18 January 2018

Ben Anderson Wafat, Cornell dan Kita Kehilangan Akademisi Hebat

KONFRONTASI-Pemikir dan peneliti Indonesia, Benedict Richard O'Gorman Anderson atau Benedict Anderson meninggal dunia di Batu, Malang, Jawa Timur, Sabtu (12/12) jam 11:30 WIB. Jenazah kini disemayamkan di Surabaya. ''Pak Ben Anderson sempat mengundang kami ke Cornell 1994, kami sangat berterimakasih atas kebaikan dan ketulusannya. Kami amat berduka dan kami doakan beliau diterima di sisi terbaikNya. Kami kehilangan, dan kami menulis dan bekerja dengan sikap kritis sebagai komitmen meneruskan pesannya pada bangsa kita agar cita-cita Proklamasi bangsa kita bisa diwujudkan, Pak Ben itu egaliter, tidak suka formalitas dan helpful,''kata Herdi Sahrasad, dosen Universitas Paramadina mengenang Benedict Anderson yang menjadikan Indonesia sebagai Tanah Airnya yang kedua.

Kabar meninggalnya Anderson berasal dari akun Twitter dan Facebook resmi penerbit Marjin Kiri yang akan meluncurkan buku Anderson di Indonesia berjudul "Di Bawah Tiga Bendera".

Kedatangan Benedict Anderson ke Indonesia dalam rangka memenuhi peluncuran buku tersebut.

Kamis (10/12) lalu, Anderson juga baru memberi kuliah umum di Universitas Indonesia tentang "Anarkisme dan Sosialisme".

Dalam akun Facebooknya, penerbit Marjin Kiri, mengatakan bahwa, Anderson "meninggal dunia dini hari tadi di sebuah hotel di daerah Batu, Malang, saat beristirahat sehabis...berjalan-jalan."

Anak angkat Ben Anderson, Wahyu Yudistira mengatakan, Anderson tak memiliki penyakit khusus saat meninggal.

"Usianya sudah lanjut, capek saja, kelelahan," kata Wahyu.

Menurut Wahyu, Anderson berada di Jawa Timur untuk berjalan-jalan, bernostalgia di tempat-tempat yang pernah dia kunjungi sebelumnya, seperti Museum Mpu Tantular di Sidoarjo atau Candi Belahan di Mojokerto.

Minggu pagi, jenazah Anderson dibawa ke Surabaya dari Malang, dan, sesuai permintaannya, Anderson ingin dikremasi dan abunya disebarkan di Laut Jawa.

"Keluarga sudah diberitahu. (Mereka) Diusahakan secepatnya ke Indonesia. Saya dan keluarga kami sedang mengurus keperluan untuk kremasi," kata Wahyu.

Semasa hidupnya, Anderson adalah pengkaji Asia Tenggara paling terkemuka di dunia. Bukunya, "Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism" adalah karya klasik dalam ilmu sosial dan ilmu politik.

Karya-karya Anderson lainnya termasuk Java in a Time of Revolution, Debating World Literature, dan Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia.

Anderson pernah dicekal pada masa Orde Baru, dan dia baru boleh kembali ke Indonesia pada 1999.

Benedict Richard O'Gorman Anderson atau Ben Anderson tutup usia di Kota Batu Malang, Ahad (13/12). Sebelum meninggal Ben Anderson seorang ahli Indonesia dari Universitas Cornell, Amerika Serikat, terlihat sehat.  

Ben Anderson menginap di kamar 143 Hotel Royal Orchid, Kota Batu. Setelah peluncuran buku Nasionalisme dan Anarkisme di Universitas Indonesia, Ben menyempatkan diri liburan ke Jawa Timur. Sempat berkunjung ke Surabaya, Ben kemudian beristirahat di Kota Batu.

Humas Polres Batu menceritakan kegiatan Ben sebelum meninggal dunia. Pada pukul 19.00 WIB, Sabtu kemarin, Ben bersama asistennya Edward dan supirnya Sugito masuk Hotel Royal Orchid. Pada pukul 20.00 WIB, Ben makan malam, lalu naik ke kamarnya untuk tidur.

"Pada pukul 23.00 Edward terbangun karena suara dengkuran Ben," kata AKP Waluyo, Kepala Bagian Humas Polres Kota Batu, Ahad (13/12).

Setelah beberapa kali dibangunkan, Ben tidak kunjung bangun. Edward memutuskan untuk menunggu selama 10 menit. Lalu dengkuran Ben sempat berhenti dan nafasnya terputus-putus, tidak lama kemudian nafasnya berhenti.

Edward langsung menelpon resepsionis mengatakan ada pasien yang membutuhkan dokter. Pihak hotel pun menelpon Rumah Sakit Baptis. Ben kemudian dibawa ke rumah sakit dengan ambulan. Setelah diperiksa organ vitalnya, Ben dinyatakan meninggal dunia.

Waluyo mengatakan dua kali dalam satu tahun Ben datang ke Indonesia. Saat memberi kuliah di UI Ben juga masih bugar dan sehat. Waluyo mengatakan saat makan malam pun Ben makan yang disajikan hotel. Ditanya rumah sakit apa saja yang tidak mengangkat telpon ketika Edward mencari rumah sakit, Waluyo mengatakan tidak mengetahuinya.

"Kami tidak tahu ada rumah sakit yang tidak mengangkat telpon, kami hanya mengumpulkan data-data kronologis sebelum kematian beliau," kata Waluyo.

Saat ini jenazah Ben disemayamkan di Rumah Duka Adi Jasa, Jalan Demak, Surabaya. Ronnya Agustinus dari Penerbit Marjin Kiri mengabarkan Ben sebelumnya berjalan-jalan ke Surabaya dan beristirahat di Kota Batu.

Ben ke Indonesia untuk mengisi kuliah umum bertema anarkisme dan nasionalisme di kampus Universitas Indonesia, Depok, Kamis, 10 Desember 2015. Kegiatan ini diselenggarakan oleh penerbit Marjin Kiri, Program Studi Filsafat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, dan Majalah Loka. Ben Anderson adalah ilmuwan terkemuka dalam studi tentang Indonesia. Karya-karyanya banyak yang menjadi karya klasik wajib dibaca oleh kaum akademisi Indonesia. Ia berkarya dan mulai menulis penelitian-penelitian tentang Indonesia sejak awal  1960. Benedict R. O’Gorman Anderson lahir di Provinsi Yunnan, Cina. Ia menjabat sebagai Profesor Aaron L. Binenkorb pada studi internasional, profesor pada bidang pemerintahan dan studi Asia serta masih menjabat sebagai direktur di Cornell Modern Indonesia Project.

Ia sempat dilarang masuk ke Indonesia oleh Soeharto karena tulisanya yang disebut "Cornell Paper" soal Gerakan Partai Komunis Indonesia pada 1965. Dia baru berkunjung lagi ke Indonesia pada 1999 saat pemerintahan Soeharto jatuh.

 Benedict Richard O'Gorman Anderson atau Ben Anderson, ahli Indonesia dari Universitas Cornell, Amerika Serikat, menutup mata pada usia 79 tahun. Tokoh yang lahir di Kunming, Tiongkok, ini adalah salah satu cendekiawan yang pemikirannya turut mempengaruhi teori-teori tentang Indonesia. Pemikirannya yang kritis sempat membuatnya dilarang untuk menginjakkan kaki di Indonesia pada era Presiden Soeharto.

Tempo edisi 15 Agustus 1981, menceritakan pengalaman Ben Anderson ditolak masuk ke Indonesia oleh petugas imigrasi. Alasannya sederhana: ia dianggap terlalu sering mengecam pemerintah Indonesia terutama soal Timor Timur.

Pada 2 Agustus, ketika ia menginjakkan kakinya di Halim Perdanakusuma, Anderson diminta untuk kembali terbang meninggalkan Indonesia. Menurut Kepala Humas Imigrasi saat itu, Subagio, ia diterbangkan kembali karena terlalu keras mengkritik pemerintah Indonesia.

Padahal Anderson telah mengantongi izin visa dari pemerintah. Namun, karena dianggap masih terus 'menjelek-jelekkan' Indonesia, ia pun kembali dilarang masuk. Seorang perwira tinggi yang diwawancarai Tempo saat itu juga menganggap Anderson lebih layak disebut politikus dibandingkan ilmuwan.

Anderson bersama Ruth McVey termasuk di antara sekelompok sarjana yang menyusun suatu makalah yang terkenal sebagai Cornell Paper. Makalah ini berisi analisis tentang peristiwa G30S, dan menyimpulkan bahwa G30S adalah persoalan internal angkatan darat dan Partai Komunis Indonesia dianggap tidak terlibat.
Ben Anderson
Benedict Anderson meninggal dunia pada Minggu dinihari, 13 Desember 2015, di Batu, Jawa Timur. Ben ke Indonesia untuk mengisi kuliah umum bertema anarkisme dan nasionalisme di kampus Universitas Indonesia, Depok, Kamis, 10 Desember 2015. Kegiatan ini diselenggarakan penerbit Marjin Kiri, Program Studi Filsafat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, dan majalah Loka.

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...