Korban Prostitusi Anak di Apartemen Kalibata Remaja Putus Sekolah dan Kesulitan Ekonomi

KONFRONTASI- Kapolres Jakarta Selatan Kombes Bastoni Purnama menyebut korban prostitusi anak di Apartemen Kalibata City sudah tidak bersekolah. Mereka juga kesulitan dalam kondisi ekonomi.

"Iya rata-rata putus sekolah, karena faktor ekonomi juga. Mereka bosan, lari dari orangtuanya," kata Bustoni di Polres Jakarta Selatan, Rabu (29/01/2020).

Ia menjelaskan, kondisi ekonomi yang sulit tersebut membuat para korban tergiur dengan janji pekerjaan dan uang daripada pelaku.

"Memang secara umum bahwa korban-korban yang dieksploitasi ini, mereka diimingi suatu pekerjaan, kemudian diimingi uang juga, walaupun ternyata kenyataannya mereka dieksploitasi," tuturnya.

Sayangnya, korban justru mendapat pekerjaan untuk melayani pelanggan. Mereka dijajakkan melalui media sosial dan aplikasi Michat. Bahkan mereka juga menjadi korban kekerasan.

Dalam sehari mereka diminta untuk melayani 4 orang pelanggan. Layanan itu sendiri diberikan di apartemen atau bisa juga di lakukan di luar apartemen.

"Jadi tergantung keinginan dari pelanggannya, bisa di apartemen itu bisa juga di tempat lain di luar," tuturnya.

Saat ini kata Bustoni polisi masih mendalami keterangan daripada para tersangka. Apakah dalam kasus tersebut telah melibatkan orang lain atau sebagainya.

"Atau ada jaringannya ini masih kita dalami ini akan kita cek, medsos, handphone juga baik dari pelaku maupun korban nanti kita cek," tukasnya.

Polres Metro Jakarta Selatan telah menetapkan sebanyak enam orang tersangka dan tiga orang korban terkait bisnis esek-esek yang melibatkan anak dibawah umur di Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan.

Kapolres Metro Jakarta Selatan, Kombes Pol Bustoni Purnama mengatakan, keenam pelaku berinisial AS (17), NA (15), MTG (16), ZMR (16), JF (29), dan NF (19).

Dari keenam pelaku dua orang diantaranya yakni AS dan NA juga sekaligus korban. Sementara korban satu lagi berinisial JO (15).

Adapun pelaku dijerat dengan pasal berlapis yakni Pasal 76 C Jo 80 dab 76 I Jo 88 UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Pasal 2 UU RI Nomor 21 Tahun 2007 tentang Perdagangan Orang dan 170 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.[mr/okz]

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA