Herdi Sahrasad: Menko Rizal Ramli, sang Rajawali, Sangat Apresiatif atas Masukan Prof Emil Salim dan Para Tokoh Nasional

KONFRONTASI- Menko Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli  (RR) sangat  apresiatif dan lapang dada menerima kritik dan koreksi jika ada kesalahan atau kekeliruan dari dirinya, karena pada dasarnya RR adalah sosok yang terbuka, manusia biasa dan sangat menghargai kritik substantif. Sang Rajawali itu siang malam memikirkan bangsanya yang 80 persen hidup miskin. Kami saksi hidup dari pergulatan dan kesungguhan serta keprihatinannya atas kompleksitas dan ruwetnya masalah KKN, ketidakadilan dan kesenjangan sosial yang dihadapi negara bangsa ini dimana hanya 20 persen yang hidup sebagai kelas menengah dan merdeka di republik yang sangat dicintai Rizal Ramli ini.

Demikian pandangan dosen/akademisi Sekolah Pasca Sarjana Universitas Paramadina Herdi Sahrasad kepada KONFRONTASI semalam. ''Karena itu saran, respon dan masukan Prof Emil Salim, budayawan Jaya Suprana, Mas Christianto Wibisono, Pak Alwi Shihab, Romo Sandyawan dan para tokoh nasional  serta masyarakat yang bertemu RR dan memberikan masukan kepadanya,  merupakan bukti empati, komitmen dan keperdulian mereka atas sepak terjang sang Rajawali yang sangat komit pada Cita-Cita Proklamasi 1945 dan Trisakti Soekarno, dengan cara lugas, terus terang dan berani itu,'' kata Herdi, peneliti senior PSIK Universitas Paramadina.

''Saya, sebagaimana koran online KONFRONTASI dan civil society,  bakal menjaga dan mengawal Menko Rizal Ramli sampai titik darah penghabisan karena komitmen RR untuk memperjuangkan ekonomi konstitusi dan cita-cita Proklamasi 1945, dengan sekuat tenaga dan pikiran demi maslahat rakyat yang menderita cengkeraman Neoliberalisme. Trisakti Soekarno menjadi fokus untuk menghalau Neoliberalisme, apapun risikonya,'' imbuh Herdi.

''Kepak RR, sang Rajawali,  sangat mungkin mengkhawatirkan dan mengganggu kelompok-kelompok kepentingan bercokol, KKN, pro-status quo dan Neolib yang hidup nyaman di atas penderitaan mayoritas rakyat negeri ini,'' ujar Herdi Sahrasad, mantan peneliti tamu di UC Berkeley AS, Indiana University,AS  dan Monash University Australia itu.

Aksi kepret Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli rupanya tak membuat mantan Menteri Perhubungan era Orde Baru Emil Salim kaget. Emil, yang juga dikenal sebagai tokoh lingkungan hidup, mengatakan, Rizal mempunyai "pegangan" kuat sejak dulu. "Dia dari dulu kan punya garis tertentu (prinsip hidup), itu yang dia pegang. Seperti yang zamannya (Presiden) Gus Dur, saya lihat dia tetap berpegang pada garisnya itu," ujar Emil Salim seusai bertemu Rizal Ramli di Kantor Kementerian Koordinator Kemaritiman, Jakarta, Jumat (18/9/2015).

Di mata tokoh kelahiran di Lahat, Sumatera Selatan, itu, sosok Rizal cukup membuatnya terkesan. Keterusterangan Rizal, bilang tidak kalau tidak suka, bilang iya kalau dia suka, begitu melekat di benak Emil.

Menurut dia, keterusterangan itu bertujuan untuk mengoreksi berbagai hal yang dinilai salah dan dianggap tak berkeadilan. "Kalau dia (Rizal) anggap ada yang kurang tepat, ya dia kemukakan terus terang sebagaimana agar Indonesia terus berkembang tanpa korupsi, tanpa ketidakadilan," kata Emil.

Pria yang lahir pada 8 Juni 1930 itu datang ke Kantor Kementerian Koordinator Kemaritiman bersama 15 tokoh senior lainnya, di antaranya, mantan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab, budayawan Jaya Suprana, dan ekonom Christianto Wibisono. Berbagai tokoh senior itu memberikan berbagai masukan kepada Rizal Ramli. Selain masukan ide, Rizal juga diberikan makalah ilmiah terkait berbagai sektor ekonomi di Indonesia. (KCM)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA