6 December 2019

Devisa Dipakai Jaga Rupiah, Dana Asing Terus Kabur. Prediksi Rizal Ramli Terbukti

KONFRONTASI- Teknokrat senior Rizal Ramli, capres alternatif dari rakyat, sudah memprediksi dan mengingatkan Desember 2017-Januari 2018   kepada pemerintah Jokowi-JK bahwa Neoliberalisme  Menkeu Sri Mulyani-Darmin Nasuiton cs dengan utangnya yang meninggi, adalah beban dan bencana bagi ekonomi rakyat dan bangsa.  Meski cadangan devisa dipakai untuk menjaga nilai tukar rupiah, tetap saja dana asing kabur dan  rupiah melemah siap menembus Rp15.000/dolar karena salah urus ekonomi ala neolib Sri Mulyani cs.

RR mengingatkan waktu itu bahwa merosotnya ekonomi dan melemahnya rupiah makin menggerus elektabilitas Presiden Jokowi  sendiri  maupun legitimasi Jokowi menuju Pilpres 2019. Pelbagai lembaga survey  pun, kecuali survei Kompas,  menyatakan bahwa elektabilitas petahana Jokowi yang riil berada di bawah 35 persen. Artinya, potensi Joko Widodo untuk kalah dalam  Pilpres 2019 sangat besar.  

Kalau rupiah terus melemah menembusi Rp14.000-15.000/dolar AS seperti kecenderungan belakangan ini, maka kekalahan Jokowi sudah hampir pasti karena elektabilitanya mandul. Poltracking dan LSI menilai elektabilitas Jokowi alami stagnasi.

Hasil gambar untuk rr prabowo rachma

Hasil gambar untuk rr prabowo rachma

Dalam hal ini, sejak awal hingga akhir 2017, Indonesia berhasil memupuk cadangan devisa. Namun hasilnya banyak terpakai untuk stabilisasi rupiah, yang ternyata juga tidak mampu membendung depresiasi mata uang ini. Rupiah terus memburuk, ekonomi neoliberal Sri Mulyani cs terus terpuruk.

Pada awal 2017, cadangan devisa Indonesia tercatat US$ 116,9 miliar dan pada akhir tahun lalu naik menjadi US$ 130,2 miliar. Artinya ada kenaikan 11,38%.  Cadangan devisa masih naik pada Januari 2018 menjadi US$ 132 miliar yang merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Namun selepas itu, cadangan devisa terus turun hingga menyentuh US$ 126 miliar pada akhir Maret. Dibandingkan posisi awal tahun, cadangan devisa sudah merosot US$ 6 miliar atau 4,76%.

Hasil gambar untuk rr prabowo rachma

 

Efektifkah Penggunaan Cadangan Devisa untuk Topang Rupiah?BI

Salah satu penyebab penurunan cadangan devisa adalah stabilisasi kurs. Tahun lalu, banyak yang memperkirakan bahwa 2018 adalah periode yang penuh optimisme, penuh suka cita, dengan pertumbuhan ekonomi global yang lebih baik. Namun, ternyata yang terjadi tidak seindah itu. 

Pada Januari, hawa indah itu masih ada. Pasar saham melonjak, imbal hasil (yield) obligasi turun, dan rupiah sempat perkasa di kisaran Rp 13.200/US$.

Namun memasuki Februari, semua mulai berbalik. Semua dimulai dengan persepsi bahwa suku bunga acuan di Amerika Serikat (AS) akan dinaikkan secara lebih agresif. Sebab, data-data ekonomi AS terus menunjukkan perbaikan. Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) pun menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2,5% menjadi 2,7%. 

Pemulihan ekonomi akan berdampak pada percepatan laju inflasi, yang memang perlu dilawan dengan kenaikan suku bunga. Oleh karena itu, muncul persepsi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sampai empat kali pada 2018. Lebih banyak dibandingkan perkiraan yaitu tiga kali. 

Situasi diperparah dengan memanasnya hubungan dagang antara AS dan China. Aksi saling proteksi dilakukan dua perekonomian terbesar dunia tersebut, melahirkan apa yang disebut dengan perang dagang. 

Teranyar, yield obligasi pemerintah AS naik hingga menembus level 3% untuk tenor 10 tahun. Yield ini bahkan menjadi yang tertinggi sejak 2011. 

Kenaikan yield menandakan ada lonjakan ekspektasi inflasi. Hal ini lagi-lagi memunculkan pembacaan bahwa The Fed akan agresif dalam mengetatkan kebijakan moneter. 
(aji/wed)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...