21 October 2019

Gatot Nurmantyo orangnya SBY jadi Calon Panglima TNI: Ironis, SBY Kalahkan Megawati/PDIP dan Jokowi.

KONFRONTASI- Presiden Jokowi dan Megawati Soekarnoputri/PDIP kalah melawan SBY dalam kasus naiknya Gatot Nurmantyo jadi alon panglima TNI. Pertarungan antar-faksi di tubuh pemerintah tidak hanya untuk urusan susunan kabinet yang akan segera dirombak, melainkan sudah masuk ke institusi lain, dalam hal ini TNI. Posisi Panglima TNI pun ditarik-tarik ke ranah politik.

Dalam perbincangan di kalangan politisi dan aktivis belakangan ini disebutkan bahwa secara umum Jokowi semakin tidak nyaman dengan kubu Kalla-Mega-Paloh yang juga disingkat KMP. Kubu ini dianggap terlalu agresif merongrong Jokowi dan memaksanya hanya sekadar jadi pelaksana kekuasaan partai pendukung. Maka tidak heran bila mulai terlihat tanda-tanda Jokowi bergegas merangkul kubu yang berseberangan dengan KMP di atas.

Muncullah kabar yang mengatakan ada sejumlah petinggi Koalisi Merah Putih tengah bersiap-siap memperkuat Kabinet Kerja.

Bukan hanya Koalisi Merah Putih yang mendapatkan peluang dari konflik internal antara Jokowi dan para pendukungnya. Partai Demokrat yang dipimpin SBY dan selama ini dinilai berada di tengah juga mulai dilibatkan untuk memperkuat posisi Jokowi melawan kawan-kawannya sendiri.

Salah satu indikasi kuat yang memperlihatkan peranan SBY di belakang Jokowi adalah penempatan orang-orang SBY di dalam sejumlah posisi penting di Kementerian juga di BUMN. Termasuk penunjukan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Gatot Nurmantyo sebagai calon Panglima TNI, kendati para pendukung Jokowi di Koalisi Indonesia Hebat menghendaki Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna yang dipasang sebagai pengganti Jenderal Moeldoko.

Karena tak mau kehilangan posisi di tubuh TNI, maka kini bergulirlah isu jabatan Wakil Panglima TNI dari kalangan Istana, yang diharapkan dapat menjadi penyeimbang kekuatan non-KIH di TNI.

Secara umum eksperimen politik ini berisiko tinggi.

KACAU JOKOWI/PDIP

Disayangkan bahwa Presiden Joko Widodo mengajukan nama Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Gatot Nurmantyo sebagai Panglima Tentara Nasional Indonesia.  Padahal Gatot adalah sosok yang dipersiapkan Presiden SBY dan Gatot dinilai dekat dengan kalangan konglomerat tertentu sehingga sangat mungkin kalangan DPR menolaknya. ''Kalangan DPR sudah tahu  semua itu, juga tahu kalau Gatot adalah usulan SBY, orangnya SBY dan bukan dari PDIP atau Jokowi sehingga istana masih setengah hati dan DPR bisa saja menolaknya,''  demikian pandangan Reinhard MSc, pengamat politik dari Bung Karno Institute dan  peneliti Zulkarnain dari the New Indonesia Foundation. .

Di kalangan LSM, intelektual, media dan parlemen,masih banyak pertanyaan seputar Gatot yang dikenal sebagai orangnya SBY dan loyal pada Cikeas.Bahkan beredar kabar bahwa PDIP merasa kecolongan, juga istana Jokowi sehingga proses Gatot untuk diajukan jadi Panglima TNI masih tanda tanya, apakah bakal disetujui DPR atau tidak. Yang jelas, Gatot sudah diajukan ke DPR sehingga kontroversi yang mengitarinya, jadi pertanyaan di kalangan publik yang perduli. Sikap kritis kalangan LSM, civil society bisa jadi cambuk bagi TNI dan istana dalam memilih panglima yang pro-rakyat, dan yang siap dikritik tajam bahkan dikecam oleh masyarakat.

Sementara itu, di kalangan internal Mebes TNI, sosok Laksaman TNI Ade Supandi yang pernah menjabat sebagai Kasum TNI adalah sosok prajurit yang bersahaja dan disenangi karena sikapnya yang rendah hati dan mudah diterima berbagai kalangan, baik bintara, tamtama, hingga perwira.

Ketika ditemui wartawan di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, Selasa, (5/5), Kasal Laksamana TNI Ade Supandi mengatakan bahwa jika dipercaya menjadi Panglima TNI, maka sebagai prajurit, dia siap menjalankan tugas negara dimanapun dan kapanpun.

"Saya siap kalau dipercaya," ujar Laksamana TNI Ade Supandi. Demikian halnya dari jajaran TNI AU pun siap jadi PAnglima TNI kalau diberi amanah oleh presiden.

Pakar politik dan pertahanan, Salim Said malah menyarankan kepada Presiden Jokowi, agar memilih Panglima dari TNI Angkatan Udara. Hal itu karena matra tersebut belum banyak berkesempatan menjabat Panglima TNI, dibanding TNI AD dan TNI AL.

Salim menyatakan, jabatan Panglima TNI dapat diduduki oleh siapa saja dan dari matra mana saja, asal memenuhi persyaratan yang telah diatur dalam udang-undang. Namun, masalah siapa Panglima TNI itu adalah hak prerogatif Presiden Jokowi seutuhnya, sebagai seorang kepala negara.

 (jjk)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...