21 June 2018

Huh, Polisi Tegas Terhadap Penghina Presiden Tapi Tidak Kepada Penghina Ulama

KONFRONTASI -   Koordinator Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KomTak) Lieus Sungkharisma memuji kesigapan aparat kepolisian yang langsung menangkap seorang pemuda etnis China penghina Presiden Joko Widodo dalam waktu tidak sampai 24 jam."Salut untuk aparat kepolisian yang sangat sigap bertindak," kata Lieus dalam keterangannya kepada redaksi, Kamis (24/5).

Belum lama ini viral sebuah video pendek tentang seorang pemuda keturunan China bertelanjang dada yang memaki-maki dan menyebut Jokowi sebagai kacungnya dan menantang Kepala Negara untuk menangkapnya dalam waktu 24 jam atau dia akan membunuh Presiden.

Video itu kontan saja mendapat banyak reaksi. Bersyukur polisi langsung bertindak. Tidak membutuhkan waktu lama, aparat kepolisian langsung menciduk pemuda tersebut.

Kesigapan aparat kepolisian itulah yang diapresiasi Lieus. "Kalau saja terhadap semua ujaran kebencian dan perbuatan penghinaan itu polisi bertindak cepat seperti itu, pastilah kejadian seperti ini tidak terus terulang," kata dia.

Sayangnya, tambah aktivis Tionghoa ini, tidak untuk semua ujaran kebencian dan perbuatan penghinaan itu polisi melakukannya.

"Terhadap laporan saya tentang penghinaan terhadap Habib Rizieq, sampai kini tidak jelas apa tindakan polisi. Padahal laporan itu sudah berbulan-bulan yang lalu saya lakukan," kata Lieus.

Jadi, tambah Lieus, tindakan kepolisian ini semakin menegaskan memang ada diskriminasi dalam penegakan hukum di negeri ini.

"Polisi akan bertindak cepat kalau korbannya adalah pihak penguasa atau pendukung penguasa. Sebaliknya akan bertindak sangat lamban kalau korbannya bukan dari pihak penguasa atau pendukung penguasa," ujar Lieus.

Dia mencontohkan, diskriminasi itu dirasakannya sendiri terkait laporannya tentang penghinaan terhadap Habib Rizieq yang tidak juga diproses meskipun sudah berbulan-bulan. Juga laporan masyarakat tentang penghinaan seorang warga China bernama David terhadap Tuan Guru Bajang serta laporan atas penghinaan yang dilakukan Sukmawati terkait kumandang azan.

"Semua laporan itu tak jelas kemana larinya," kata Lieus.

Namun demikian, lanjut Lieus, apapun motivasi dan alasannya, dia berharap masyarakat menghentikan penyebaran ujaran kebencian ataupun cara-cara penghinaan melalui media sosial ini. "Jangankan kepada kepala negara, terhadap sesama rakyat pun hal itu tidak boleh dilakukan," ujarnya.

Ditambahkannya, kalau memang kita tidak suka dengan Presiden atau partai yang berkuasa sekarang, maka cara terbaik untuk menunjukkan ketidaksukaan itu adalah jangan pilih lagi presiden dan partai itu pada pemilu dan pilpres 2019 mendatang.

"Tidak boleh dengan cara menyebarkan ujaran kebencian seperti yang dilakukan pemuda Cina tersebut," demikian Lieus Sungkharisma.(KONF/RMOL)

Category: 
Loading...