Fahri Hamzah: Jokowi Menciptakan Momok untuk Dirinya Sendiri

KONFRONTASI -   Fahri Hamzah, Wakil Ketua DPR RI, memberikan respon sekaligus kritikan atas “Pidato Panas” Calon Presiden RI yang juga Petahana Joko Widodo yang akan melawan langsung segala bentuk fitnah dan hujatan yang tertuju pada dirinya selama ini.

“Pak Jokowi itukan menciptakan momok yang dia katakan itu. Jadi dia akan melawan momok yang dibuatnya sendiri karena dari awal ada konflik yang menciptakan itu. Ada konflik naratif bahwa saya pancasila, saya Indonesia,” tutur Fahri di Kantor DPR RI, Senayan, Jakarta (25/03).

“Itukan menandakan bahwa saya pancasila, kamu bukan. Islam jangan dicampur dengan politik, agama jangan dicampur dengan politik. Kemudian ada konflik terbuka dengan massa, 411, 212 dan sebagainya itu. Lalu menghindar dengan kelompok tertentu, memang ini tidak bisa dihindari,” imbuhnya.

Ini ekor Pilkada Jakarta, lanjut Fahri, karena ada mantan Gubernur DKI Jakarta Ahok yang juga menciptakan konflik dengan masyarakat. Ini yang Jokowi secara sadar mewarisi konflik sehingga kemudian momok-momok itu tercipta, yang mana tuduhan-tudahan kepada Jokowi tercipta akibat jarak yang Jokowi buat sendiri. 

Menurut Fahri, sebenarnya momok itu bisa dihilangkan dari awal, tetapi karena akhirnya momok yang dia ciptakan itu akhirnya sekarang dia mau hadapi sendiri. Mantan politisi PKS ini berpendapat bahwa sudah telat dan seharusnya bukan itu yang dia lawan sekarang. 

“Menurut saya yang dia harus lawan sekarang itu adalah tuduhan bahwa sebenarnya dia tidak memperbaiki keadaan ekonomi, sebenarnya dia tidak memperbaiki keadaan politik, sebenarnya dia tidak rekonsiliatif, dia pemimpin yang tidak membangun persatuan tetapi membangun konflik,” tandasnya. 

Harusnya, tambah Fahri, itu yang Jokowi jawab saat ini, tetapi malah Jokowi melakukan tindakan yang menunjukkan memang benar dirinya yang berkonflik dari awal  dengan mengatakan bahwa “mau nanti calon presiden yang dipilih dari kelompok itu?”. 

 

Gambar mungkin berisi: 2 orang, orang berdiri dan pakaian

Fahri menegaskan tidak seharusnya Jokowi seperti itu karena bagaimanapun dia adalah presiden semua orang. Harusnya kata-kata itu dikelurkan dari awal ketika dulu para Habib-Habib dan ulama-ulama mau ketemu dengan dirinya, namun apa masalahnya dengan Jokowi pada waktu yang kemudian lari dari permintaan-permintaan tersebut. 

“Saya kira ketika kita meng-approach tanggal 17 April ini, ini adalah momen finalisasi untuk merekonstruksi kembali dasar berpikir dan pilihan dari masyarakat,” tuturnya.

Disamping itu, Fahri menekankan bahwa kampanye terbuka itu sebenarnya untuk melibatkan partisipasi masyarakat terhadap proses transisi kepemimpinan ini. Maka harus merayakannya itu dengan gembira, kalau ada perbedaan ya pasti ada perbedaan, tidak mungkin tidak karena calonnya beda githu, tetapi tidak boleh perbedaan itu menjadi dasar konflik fisik. 

“Konflik pikiran itu yang harus kita rayakan dalam demokrasi, perbedaan pikiran, perbedaan pendapat. Tidak boleh ada konflik fisik. Jadi mari kita turun ke jalan merayakan pesta ini meskipun kita berbeda dengan tetangga kita pilihan, tetapi rayakanlah perbedaan itu dalam suatu kerangka kita ingin menyemarakan kepemimpinan yang akan hadir,” pungkasnya.

Sebelumnya, Jokowi dalam pidatonya di acara Deklarasi Alumni Jogja SATUkan Indonesia di Stadion Kridosono Yogyakarta, Sabtu (23/03) menyampaikan pidato panas mengenai dirinya mendapat banyak fitnah selama 4,5 tahun menjabat presiden. 

“Saya sebetulnya diam selama 4,5 tahun. Saya difitnah, saya diam. Dijelek-jelekan, saya diam. Direndahkan, saya diam. Dihujat, saya juga diam. Tetapi hari ini, di Jogja, saya sampaikan saya akan lawan!,” tegas Jokowi.(Jft/SuaraNasional)

 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA