28 February 2020

Din: Gagasan Revolusi Mental Kurang Greget

KONFRONTASI-Pada masa kampanye di Pilpres 2014 lalu, Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla mengusung gagasan Revolusi Mental. Kini setelah enam bulan keduanya memimpin Indonesia, bagaimana realisasi gagasan tersebut?

Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, menyebut hingga kini ia belum melihat tanda-tanda gagasan tersebut sudah direalisasikan dengan baik. Ia menyayangkan bila gagasan tersebut gagal diwujudkan.

"Sebenarnya gagasan revolusi mental itu bagus, tapi belum ada tanda-tanda penerapan yang baik. Sayang kalau hanya berhenti sampai gagasan, ini memerlukan sebuah strategi komperhensif total," kata Din Istana Wapres, Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2015).

Gagasan tersebut lah yang membuat Din mendukung pasangan Joko Widodo - Jusuf Kalla pada Pilpres 2014.

Ia berpendapatan gagasan itu seharusnya menjadi gagasan besar yang direalisasikan secara sistematis, yang menghasilkan perubahan positif.

"Dalam kenyataannya, setelah sekian bulan ini kelihatannya kurang greget untuk melaksanakan apa yang disebut dengan revolusi mental," ujarnya.

Sejatinya revolusi mental itu adalah jawaban dari sejumlah permasalahan bangsa saat ini. Mulai dari kasus korupsi, hingga maraknya prostitusi mulai dari online hingga prostitusi yang dilakukan oleh artis dengan tarif ratusan juta rupiah.

"Masih ada waktu buat pemerintah, jangan kehilangan momentum. Makannya itui perlu dipirkirkan kembali. Itu jawaban sebagai masalah-masalah tadi," tandasnya.

Pada saat piplres 2014, Joko Widodo dalam berbagai kesempatan sering menjelaskan gagasan perubahan karakter bangsa Indonesia, melalui konsep Revolusi Mental.

Namun setelah ia sukses memenangkan Pilpres 2014, konsep Revolusi Mental hanya direalisasikan sebatas program di bawah Kementerian Kordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, dengan anggaran di bawah Rp 200 Miliar.[mr/trbn]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...