Indonesia dikuasai asing. Meski ada yang masih milik dalam negeri, tetapi hanya operator kecil di jaringan CDMA. Semua operator GSM dikuasai asing.

Dua operator terbesar yang masih ada unsur BUMN, misalnya. Porsi saham terbesar PT  Indosat Tbk dikuasai perusahaan Qatar Telecom sebanyak 65%, kemudian Norwegia (Skagen AS) sebanyak 5,38%, Pemerintah Indonesia 14,29%, dan sisanya untuk publik sebanyak 15,33%. Bahkan Telkomsel yang mengaku Paling Indonesia dengan pelanggan di atas 139 juta saja, sebanyak 35% sahamnya dimiliki oleh perusahaan Singapura, SingTel Mobile dan 65% dikuasai Telkom.

Perusahaan swasta lebih besar lagi. Sebanyak 66,7% saham XL dikuasai Axiata Group Berhad, Malaysia. Kemudian Etisalat memiliki 13,3% dan sisanya 20% untuk publik. Hal serupa untuk Axis dan Tri yang semuanya milik asing. Praktis, hampir semua frekuensi telekomunikasi Indonesia dikuasai oleh asing.

Di bisnis ritel, jangan ditanya. Semuanya dikepung nama-nama asing. Bahkan, sudah antre puluhan ritel asing baru yang bakal masuk Indonesia. Mereka adalah Tesco, Jasco, Isetan, dan Central. Ritel perkakas Ikea pun dikabarkan segera membuka gerai di Jakarta. Bahkan, ritel terbesar di Amerika Serikat yang dulu pernah masuk di Indonesia bersama Grup Lippo tetapi gagal, WalMart, kabarnya juga tertantang mencoba kembali peruntungannya di Indonesia.

Isetan, peritel papan atas yang cukup dikenal di Asia Tenggara dan mempunyai gerai di Orchard Road, Singapura, juga siap masuk. Isetan sudah menandatangani kontrak kerja sama dengan salah satu peritel lokal.

Bagaimana di sektor perbankan? Hampir 85% sudah dikuasai oleh asing. Jadi, kalau mau disebut satu per satu, bisa panjang. Yang jelas, hampir semua sektor perekonomian Indonesia, kini dikuasai asing. “Ritel bisnis kita supermarket nama asing, perbankan 85% dikuasai asing, migas 90% milik asing. Perkebunan, semen, jalan tol, listrik milik asing,” kata ahli ekologi politik dan sosiologi IPB, Arya Hadi Dharmawan. Indonesia pun membusuk karena hanya jadi bangsa kuli. Butuh pemimpin berani dan berjiwa besar. (K/indonesian review)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA