20 August 2019

Mengerikan! 52 Kilogram Sabu Dikonsumsi Warga Ibu Kota Setiap Hari, 1 Tahun Berapa Ton?

KONFRONTASI - Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DKI Jakarta, Tagam Sinaga menyebutkan DKI Jakarta merupakan kota dengan tingkat konsumsi narkoba terbesar di Indonesia. Diperkirakan, terdapat sebanyak 52 kilogram sabu beredar dan dikonsumsi pemadat setiap hari.

Besarnya jumlah peredaran narkoba jenis sabu tersebut diungkapkan Kepala BNNP DKI Jakarta, Tagam Sinaga berasal dari kajian yang dilakukan oleh Universitas Indonesia (UI) bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2016.

"DKI Jakarta adalah kota dengan konsumsi narkoba yang terbesar di seluruh Indonesia. Itu berdasarkan hasil penelitian dari UI dan BNN tahun 2016 yang dirilis pada tahun 2017. DKI menjadi nomor satu di Indonesia," ungkapnya kepada wartawan di kantor BNNP DKI Jakarta, Gedung Nyi Ageng Serang, Setiabudi, Jakarta Selatan pada Kamis (8/8/2019).

Sementara, jenis narkoba tertinggi diungkapkannya adalah narkotika jenis sabu dengan jumlah pengguna mencapai sebanyak 260.000 orang di wilayah Ibu Kota. Sehingga apabila dihitung, tingkat konsumsi sabu di DKI Jakarta mencapai 52 kilogram per hari.

Oleh karena itu, tidak hanya sebatas pengungkapan jaringan narkoba semata, pihaknya juga akan melakukan penelusuran terkait jaringan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Sehingga, akses bandar narkoba, khususnya yang berada dalam Lapas dapat ditekan.

"Langkah kita ke depannya kita akan mengungkap jaringan yang besarnya sekaligus juga mengungkap jaringan TPPU akan kita buat miskin itu bandar narkoba," jelasnya.

Internasional

Sementara terkait terkait dengan jaringan peredaran narkoba internasional, salah satunya terungkap dalam kasus peredaran narkoba jenis sabu seberat 1,113 kilogram yang dilakukan oleh BNNP DKI Jakarta.

Kepala Bidang Pemberantasan BNNP DKI Jakarta, Budi Setiawan, mengungkapkan, jaringan tersebut telah dipantau pihaknya lewat salah satu terpidana mati berinisial JN yang mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang sejak lama.

Dalam pemeriksaan lebih lanjut, diketahui sabu tersebut berasal dari Malaysia yang dikirimkan melalui jalur laut menuju Aceh yang diteruskan ke bandar besar di Jakarta. Diketahui, terdapat 20 kilogram sabu yang masih tersimpan dalam sebuah gudang di wilayah Ibu Kota.

"Barangnya itu dikirim dari Malaysia ke Aceh kemudian dibawa ke Jakarta. Dari penuturan JN diketahui ada barang 20 kilo di suatu gudang, itu masih kita cari," jelasnya.

Namun sayang, ketika JN dibawa dari Lapas Cipinang untuk menunjukkan gudang barang terlarang itu, JN mencoba melarikan diri dari penjagaan petugas. Tembakan peringatan yang dilontarkan ke udara tidak digubris hingga akhirnya petugas mengambil tindakan tegas dengan menembak bagian punggung sebelah kiri JN hingga tewas.

Pengawasan Lemah

Terkait jaringan pengedaran narkoba di Lapas, dirinya menegaskan pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) serta pihak Lapas untuk menggelar razia gabungan.

"Kita akan buatkan rekomendasi, lewat rekomendasi akan kita buatkan gerakan bersama untuk melakukan razia bersama," jelasnya.

Sementara itu, lemahnya pengawasan di lapas, dinilai Pengamat Kebijakan Publik, Trubus Rahadiansyah, memjadi persoalan utama. "Persoalannya itu pengawasan di lapas yang lemah. Karena selama ini Dirjen Pas itu lebih bersifat elitis, bukan orang yang punya kompetensi di situ," ujarnya di Jakarta, Kamis (8/8/2019).

Bahkan, ia menyebut terjadi transaksi di lapas sehingga napi narkoba bisa memiliki sel yang istimewa. "Ini masalah yang umum, tapi Dirjen Pas seakan tutup mata. Oknum yang terlibat dipindahkan. Jadi, persoalan juga oknum-oknum sipir setor, terima suap. Itu jadi sumber masalah," tuturnya.(jft/haner)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...