9 December 2019

Amerika Serikat Dukung Sektor Riil dan Ekonomi Konstitusi di Indonesia. Bukan Ekonomi Spekulatif dan Neoliberal

KONFRONTASI- Dubes Amerika Serikat di Jakarta menegaskan, AS berkepentingan Indonesia menggerakkan sektor riil untuk membangun keadilan sosial, bukan mengutamakan ekonomi spekulatif dan ekonomi pasar neoliberal yang tak mungkin memajukan dan mensejahterakan rakyat banyak. Tidak benar kalau AS mendukung para ekonom Neoliberal masuk kabinet Jokowi.Itu klaim sepihak teknokrat Neolib yang justru merugikan AS dan Indonesia sendiri. AS justru mendukung gagasan ekonomi konstitusi yang berlandaskan sektor riil dimana ekonom senior Rizal Ramli PhD memperjuangkannya sesuai cita-cita Proklamasi. AS tidak mendukung ekonom Neoliberal dan Neoliberalisme di Indonesia sebagaimana klaim para ekonom neolib selama ini di kalangan elite politik. Jokowi dan Rizal Ramli sangat cocok secara ideologi dengan ekonomi kerakyatan, Trisakti dan Nawa Citanya.

Demikian penegasan Nehemia Lawalata, seorang tokoh GMNI dan mantan sekretaris politik Prof Sumitro Djojohadikusumo. Menurutnya, AS berkepentingan ekonomi sektor riil itu tumbuh untuk memajukan dan mensejahterakan rakyat. ‘’Sebab menurut Dubes AS dalam diskusi dengan rekan-rekan kita, kalau ekonomi pasar liberal dan ekonomi spekulatif (paper economy) hanya menguntungkan kelas atas dan pemodal, sedangkan keadilan sosial dan pemerataan menjadi tuntutan rakyat banyak, sesuai janji Trisakti Soekarno dan Nawa Cita ala Jokowi yang sudah meng-Indonesia karena disampaikan Jokowi di mana-mana untuk membangun Indonesia sejahtera,’’ kata analis dari Indonesia Timur  itu, kemarin.

Menurutnya, AS melihat sektor riil adalah fondasi ekonomi konstitusi (kerakyatan) yang  diperjuangkan Dr Rizal Ramli, dan menggerakkan sektor riil justru mendapat dukungan AS karena Indonesia memang membutuhkan tumbuhnya sektor riil untuk memajukan masyarakat, dan tidak butuh ekonomi spekulatif/pasar liberal.

Nehemia melihat, situasi perekonomian saat ini menghadapi lima masalah besar. Yang pertama adalah soal ketergantungan investasi asing. Kemudian kedua,  soal tidak terstrukturnya sumberdaya dengan pusat-pusat produksi dan jalur logistik.Hal yang ketiga adalah mengenai .pasar yang dominan dikuasai asing dan .defisit neraca berjalan yang dibayang-bayangi defisit neraca modal. Dan kelima, soal ketimpangan struktural, sektoral, regional, sosial dan intelektual.

nehemia lawalata

Para analis menyebut, itulah Lima masalah justru produk Mafia Berkeley yang di dalamnya ada Boediono, Darmin Nasution, Sri Mulyani dan Chatib Basri, para agen Neolib IMF/Bank Dunia. ‘’Nenarkah mereka sosok yang menjadi penyebab bisa memberikan resep penyembuhan? Kalau kita belajar dari jatuh bangunnya ekonomi politik Indonesia, materialis-kapitalisme, persoalannya tidak pernah bergeser di situ, tutur Nehemia.

Ditegaskannya, perekonomian Neoliberal gagal mngangkat harkat martabat manusia sebagaimana dibuktikan antara lain oleh Stiglitz, Krugman dan T Piketty.

Kabar Mantan Gubernur BI Darmin Nasution,Menteri Keuangan Chatib Basri atau Sri Mulyani (SMI) masuk dalam kabinet kerja Joko Widodo-Jusuf Kalla sangat mengganggu publik dan masyarakat politik karena paham dan haluan ekonomi mereka bertentangan dengan Trisakti dan Nawa Cita.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...