17 February 2020

Iran Hargai Kepala Trump Rp 42 M, AS: Teroris

KONFRONTASI -   Amerika Serikat akhirnya berkomentar soal tawaran uang hingga US$ 3 juta atau sekita Rp 42 miliar untuk kepala Presiden Donald Trump.

Bahkan Duta Besar AS Robert Wood, yang khusus menangani perlucutan senjata, menilai langkah tersebut tak dibenarkan.

"Konyol dan mendukung nilai-nilai teroris," tulis Reuters mengutip Wood saat bertemu wartawan di Jenewa, Selasa (21/1/2020) waktu setempat.

 

Dikesempatan yang sama, ia bahkan mengomentari soal ancaman lain Iran, di mana negara itu ingin keluar dari Perjanjian Non-Proliferasi (NPT) 1970, yang mengikat negara di dunia, mengembangkan nuklir hanya untuk kepentingan damai.

"Pesan yang sangat negatif," ujarnya lagi.

Sebelumnya, parlemen Iran menjanjikan uang tunai bagi siapa saya yang bisa mendapatkan kepala Presiden AS Donald Trump.

Tak tanggung-tanggung uang yang akan diberikan adalah US$ 3 juta atau sekitar Rp 42 miliar.

"Kami akan memberikan US$ 3 juta pada siapapun yang membunuh Trump," kata Ahmad Hamzeh, anggota Parlemen Iran yang mewakili wilayah Kahnouj, sebagaimana dikutip Rabu (22/1/2020).

Ia berbicara soal hadiah uang ini, saat berpidato di depan parlemen yang memiliki 290 kursi itu.

Meski demikian, belum ada konfirmasi apakah ide ini sudah disetujui atau tidak, termasuk oleh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei dan Presiden Iran Hassan Nourani.

Ide menghargai Trump dengan uang, juga pernah disebukan dalam pidato pengantar jenazah, saat massa hendak menguburkan Soleimani awal Januari lalu.

Bahkan ada tawaran hingga US$ 80 juta atau sekitar Rp 1,1 triliun bagi siapapun yang bisa mendapatkan kepala presiden as ke 45 itu.

Perselisihan Iran dan AS sebenarnya sangat kompleks. Dinamika yang terjadi bahkan sudah terjadi selama 70 tahun.

Saat Trump berkuasa, tensi mulai panas lagi ketika presiden kontroversial itu keluar dari perjanjian nuklir bersama, yang dibuat di jaman Presiden Barack Obama, dan memberi sanksi ke ekonomi Iran.

AS beralasan perjanjian yang dibuat dengan sejumlah negara termasuk, Rusia, China dan Eropa itu tidak cukup menghentikan proyek nuklir Iran. Sanksi akhirnya menekan ekonomi negeri Syiah itu.

Tensi makin mendidih 3 Januari lalu, kala AS merudal iring-iringan pasukan Soleimani di Bandara Baghdad. Iran yang marah dengan kematian pemimpin militernya mengaku akan membalas dendam ke AS.(Jft/CNBC)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...