19 August 2019

Para Pahlawan Nusantara di Afsel: Imam-imam Nusantara

Oleh: Bambang WIwoho

 

 Di bagian depan telah dikemukakan, pada akhir abad 18 Islam di Cape Town telah tumbuh dan berkembang. Th 1793 utk pertama kali berdiri masjid di Dorp Street yg dinamakan Masjid Ul-Awwal beserta madarasah dengan siswa yang terdiri dari para bekas budak dan orang-orang buangan atau pengikut tahanan politik yang sudah bebas, yang terus berkembang sehingga pada tahun 1825 mencapai  491 siswa.

Perkembangan itu tentu tidak bisa dipisahkan dari para ulama yang sekaligus menjadi ustadz atau guru. Dalam arsip kolonial tercatat nama  Bappa Abdol Sammat sebagai imam pertama di Mosterd Bay, yang terdaftar atau tercatat secara resmi pada 29 September 1832.

Akan tetapi dalam catatan kolonial juga tercatat ada tiga nama Abdol Sammat. Pertama yang tiba di Cape tahun 1758 sebagai tawanan yang dikerjapaksakan, tapi kemudian memperoleh kebebasan. Sementara yang kedua, dalam sensus th 1809/1810 ada nama Abdol Sammat yang juga bekas budak berusia 50 th. Selanjutnya dalam sensus di Mosterd Bay tahun 1825 tercatat Abdol Sammat berusia sekitar 40 – 60 th. Diperkirakan orang yang tercatat sebagai budak yang dibebaskan dan yang ada dalam kedua sensus tersebut adalah orang yang sama.

Pada tahun 1832, Abdol Sammat menulis testamen dalam tulisan dan bahasa  Arab serta Afrikaans yang menyatakan ia berasal dari Semarang. Pada tahun 1822 Abdol Sammat memperoleh beberapa sahabat antara lain Seding van Java yang bebas dari perkebunan Paarl Vallei, Borno van Java dari Perkebunan  Vondeling,  Soloman van Java dari Perkebunan Gustrouw, serta Rachiem van Java dan Cadier van Timor. Kedua terakhir tidak diketahui bekas budak dari perkebunan mana.

Dari waktu ke waktu jumlah mereka terutama yang berasal dari Jawa terus bertambah, bahkan sampai beberapa kali lipat,  di samping sejumlah orang lagi yang berasal dari berbagai kepulauan Indonesia (The Strand Muslim Community halaman 12 dan seterusnya). Ada sejumlah nama seperti Singo, Zingo (sama dengan Singo), Azam, Kwassa (mungkin dari kata Kuasa), Potro (mungkin dari Parto). Sakier, Kameding (mungkin dari Kamidin), Darius, Minerva van Batavia (perempuan, isteri Darius) dan Jamier van Timor. Dari deretan nama-nama tersebut ternyata ada dua orang yang berasal dari Timor. Dalam perkembangan, jumlah orang Timor juga bertambah dan menurunkan lima generasi keluarga asal Timor, yaitu generasi Keluarga Jamier, Safdien,  Barewie, Moegamat Bajanodien serta Agmat atau Achmat Timor.

Sejumlah orang, oleh orang Belanda pemilik perkebunan yang diikutinya, tak jarang memperoleh panggilan khas dari tuannya, kadang-kadang seperti nama Belanda, yang kemudian menjadi nama panggilannya sehari-hari.

Walau banyak tawanan politik dan budak, namun tidak semua orang Jawa yang menghuni Afrika Selatan pada masa penjajahan tersebut berasal dari para tawanan dan budak. Ada pula seorang pelaut muda yang melarikan diri dari kapalnya tatkala tiba di  Cape Town, yaitu Railoun atau Rykoen alias Rioloen putera dari Shahabodien yang berasal dari Batavia. Railoen lahir tahun 1840 dan wafat 1906, tiba di Cape Town sekitar akhir 1850-an atau awal 1860-an, dan tinggal bersama keluarga Mamat, juga lahir di Batavia 1759. Mamat adalah Imam dari Masjid  Palm Tree di Long Street  antara 1851 – 1864, dikenal berusia panjang, 105 tahun. Railoen kemudian melanjutkan Mamat menjadi Katib dan namanya dikenal menjadi Imam Railoun.

Ulama Nusantara lainnya yang tercatat dalam sejarah Afrika Selatan pada awal abad 19 menurut Afandri Adya dalam http://afandriadya.com yang diposkan pada 18 April 2016 adalah Jan van Boughies. Sementara dari laporan Majalah Tempo edisi 8 – 14 Februari 2016 ada nama Imam Jabaruddin dari Jawa serta Syeh Abdurrahman dari Padang.

Jan van Boughies adalah seorang budak yang dibawa oleh Belanda dari tanah Bugis, Sulawesi Selatan. Setibanya di Cape Town ia dimerdekakan oleh seorang wanita setempat, Salia van Macassar yang kemudian menjadi isterinya. Jan merupakan murid Tuan Guru yang cakap berbahasa Arab sehingga ikut mengajar bahasa Arab di madrasah Tuan Guru. Selanjutnya bersama temannya Frans van Bengalen ia membeli sebidang tanah di Long Street, Cape Town. Di  atas tanah ini ia membangun rumah sekaligus langgar. Empat tahun kemudian tanah dan bangunan itu sepenuhnya menjadi miliknya, yang selanjutnya bersama para pengikutnya ia bangun sebuah Masjid yang dikenal sebagai Masjid Palm Three atau Masjid Jan van Boughies.

Pada tahun 1820, Jan menjadi imam masjid tersebut dan mendapat gelar Imam Asnun. Tak hanya itu, ia juga menjadi pengajar tilawah serta teologi Islam. Reputasi Jan sebagai pemimpin umat sering menjadi catatan sejarah.  Menurut Abdulkader Tayib dalam bukunya “Islam in Sourth Africa : Mosques, Imams dan Sermons”, Jan juga banyak memerdekakan para budak. Antara tahun 1800 – 1818, tak kurang dari seratus budak yang berasal dari berbagai negara yaitu Madagaskar, Melayu dan Mozambik. Setelah Salia van Macassar meninggal, Jan menikah lagi dengan gadis berusia 15 tahun –  Samida van de Kaap. Pada tanggal 12 November 1846 Jan van Boughies wafat dalam usia 112 tahun, dan dikebumikan di Pemakaman Tanah Baru, Capetown.

Selain di wilayah Cape bagian barat, ada pula sejumlah ulama Nusantara yang bermukim di Port Elizabeth yang merupakan wilayah Cape bagian timur. Salah satu nama yang tertera pada nisan South End Valley Cementery, kompleks pemakaman muslim di kota itu, adalah Imam Haji Abdu Rafi. Dia adalah seorang ulama keturunan Jawa yang menyebarkan Islam di Port Elizabeth. Ia berdakwah di sana selama 42 tahun hingga akhirnya meninggal pada 1856 dalam usia 71 tahun. Imam Abu Rafie dan saudaranya Imam Abu Salie, dikenal sebagai leluhur komunitas muslim Melayu di Cape Timur, yang lahir di Cape Town dari ayah yang asli dan lahir di Indonesia.

Mazhab Syafii – Hanafi.

Ulama-ulama dan umat Islam yang merintis menyebaran agama Islam di Cape yang berasal dari Indonesia, adalah penganut Mazhab Syafii, dan pada umumnya mengikuti tasawuf. Sampai dengan pertengahan abad 19, di Cape hanya ada mazhab Syafii, namun setelah Inggris membawa pekerja-pekerja  dari India, dan juga mulai berdatangan pedagang-pedagang dari India, mazhab Hanafi juga ikut masuk ke Cape. Dalam dua dasa warsa awal abad ke 20, mazhab Hanafi mulai berkembang, tapi bergandengan tangan secara baik dengan mazhab Syafii. Bahkan pria-pria dari India yang Hanafi juga menikah dengan perempuan-perempuan dari Indonesia yang Syafii, dan masing-masing berjalan berdampingan (The Strand Muslim Community halaman 53). Foto: penulis dan isteri di depan Kramat Syeh Abdurrahman  Motura atau Pengeran Cakraningrat IV. Bentuk bangunan kramat atau makam seperti mesjid itu banyak kita jumpai di Afrika Selatan. Di dalam bangunan tersedia ruangan dan sajadah untuk shalat.  (Bersambung).(KONF/BW)

 


 

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...